Berikut ini hak jawab Aliansi Mahasiswa.
Baca juga: Akui Unjuk Rasa Anarkis Salah Aliansi Mahasiswa di Mamuju Minta Maaf, Teken Kesepakatan Kapolresta
Pertama, perlu kami tegaskan bahwa pertemuan silaturahmi dengan Bapak Kapolres Mamuju diselenggarakan oleh pihak Polres, bukan diinisiasi oleh mahasiswa. Dalam pertemuan tersebut, mahasiswa hadir untuk menyampaikan dan mengadukan berbagai tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum kepolisian dalam pengamanan aksi demonstrasi.
Namun sangat disayangkan, pengaduan tersebut tidak mendapatkan tanggapan yang jelas dan serius dari pihak Polres.
Kedua, alasan kami memilih mundur satu langkah bukan karena mengakui tuduhan aksi anarkis, melainkan karena adanya teman-teman aliansi yang berada dalam tekanan dan seakan-akan disandera oleh Polresta, dengan dalih tuduhan aksi anarkis.
Kami cukup paham pola perlakuan aparat.
Ketika mahasiswa dituduh melakukan kekerasan, tanpa dasar yang jelas sekalipun, mereka langsung ditahan dan diperiksa.
Sebaliknya, ketika aparat kepolisian melakukan tindakan represif dalam dua aksi demonstrasi, tidak pernah ada proses hukum yang cepat dan transparan.
Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan dalam penegakan hukum.
Artinya, kami menilai bahwa kepolisian belum dapat diharapkan sebagai institusi yang benar-benar imbang dan profesional, serta belum sepenuhnya menjalankan prinsip bahwa semua warga negara sama di hadapan hukum.
Ketiga, kami menegaskan bahwa pertemuan tersebut adalah pertemuan perdamaian, dengan tujuan membangun sinergitas yang baik antara mahasiswa dan aparat, sekaligus mengawal keadilan di Kabupaten Mamuju, bukan untuk mengakui kesalahan yang tidak kami lakukan.
Oleh karena itu, jika ada media yang terus mencoba menggiring opini, memprovokasi, atau memelintir fakta, maka hal tersebut patut dipertanyakan independensi dan integritasnya.
Kami akan tetap berdiri pada prinsip perjuangan, mengawal keadilan, dan membela hak-hak demokratis mahasiswa serta masyarakat.
Demikian pernyataan ini kami sampaikan.
Terima kasih.
Muh. Kadri