Kisah Brigpol Yusra: Polwan dari Aceh Tenggara Jadi Guru Ngaji Sukarela dan Cerita di Balik Bencana
January 15, 2026 07:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Di bawah cahaya lampu temaram, sebuah balai kayu sederhana berukuran 3x5 meter berdiri tenang di malam yang hening. 

Dindingnya terbuka. Angin masuk bersama iringan suara serangga yang bersahut-sahutan.

Anak-anak duduk bersila di lantai kayu dengan Iqra’ kecil di tangan mereka. Huruf demi huruf hijaiyah mereka baca, halaman demi halaman dibuka dengan penuh suka cita.

Di hadapan mereka, seorang guru ngaji yang masih mengenakan seragam dinas Polri, mengajar dengan suara lembut namun penuh keteguhan. 

Guru ngaji tersebut adalah Brigpol Yusra Sempurna, seorang Polisi Wanita (Polwan) yang saat ini berdinas di Kepolisian Sektor (Polsek) Badar, Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh.

Yusra, begitu Ia biasa disapa, telah menjadi anggota Polri sejak 2014.

Sudah tujuh tahun ini, di sela-sela bertugas, Yusra menyempatkan diri menjadi guru ngaji bagi anak-anak di desa. Kegiatan mengaji biasa dimulai selepas Magrib hingga setelah Isya.

"Saya mulai mengajar ngaji sejak tahun 2018, kalau dulu sebelum saya punya anak, hampir setiap hari mengajar ngaji kecuali malam Minggu, kalau sekarang karena jadwal yang lumayan padat saya buat seminggu tiga kali," ungkap Yusra saat diwawancarai Tribunnews.com, Kamis, 15 Desember 2025.

POLWAN NGAJAR NGAJI - Brigpol Yusra Sempurna menjadi guru ngaji di sebuah balai sederhana yang terbuat dari kayu di Desa Batumbulan, Kecamatan Babussalam, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh. Kegiatan itu dilakukan selepas Magrib di sela-sela tugasnya sebagai seorang Polwan.
POLWAN NGAJAR NGAJI - Brigpol Yusra Sempurna menjadi guru ngaji di sebuah balai sederhana yang terbuat dari kayu di Desa Batumbulan, Kecamatan Babussalam, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh. Kegiatan itu dilakukan selepas Magrib di sela-sela tugasnya sebagai seorang Polwan. (Tribunnews.com/IST)

Ya, semangat Yusra untuk menjadi guru ngaji tidak luntur meski dirinya juga seorang ibu rumah tangga dan ibu dari tiga anak. 

Yusra merupakan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) yang bertugas di Desa Deleng Megakhe, Desa Tanah Merah, dan Desa Salang Alas. Ketiga desa itu berada di Kecamatan Badar.

Sementara tempat Ia mengajar ngaji berada di Desa Batumbulan, Kecamatan Babussalam, yang merupakan kampung halamannya sekaligus rumah orang tuanya.

Baca juga: Pembangunan 1.606 Unit Hunian Sementara di Aceh dan Tapsel Rampung Sebelum Ramadan

Hati Yusra tergerak saat melihat banyak anak-anak di desanya tidak bisa mengaji.

“Saya tanya kenapa? Ada yang terbentur biaya. Jadi saya pikir mumpung saya ada juga sedikit ilmu, saya bagi lah ilmu saya dengan anak-anak,” ungkapnya.

Bak gayung bersambut. Keinginan Yusra mengajar ngaji anak-anak mendapat dukungan dari suami, orang tua, dan pimpinan.

“Alhamdulillah saya mendapat dukungan suami, orang tua, dan didukung Kasat Binmas saya, Bapak Kapolres, Bapak Kapolda juga mendukung kegiatan saya,” ungkapnya.

Jarak tempat mengajar ngaji dengan rumah Yusra dapat ditempuh dalam perjalanan 5 menit.

Awalnya, lokasi mengaji berada di dalam rumah orang tua.

Tetapi, demi kenyamanan anak-anak yang ingin belajar, ayahanda Yusra membuatkan balai sederhana itu. Biarpun terbuat dari papan kayu, namun tekad keteguhan hati Yusra mengokohkannya.

“Yang aktif sekarang mungkin ada delapan sampai sepuluh anak, saya tidak memungut biaya saat mengajar ngaji, karena saya terpanggil, ada ilmu yang bisa saya bagi,” ungkapnya.

Yusra diketahui sempat mengenyam pendidikan pesantren saat di bangku SMP.

