Sakit Hati dengan Ucapan Mertua, Pengantin Wanita Tinggalkan Rumah Suaminya Sehari setelah Menikah
January 16, 2026 01:27 AM

TRIBUN-MEDAN.com - Seorang wanita memutuskan meninggalkan rumah suaminya sehari setelah menikah, setelah mengalami kejadian yang tak terduga pada malam pertama.

Peristiwa tersebut diceritakan oleh wanita itu dalam sebuah pengakuan tertulis yang menggambarkan bagaimana ia merasa tidak dihargai dan diperlakukan sebagai pilihan karena keterpaksaan.

Dikutip dari Eva.vn, Rabu (14/1/2026), wanita tersebut menuliskan kisahnya ketika sedang berada di dalam bus malam menuju rumah orang tuanya.

Ia memeluk perutnya yang telah memasuki bulan keempat kehamilan sambil menatap lampu jalanan yang membentuk garis-garis cahaya buram di luar jendela.

Dalam kondisi emosional yang masih terguncang, ia mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang ibu tunggal.

Ia menceritakan bahwa dirinya telah menjalin hubungan dengan seorang pria bernama Hung selama lebih dari satu tahun sebelum hamil. Hung dikenal sebagai pria yang pendiam dan baik, bekerja sebagai insinyur konstruksi.

Keluarga Hung menjalankan usaha mebel kayu yang cukup terkenal. Sementara itu, perempuan tersebut bekerja sebagai pegawai kantor dan menjalani kehidupan yang sederhana. Hubungan mereka digambarkan berjalan dengan tenang dan tanpa banyak gejolak.

Ketika mengetahui bahwa ia hamil, Hung segera membawanya untuk bertemu dengan keluarganya. Ibu Hung, yang bernama Lan, pada awalnya tampak ramah dan menyambut kehamilan tersebut dengan sikap yang terlihat positif.

Ia bahkan mengusap perut perempuan itu dan menyampaikan bahwa memiliki cucu merupakan hal yang baik. Pernikahan kemudian digelar secara sederhana, tanpa pesta besar dan hanya dihadiri keluarga dekat.

Perempuan itu menghibur dirinya dengan keyakinan bahwa yang terpenting adalah kasih sayang dalam rumah tangga, bukan kemewahan upacara.

Pada hari pernikahan, ibu mertuanya memberikan satu batang emas sebagai hadiah dan mengatakan bahwa jika usaha kayu keluarga mereka berhasil menjual barang-barang baru, ia akan membelikan beberapa perhiasan lain. Hadiah itu membuat perempuan tersebut merasa tersentuh dan menganggap dirinya beruntung.

Namun, suasana berubah drastis pada malam pertama pernikahan. Saat itu, Hung meminta istrinya untuk pergi ke kamar ibunya dengan alasan ingin minum bir bersama sebagai bentuk perayaan. Meskipun sempat merasa heran karena harus pergi ke kamar ibu mertua di malam pengantin, perempuan itu tetap menurut.

Di kamar tersebut, ibu mertua telah menyiapkan buah-buahan, makanan ringan, dan beberapa kaleng bir. Ia mengatakan bahwa keluarga mereka bertambah satu orang sehingga perlu dirayakan.

Ibu mertua minum bir dengan cepat, sementara perempuan itu hanya menyesap sedikit karena sedang hamil. Hung juga ikut minum bersama ibunya.

Awalnya suasana terlihat hangat, tetapi kemudian berubah ketika ibu mertua mulai berbicara dengan nada yang aneh akibat pengaruh alkohol. Ia menyebut mantan kekasih Hung, yang menurutnya sangat cantik dan telah menjalin hubungan sejak masa kuliah.

Ibu mertua mengatakan bahwa hubungan itu hampir berujung pada pernikahan, tetapi berakhir karena perempuan tersebut ingin pergi ke luar negeri.

Ibu mertua kemudian mengucapkan kalimat yang membuat perempuan itu terpukul. Ia mengatakan bahwa jika perempuan tersebut tidak hamil, ia sebenarnya tidak akan mengizinkan pernikahan itu, karena menurutnya menantu seharusnya adalah orang yang dipilih oleh dirinya. Pernikahan itu, menurutnya, hanya terjadi karena sudah ada cucu di dalam kandungan.

Tidak berhenti di situ, ibu mertua juga menyebut bahwa satu batang emas yang diberikan pada hari pernikahan adalah sebuah berkah dan tidak semua orang bisa diterima di keluarga tersebut.

Selama percakapan itu berlangsung, Hung hanya terdiam dan menunduk tanpa memberikan pembelaan.

Perempuan tersebut mengaku merasa harga dirinya seolah diukur dengan satu batang emas dan kehamilan yang sedang dijalaninya.

Ia meminta izin kembali ke kamar dan meskipun Hung mencoba menenangkan dengan mengatakan bahwa ibunya hanya berbicara karena mabuk, luka yang dirasakannya tidak bisa dihapus begitu saja.

Malam itu, ia tidak dapat tidur dan terus memikirkan masa depan dirinya dan anak yang dikandungnya.

Keesokan paginya, saat Hung masih tidur, ia bangun, meletakkan satu batang emas di atas meja beserta secarik kertas yang menyatakan bahwa ia tidak ingin hidup dalam pernikahan di mana dirinya hanya menjadi pilihan karena kehamilan.

Setelah itu, ia membawa koper dan meninggalkan rumah tanpa menoleh ke belakang.

Kini, dalam perjalanan menuju rumah ibunya, perempuan tersebut mengaku masih menangis, tetapi tidak menyesali keputusannya. Ia menyatakan bahwa langkah tersebut diambil demi menjaga harga diri dan demi masa depan anaknya agar dapat tumbuh dalam lingkungan yang menghormati ibunya.

 

(cr31/tribun-medan.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.