TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Kisah nyata dari pengalaman pelik child grooming yang dialami Aurelie Moeremans bakal diagendakan untuk dibahas khusus di rapat Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.
Hal ini adalah salah satu efek atau dampak yang terjadi setelah buku Broken Strings yang ditulis Aurelie Moeremans rilis dan viral di media sosial.
Aurelie menceritakan dirinya dimanipulasi oleh seorang pria dewasa yang usianya sangat jauh diatasnya.
Ia menjalin hubungan hingga toxic.
Aurelie tak bisa bebas dari kekangan pria tersebut.
Hingga banyak kejadian terjadi, membuat Aurelie begitu sulit terlepas.
Sampai berujung pada pernikahan yang dipaksakan, juga tertulis dalam buku Broken Strings.
Baca juga: Aurelie Moeremans Bahagia Usai Tahu Kasus Child Grooming saat Dirinya Remaja Dibahas Khusus di DPR
Agenda rapat khusus pembahasan child grooming ini disambut baik Aurelie.
Ia mengetahui dari postingan di media sosial mengenai kabar DPR akan membahas child grooming yang dialaminya.
Aurelie Moeremans nampaknya mengetahui hal tersebut.
Dalam broadcast pribadi di Instagram, Aurelie mengungkapkan bahwa ia senang dengan kabar pembahasan tersebut berkat buku Broken Strings.
"Aurelie kecil senang banget ini," sampai menyertakan postingan Rieke Diah Pitaloka yang mengunggah video dirinya berbicara soal child grooming Aurelie dikutip, Kamis (15/1/2026).
Dikutip dari Kompas.com, Komisi XIII DPR RI berencana menggelar rapat khusus untuk membahas dugaan kasus child grooming yang diungkapkan artis Aurelie Moeremans.
Rencana tersebut disampaikan Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komnas Perempuan dan Komnas HAM di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (15/1/2026).
“Oke. Kita akan melakukan RDP terhadap child grooming, undang saja kita beberapa pihak terkait. Atau RDPU ya? Oke,” ujar Willy dalam rapat tersebut.
Sebelum mengambil keputusan, Willy pun menanyakan kepada Komnas Perempuan apakah pihak menerima pengaduan resmi mengenai dugaan kasus child grooming tersebut.
“Eh tunggu, ini teman-teman Komnas Perempuan dapat pengaduan child grooming?” tanya Willy.
Ketua Komnas Perempuan Maria Ulfah Ansor merespons bahwa hingga saat ini belum ada laporan resmi yang diterima secara khusus.
“Secara khusus izin menyampaikan, secara khusus kami belum menerima laporannya, tetapi tadi malam saya wawancara dengan SCTV dan ya, terkait child grooming dari perspektif…” ujar Maria.
Setelah mendengar jawaban itu, Willy langsung mengarahkan agar pembahasan kasus tersebut dilakukan secara khusus melalui rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan melibatkan berbagai pihak terkait.
“Oke gini, kita khusus saja Bu Rieke ya. Jadi nanti kita bikin RDPU, bahkan kita bisa juga undang Kementerian Perempuan dan Anak, Polisi, dan segala macam. Jadi kita rapat gabungan saja ya khusus dengan child grooming ini. Cocok?” kata Willy.
Para peserta rapat pun menyatakan persetujuan atas usulan tersebut.
“Oke, baik, itu catatan untuk Komisi XIII ya,” ujar Willy.
Hal ini menjadi pertanyaan, karena Roby mengakui telah menjalin hubungan dengan Aurelie.
Meski ia membantah bahwa sosok Bobby dalam karakter di buku Broken Strings adalah dirinya.
Nama Roby Tremonti kembali menjadi perhatian publik di tengah viralnya buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans.
Dalam buku itu, Aurelie menyamarkan sosok terduga pelaku dengan nama “Bobby”.
Namun, ciri-ciri yang dipaparkan dinilai publik mengarah kuat pada Roby Tremonti, mengingat keduanya pernah memiliki hubungan asmara yang kontroversial di masa lalu.
Seiring beredarnya potongan kisah dan interpretasi pembaca, nama Roby pun terseret ke pusaran spekulasi.
Di tengah tekanan opini publik, Roby sempat muncul ke hadapan publik untuk memberikan klarifikasi.
Ia dengan tegas membantah adanya kekerasan, pelecehan, maupun ancaman seperti yang dispekulasikan.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @robytremonti, pria berusia 45 tahun ini pun menyinggung soal kebenaran di tengah derasnya opini.
Ia menilai bahwa pada akhirnya fakta akan berbicara dengan caranya sendiri.
“Kebenaran akan mencari jalannya sendiri,” tulis Roby, dikutip Tribunnews, Kamis (15/1/2026).
Sebelumnya, Roby secara tegas membantah melakukan kekerasan kepada Aurelie.