POLWAN NGAJAR NGAJI - Brigpol Yusra Sempurna menjadi guru ngaji di sebuah balai sederhana yang terbuat dari kayu di Desa Batumbulan, Kecamatan Babussalam, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh. Kegiatan itu dilakukan selepas Magrib di sela-sela tugasnya sebagai seorang Polwan.
POLWAN NGAJAR NGAJI - Brigpol Yusra Sempurna menjadi guru ngaji di sebuah balai sederhana yang terbuat dari kayu di Desa Batumbulan, Kecamatan Babussalam, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh. Kegiatan itu dilakukan selepas Magrib di sela-sela tugasnya sebagai seorang Polwan. (Tribunnews.com/IST)

Background Keluarga Pendidik 

Lulusan Sarjana Hukum dari Universitas Pembangunan Panca Budi Medan itu menceritakan, keinginannya untuk mengajar ngaji mungkin tidak terlepas dari latar belakang keluarga pendidik.

“Suami saya dosen, ayah dulu pengajar, mamak juga masih menjadi guru Madrasah Aliyah (MA). Adik-adik saya juga guru.”

“Jadi karena orang tua pengajar, suami juga pengajar, ditambah dukungan dari pimpinan, saya tergerak untuk terus menjadi guru ngaji bagi anak-anak. Saya menjadi tambah bersemangat,” ujar Yusra.

Menjadi anak pertama dari empat bersaudara, Yusra merupakan satu-satunya anggota Polri di keluarganya.

“Adik saya yang nomor dua laki-laki sebagai pengacara di PN Jakarta Pusat. Adik saya perempuan pengajar, dan yang paling kecil saat ini mengambil kuliah kesehatan,” ungkapnya.

Perjuangan Menjadi Polwan

Kembali mengenang di tahun 2014, perjalanan Yusra menjadi Polwan dimulai.

Saat itu, Yusra memiliki keinginan menjadi seorang Polisi dan menyampaikan keinginan itu kepada mamak, begitu Ia memanggil sang Ibunda.

“Saya ingin jadi polisi karena kebetulan keluarga tidak ada yang Polisi, beredar cerita di masyarakat itu kalau mau masuk Polisi harus bayar, jadi saya bilang ke mama, ikut Polwan boleh?” ungkap Yusra mengenang momen itu.

“Ah enggak usah, nanti nyogok aku enggak punya uang,” ungkap Yusra menirukan jawaban mamak.

“Kalau seandainya enggak bayar mamak merestui?” tanya Yusra.

“Boleh, kalau enggak bayar, mamak restui Yusra mendaftar Polisi, pergilah,” ungkap Ibunda Yusra saat itu.

Setelah mengantongi restu orang tua, Yusra kemudian menyiapkan berkas-berkas pendaftaran. Semua dilakukan sendiri.

“Sampai ketika saya mau minta nilai rapor, saya sudah di Banda Aceh karena harus ke Provinsi, saya telepon mama untuk minta tolong untuk mencarikan nilai rapor. Cuma itu mamak yang bantu, selain itu semua saya urus sendiri,” ungkap Yusra.

Perjalanan dari Kabupaten Aceh Tenggara menuju Banda Aceh tidak dekat.

Dari Kutacane yang merupakan pusat Kabupaten Aceh Tenggara ke Banda Aceh membutuhkan waktu lebih dari 18 jam perjalanan.

Perjuangan dan tekad Yusra berbuah manis setelah diterima menjadi anggota Korps Bhayangkara.

“Alhamdulilah murni tanpa biaya, gratis. Dan itu mematahkan isu yang beredar di lingkungan saya kalau masuk Polisi itu harus bayar (menyogok),” ungkap Yusra.

“Saya masuk polisi murni dari usaha dan doa orang tua serta keluarga. Dan nilai ketika tes itu langsung keluar setelah tes jadi tidak ada celah untuk suap, ini yang saya alami sendiri,” tambahnya.

Peran Seorang Ibu dan Polwan

Sudah hampir 12 tahun Yusra menjadi anggota Polri. Dari masih lajang hingga kini dikarunia tiga orang anak berusia 6 tahun, 5 tahun, dan 1 tahun.

Yusra mengaku senang mengemban tugasnya sebagai anggota Polri. 

“Sukanya banyak menyenangkan, teman-teman di sini kompak, tidak terlalu memberatkan, semua dikerjakan bersama,” ungkap Yusra.

Selama dia menjadi Polwan, Ia juga selalu mendapat pimpinan yang memahami kondisi Yusra sebagai seorang Ibu.

