TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Inilah kisah pemuda bernama Syafiq Ali. Ia meninggal dunia di Gunung Slamet.
Kisah kehilangannya viral di media sosial.
Terlebih, Syafiq hilang sudah memakan waktu hingga lebih dari dua minggu.
Namun setelah dilakukan pencarian berhari-hari, Syafiq Ali ditemukan tak bernyawa.
Simak ulasan dari TribunnewsSultra.com, dikutip dari Tribunnews.com:
Syafiq adalah seorang pemuda yang masih duduk di bangku sekolah.
Ia tercatat sebagai siswa kelas XII SMAN 5 Kota Magelang.
Pendakiannya di Gunung Slamet tak sendirian.
Namun bersama dengan temannya, Himawan Choidar Bahran, warga Secang, Kabupaten Magelang.
Baca juga: Profil Mbok Yem Sang Legenda Gunung Lawu yang Akan Dirindukan Para Pendaki, Kabar Kepergian Viral
Pemuda dengan nama lengkap Syafiq Ridhan Ali Razan itu mendaki pada Sabtu, 27 Desember 2025.
Keduanya memilih jalur Dipajaya melalui Basecamp Dipajaya, Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.
Jalur Dipajaya ini adalah jalur pendakian Gunung Slamet yang dikenal sebagai jalur alternatif.
Biasanya, jalur ini lebih pendek dari jalur populer Bambangan.
Tak hanya itu, ada sebuah fakta di balik kepergian Syafiq mendaki.
Ia ternyata izin ke orangtuanya untuk melakukan pendakian di Gunung Sumbing.
Namun, fakta baru diketahui ketika keluarga menerima foto Syafiq dari Basecamp Dipajaya yang menunjukkan ia berada di Gunung Slamet.
Menurut kakak kandung korban, Naufal Hisyam, Syafiq sempat mengabarinya.
Ia menyampaikan bahwa pendakian dilakukan secara tektok atau naik-turun dalam satu hari dan berencana turun pada Minggu sore.
Hingga Minggu malam, keluarga tidak menerima kabar lanjutan.
Setelah dilakukan pengecekan, KTP dan sepeda motor Syafiq diketahui masih berada di basecamp, sementara keberadaannya tidak diketahui.
Masih dalam rangkaian kronologi hilangnya Syafiq Ali, rencana pendakian berubah di tengah perjalanan.
Himawan mengalami cedera serius di bagian kaki sehingga tidak mampu melanjutkan perjalanan turun.
Dalam kondisi tersebut, Syafiq memutuskan turun gunung seorang diri untuk mencari bantuan.
Keputusan ini menjadi titik krusial yang kemudian membuat Syafiq terpisah dari rekannya.
Pada Senin, 29 Desember 2025, tim pengelola basecamp yang melakukan penyisiran cepat menemukan Himawan di sekitar Pos 9, sekitar 100 meter dari puncak Gunung Slamet.
Kondisi Himawan saat itu sangat lemah dan segera dievakuasi.
Dari keterangan Himawan, diketahui bahwa Syafiq sempat turun untuk mencari pertolongan.
Pada hari yang sama, Syafiq resmi dinyatakan hilang dan operasi pencarian besar-besaran pun dimulai.
Tahapan selanjutnya dalam kronologi hilangnya Syafiq Ali adalah pelaksanaan operasi SAR. Hingga Sabtu, 3 Januari 2026, sebanyak 111 personel gabungan dikerahkan.
Area pencarian diperluas hingga radius 5 kilometer dari titik terakhir korban diketahui.
Empat Search and Rescue Unit (SRU) disebar ke berbagai sektor, mulai dari jalur Gunung Malang, Pos 6 hingga Pos 5, arah Basecamp Cemoro Sakti, hingga jalur Pos 4 menuju Pos 3.
Namun, pencarian tidak berjalan mudah. Cuaca ekstrem di kawasan puncak Gunung Slamet menjadi kendala utama. Kabut tebal, hujan, dan medan terjal menghambat pergerakan tim SAR gabungan. Meski demikian, pencarian terus dilakukan dengan harapan menemukan tanda-tanda keberadaan Syafiq.
Setelah dua pekan pencarian tanpa hasil, operasi SAR resmi ditutup pada Rabu, 7 Januari 2026, dan dialihkan ke tahap pemantauan. Meski demikian, orang tua Syafiq tetap bertahan di sekitar Basecamp Dipajaya hingga Jumat, 9 Januari 2026.
Pada tanggal tersebut, relawan memutuskan melanjutkan pencarian secara mandiri melalui jalur Bambangan Purbalingga dan Baturraden Banyumas. Operasi pencarian melibatkan berbagai unsur, termasuk komunitas pencinta alam seperti Wanadri, Mayapada, UPL, MPA Unsoed, Wikupala, ABGI, Mapala Batik, Mapala Kanpas, serta dukungan Komunitas RAPI, Forkopimda, dan Forkopimcam Kecamatan Pulosari.
Koordinator Basecamp Bambangan menyatakan pencarian dilakukan atas dasar kemanusiaan dan tanggung jawab moral. Hingga Minggu, 11 Januari 2026, upaya tersebut belum membuahkan hasil. Namun, relawan tetap menyisir area sesuai pemetaan sebelumnya.
Puncak dari kronologi hilangnya Syafiq Ali terjadi pada Rabu, 14 Januari 2026.
Tim SAR gabungan menemukan Syafiq pada pukul 10.22 WIB di jalur punggungan Gunung Malang, kawasan Batu Watu Langgar, lereng selatan Gunung Slamet.
Informasi tersebut disampaikan Kepala Desa Clekatakan, Sutrisno, yang menyebut korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Ia menyebutkan, jenazah Syafiq ditemukan pada pukul 10.22 WIB oleh tim SAR gabungan dalam operasi pencarian tahap II. "Kami sampaikan bahwa survivor atas nama Ali Syafiq telah diketemukan dalam kondisi MD atau meninggal dunia," ujar Sutrisno dikutip dari Wartakotalive.com
Penemuan ini merupakan hasil pencarian hari ke-17 sejak Syafiq dinyatakan hilang.
Lokasi penemuan dikenal memiliki kontur medan yang sangat terjal dan berbahaya.
Dengan ditemukannya Syafiq dalam kondisi meninggal dunia, operasi pencarian resmi dinyatakan selesai dan dilanjutkan dengan proses evakuasi jenazah.
Pemerintah desa dan BPBD Kabupaten Pemalang menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga almarhum.
Tragedi ini menjadi penutup duka dari kronologi hilangnya Syafiq Ali sekaligus pengingat keras akan risiko pendakian gunung. (*)
(Grid.id)(TribunnewsSultra.com/Desi Triana)