Bahkan ia menantang pemain sinetron 'Mantan Tapi Menikah' itu menunjukkan bukti adanya kekerasan dari dirinya.
Roby juga mempertanyakan sikap Aurelie yang tidak lapor ke pihak kepolisian saat menerima kekerasan.
"Ya, buktikanlah," ucap Roby, dikutip dari YouTube Reyben Entertainment, Rabu (14/1/2026).
"Buktikan, mau menyebarkan foto telanjang sampai saat ini buktinya mana? Kenapa enggak lapor polisi?" lanjutnya.
Disinggung soal komunikasi dengan artis yang kini menetap di Amerika Serikat itu, Roby Tremonti merasa tak perlu melakukannya.
"Kalau saya berusaha menghubungi kan akan digoreng lagi."
"Apapun yang saya mau konfirmasi pasti akan digoreng. Jadi tidak perlu menurut saya," jelas aktor kelahiran Jakarta, 30 Oktober 1980 ini.
Hal ini bermula saat, Anggota DPR RI Rieke Diah Pitaloka membahas mengenai kisah child grooming yang menimpa artis Aurelie Moeremans di rapat Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.
Rieke Diah Pitaloka sampai emosional membahas insiden yang dialami Aurelie kecil saat berusia 15 tahun.
Hal itu disampaikan Rieke dalam rapat dengar pendapat Komisi XIII DPR RI di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (15/1/2025).
Child grooming merupakan pendekatan manipulatif yang dilakukan orang dewasa dengan tujuan melakukan kejahatan seksual terhadap anak atau remaja di bawah umur.
Tindakan ini dinilai tak bermoral dan menyimpang.
Bahkan punya ketimpangan relasi kuasa antara orang dewasa matang dan mandiri dengan anak ataupun remaja di bawah umur.
Kembali ke rapat DPR RI, Rieke mengungkit kasus child gromming yang sedang ramai di media sosial.
Ia mengungkapkan bahwa kasus child grooming ini masih sangat tabu di Indonesia.
Politikus PDI Perjuangan itu lalu menyebut nama Aurelie Moeremans yang mengeluarkan e-book berjudul Broken Strings.
"Bagaimana masa mudanya dihancurkan bukan hanya dirampas dan ini memoar yang terindikasi kisah hidup yang nyata dan ini bisa terjadi dengan siapa saja juga kepada anak-anak kita," kata Rieke dikutip TribunJakarta.com dari akun instagram Rieke Diah Pitaloka, Kamis (15/1/2026).
Rieke mengatakan pemerintah serta lembaga negara terkait seharusnya bersuara mengenai kasus tersebut.
Bahkan, Rieke mengaku belum mendengar pernyataan dari Komnas HAM dan Komnas Perempuan terkait kasus tersebut.
Padahal, kata Rieke, kasus itu telah menjadi perhatian internasional. Rieke menyebutkan bahwa child gromming merupakan tindak pidana yang berdiri sendiri.
"Modusnya sistematis ketika pelaku membangun kedekatan emosional, kepercayaan dan ketergantungan dengan anak atau remaja, tujuan akhir adalah kekerasan atau eksploitasi sosial atau seksual," kata Rieke.
"Maaf agak emosional ini bisa terjadi loh pada anak-anak kita atau pada masa depan, sebenarnya kasusnya banyak di Indonesia, untung ada anak ini yang berani ngomong," sambungnya.
Rieke lalu menyinggung sosok yang terindikasi pelaku muncul di media sosial.
Terindikasi pelaku itu, kata Rieke, sedang melakukan pembelaan diri.
"Setiap hari, terus-terusan melakukan pembelaan diri seolah-olah normalisasi bagaimana kekerasan terhadap anak, ada pembujukan di situ, pernikahan, indikasi kekerassan seksual yang cukup sadis," kata Rieke.
"Maaf pimpinan, saya agak emosional karena ini bisa terjadi pada anak-anak kita. Ketika negara diam, ketika kita yang ada di posisi harusnya bersuara namun diam, masa depan anak-anak kita taruhannya. Saya belum mendengar ada suara dari Komnas HAM dan Komnas Perempuan secara utuh dan serius terhadap kasus ini," katanya.
Rieke memperingatkan, ada upaya normalisasi kekerasan seksual terhadap anak melalui narasi media sosial.
“Ada pembelaan seolah-olah ada normalisasi terhadap kekerasan terhadap anak melalui pembujukan, pernikahan, padahal ada indikasi kekerasan seksual yang cukup sadis di situ,” ujarnya.
Politikus PDI Perjuangan itu menekankan, tindakan seperti itu sangat berbahaya bagi generasi muda. (*)
(TribunJakarta.com)(TribunnewsSultra.com/Desi Triana)(Kompas.com)