“Pimpinan alhamdulillah selalu mengerti, saya terbantu saat saya punya bayi, jadi tidak terlalu memforsir tugas sampai malam, tiga anak saya, saya berikan ASI eksklusif semua,” ujar Yusra.

Suami juga memberi dukungan sepenuhnya untuk Yusra.

“Bahkan misal ada tugas malam, suami saya ikut menemani,” kata dia.

Tetapi, ada kesedihan yang Yusra rasakan. Terutama berkaitan dengan sang buah hati.

“Kadang anak-anak masih tidur sudah saya tinggalin. Kalau saya sampai rumah, disambut lompat-lompat, mereka bilang rindu mengapa saya tidak pulang-pulang,” ungkap Yusra haru sambil menyeka air mata.

Tetapi, Yusra menganggap hal itu sebagai bagian dari profesionalitas seorang Polisi. Ada tugas yang harus diutamakan.

Sebagai seorang Polisi, Yusra mengaku harus selalu stand by apabila ada masyarakat yang membutuhkan pelayanan.

“Saya di Polsek bisa dikatakan paling junior, saya banyak belajar dari senior-senior saya. Kadang ada yang mengajak bertugas menangkap saya berangkat.”

“Sebagai Bhabinkamtibmas, walau saat malam ada warga yang membutuhkan, saya tetap datang walau sampai jam 02.00 malam ditelepon saya Insya Allah hadir, harus siap 24 jam,” ungkap Yusra dengan tegas.

Cerita di Balik Bencana Banjir Aceh

KAYU MENUMPUK - Material banjir bandang batu dan kayu gelondongan menumpuk di lokasi banjir bandang Kecamatan Ketambe, Aceh Tenggara, Kamis (8/1/2026). Material bebatuan dan tanah masih menempel di pemukiman penduduk.
KAYU MENUMPUK - Material banjir bandang batu dan kayu gelondongan menumpuk di lokasi banjir bandang Kecamatan Ketambe, Aceh Tenggara, Kamis (8/1/2026). Material bebatuan dan tanah masih menempel di pemukiman penduduk. (Serambinews.com/Asnawi Luwi)

Kabupaten Aceh Tenggara menjadi salah satu daerah yang terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir November 2025.

Tempat Yusra berdinas, Polsek Badar, menaungi tiga wilayah kecamatan. Yaitu Kecamatan Badar, Kecamatan Deleng Pokhisen, dan Kecamatan Ketambe.

Yusra menceritakan, Kecamatan Ketambe menjadi wilayah yang terdampak parah banjir.

“Tempat saya berdinas ada Kecamatan Ketambe yang paling terdampak, kondisinya bisa dikatakan parah karena ada akses jalan utama yang sempat terputus total,” ungkapnya.

Bahkan, Desa Simpur Jaya di Kecamatan Ketambe sempat terisolasi.

“Sangat-sangat miris melihat kondisi saat itu. Di Desa Simpur Jaya sampai terputus tidak ada akses jalan sama sekali. Kalau mau ke sana harus memutar melewati gunung,” ujarnya.

“Banyak rumah warga yang hanyut, ada korban jiwa, termasuk Pesantren Badrul Ulum yang rubuh total hilang diterjang banjir bandang,” ujarnya.

BANTU WARGA - Seorang Polisi Wanita (Polwan) dari Polres Aceh Tenggara membersamai para korban banjir dan tanah longsor di Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, beberapa waktu lalu. Mereka membantu masyarakat yang membutuhkan hingga memberikan trauma healing kepada anak-anak korban bencana.
BANTU WARGA - Seorang Polisi Wanita (Polwan) dari Polres Aceh Tenggara membersamai para korban banjir dan tanah longsor di Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, beberapa waktu lalu. Mereka membantu masyarakat yang membutuhkan hingga memberikan trauma healing kepada anak-anak korban bencana. (Tribunnews.com/IST)

Setidaknya 11 orang di wilayah Polsek Badar meninggal dunia akibat bencana tersebut.

Yusra dan para Polwan dilibatkan oleh Kapolres Aceh Tenggara untuk turun ke daerah lokasi banjir membantu masyarakat.

Mereka turut serta dalam proses evakuasi dan menjaga keamanan masyarakat.

Ada momen menyedihkan yang diingat Yusra.

Saat itu, para Polwan mengumpulkan donasi dan dalam perjalanan memberikan bantuan di lokasi terdampak.

Pada saat dalam perjalanan, ada bayi berusia 4-5 bulan yang sedang sakit, digendong oleh ibunya.

Tidak ada kendaraan. Jalan utama terputus.

