TRIBUN–SULBAR.COM, MAMUJU TENGAH - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, terus melakukan koordinasi intensif menangani ancaman erosi parah di tepian sungai Desa Pangalloang, Kecamatan Topoyo.
Kondisi tersebut dinilai semakin kritis dan berpotensi memutus akses jalan utama serta mengancam keselamatan pemukiman warga.
Hamka, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Mamuju Tengah, menjelaskan, pendampingan terhadap kasus erosi ini telah dilakukan pihaknya sejak tahun 2022.
Baca juga: Seret Nama 2 Eks Wakil Bupati Polisi Periksa 19 Saksi 3 Calon Tersangka Kasus Lahan di Majene
Baca juga: Investor Asal China Mau Masuk ke Sulbar Pemprov Wajibkan Rekrut Pekerja Lokal
Proses koordinasi telah berjalan dari era penanganan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) III Palu hingga sekarang dialihkan ke otoritas BWS V Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah.
"Harapan kami, di tahun 2026 ini, penanggulangan segera direalisasikan," jelas Hamka ditemui di Kantor BPBD Mateng, Jl Daengna Maccerinnai Benteng, Desa Tobadak, Kecamatan Tobadak, Kamis (15/1/2026).
Penanggulangan bisa berupa pembangunan bronjong batu gajah atau struktur penahan tebing lainnya.
Namun, realisasi penanganan teknis hingga saat ini masih terhambat.
Berdasarkan koordinasi terakhir dengan BWS V Sulbar dan Sulteng, kendala utama yang dihadapi adalah masalah anggaran.
BWS sebagai pelaksana teknis harus membagi alokasi dana untuk menangani persoalan serupa di berbagai kabupaten lainnya di wilayah kerjanya.
"Semoga segera terealisasi tahun ini. Setidaknya, kini koordinasi menjadi lebih dekat karena BWS sudah berada di tingkat provinsi," tambah Hamka dengan nada optimis.
Ia menyampaikan kekhawatiran mendalam, terutama menyambut awal tahun 2026.
Jika banjir besar melanda daerah tersebut, diprediksi akses jalan dan sejumlah rumah warga sudah sangat dekat dengan tebing akan putus dan ambruk.
"Kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. Intervensi teknis yang cepat dan tepat sangat dibutuhkan untuk mencegah bencana yang lebih besar," ungkapnya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, erosi di Desa Pangalloang telah menggerus daratan hingga hanya berjarak hitungan meter dari beberapa rumah warga.
Sebelumnya, warga setempat seperti Yasir Syam (35) telah mengungkapkan kecemasan yang mendalam setiap kali hujan turun, karena tanah di bawah pondasi rumahnya terus terkikis arus sungai. (*)
Laporan wartawan Tribun Sulbar, Sandi Anugrah