“Mereka berjalan mau ke Kutacane Aceh Tenggara, kami sempat tanya dia bilang enggak ada kendaraan, harus melewati gunung dan meminta bantuan ke rumah sakit,” ungkapnya.

Petugas kemudian membawa ibu dan anak bayi tersebut ke rumah sakit.

Peristiwa itu menjadi satu dari berbagai kesedihan yang disaksikan langsung oleh Yusra dan para Polwan di sana.

Upaya Trauma Healing bagi Anak-anak

POLWAN PEDULI - Sejumlah anggota Polisi Wanita (Polwan) dari Polres Aceh Tenggara membersamai anak-anak korban bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Aceh Tenggara, beberapa waktu lalu. Mereka membantu masyarakat dan berupaya melakukan trauma healing pada anak-anak.
BHAYANGKARI PEDULI - Sejumlah anggota Polisi Wanita (Polwan) dari Polres Aceh Tenggara membersamai anak-anak korban bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Aceh Tenggara, beberapa waktu lalu. Mereka membantu masyarakat dan berupaya melakukan trauma healing pada anak-anak. (Tribunnews.com/IST)

Yusra dan para Polwan dari Polres Aceh Tenggara turun ke lokasi banjir juga memberikan pelayanan bagi masyarakat, seperti menghibur anak-anak korban banjir.

Upaya trauma healing dilakukan untuk memulihkan kondisi psikologis, dampak emosional akibat peristiwa bencana banjir dan tanah longsor.

“Kami berupaya agar anak-anak tidak trauma, kami ke sana menghibur dan membawa jajanan. Kami menghibur anak-anak dan memberi penjelasan apabila hujan turun agar menghindari area rawan longsor dan aliran air,” ungkapnya.

TRAUMA HEALING - Anggota Polwan bersama Polres Aceh Tenggara menggelar kegiatan trauma healing pada anak-anak korban banjir di Kecamatan Ketambe, Aceh Tenggara. 
TRAUMA HEALING - Anggota Polwan bersama Polres Aceh Tenggara menggelar kegiatan trauma healing pada anak-anak korban banjir di Kecamatan Ketambe, Aceh Tenggara.  (Tribunnews.com/IST)

Di antara puing-puing rumah, bongkahan kayu, lumpur, dan tanah basah, anak-anak tampak berusaha terlihat ceria. Meskipun sorot mata tidak bisa dipungkiri, ada duka yang terasa nyata.

Ada pakaian mereka yang bernoda lumpur, mulai mengering.

“Kami melihat anak-anak kelaparan, ketika kami hanya membawa roti, mereka sangat senang.”

“Mereka bercerita kalau kelaparan, cerita kalau rumahnya sudah tidak ada, tidak bisa menghubungi keluarga dan kerabat karena jaringan internet terputus,” ungkap Yusra.

Keadaan menjadi membaik setelah internet mulai pulih.

“Mereka bilang kepada sanak saudara mereka melalui panggilan, mereka bilang baik-baik saja, padahal mereka tidak baik-baik saja,” ujar Yusra dengan suara bergetar.

Hati Yusra tersayat saat mengingat bagaimana para anak-anak bercerita saat banjir melanda.

“Mereka cerita lari ke gunung saat banjir, padahal di sana juga berpotensi longsor. Mereka dua hari tidak makan saat menyelamatkan diri ke gunung dan hanya minum air hujan,” kenang Yusra.

BHAYANGKARI PEDULI - Suasana tenda pengungsian yang dipenuhi anak-anak korban bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Aceh Tenggara, beberapa waktu lalu. Sejumlah anggota Polisi Wanita (Polwan) dari Polres Aceh Tenggara membersamai mereka dalam kegiatan Bhayangkari Peduli.
BHAYANGKARI PEDULI - Suasana tenda pengungsian yang dipenuhi anak-anak korban bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Aceh Tenggara, beberapa waktu lalu. Sejumlah anggota Polisi Wanita (Polwan) dari Polres Aceh Tenggara membersamai mereka dalam kegiatan Bhayangkari Peduli. (Tribunnews.com/IST)

Dari Aceh Tenggara, Brigpol Yusra Sempurna membawa cerita bagaimana di tengah kesibukan tugas, Ia memilih berjalan ke arah yang sunyi, mengajar ngaji tanpa upah, mendampingi tanpa sorotan. 

Di hadapan anak-anak desa dan korban banjir serta tanah longsor, Yusra tak datang sebagai aparat, melainkan sebagai sosok yang menghadirkan rasa aman dan harapan. (*)

(Tribunnews.com/Wahyu Gilang Putranto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.