1.000 Pedagang Gulung Tikar, Pasar Terbesar di Tasikmalaya Terancam Mati Perlahan
January 16, 2026 08:35 AM

 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Jaenal Abidin 

TRIBUNPRIANGAN.COM, KOTA TASIKMALAYA - Pasar Cikurubuk, pasar tradisional terbesar di Kota Tasikmalaya, tengah menghadapi krisis serius.

Sekitar 1.000 pedagang pakaian dan sendal dilaporkan tutup permanen, meninggalkan deretan kios kosong dan aktivitas jual beli yang kian lesu.

Kondisi ini diungkap langsung oleh UPTD Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya, Kamis (15/1/2026).

Dari total 2.772 kios dan los yang berdiri di atas lahan seluas 4,4 hektare, hampir 30 persen tidak lagi beroperasi, terutama di Blok B-2.

“Ada sekitar 1.000 pedagang sudah tutup. Mayoritas pedagang pakaian dan sendal,” ujar Kepala UPTD Pasar Cikurubuk, Deri Herlisana, kepada TribunPriangan.com.

Baca juga: Pemcam Bungursari Tasikmalaya Bakal Rencanakan Pemindahan Rute Truk Tambang Pasir


Pasar Sepi, Pembeli Beralih ke Online dan Toko Modern

Penutupan massal pedagang bukan terjadi tanpa sebab.

Daya beli masyarakat menurun, tren belanja online meningkat, serta menjamurnya toko modern di sekitar pasar menjadi pukulan berlapis bagi pedagang tradisional.

Menurut Deri, persaingan usaha yang tidak seimbang membuat pasar kehilangan daya tarik.

“Usaha berdampingan ini seharusnya ada pengawasan. Kalau tidak, pasar tradisional bisa mati,” katanya.

Namun ironisnya, soal regulasi jarak toko modern dengan pasar tradisional, pihak UPTD mengaku belum mengetahui secara pasti dan masih harus berkoordinasi dengan dinas terkait.

 
Retribusi Naik, Pedagang Mengeluh Beban Bertambah

Di tengah sepinya pembeli, kenaikan retribusi pasar ikut menjadi sorotan.

Berdasarkan Perda Nomor 1 Tahun 2024, tarif retribusi kios yang menghadap jalan naik dari Rp300 menjadi Rp500 per meter, atau sekitar Rp200 ribu per bulan, tergantung ukuran kios.

Meski UPTD menilai angka tersebut masih wajar, para pedagang memiliki pandangan berbeda.

“Daripada terus keluar biaya, lebih baik tutup. Dagangan juga sepi,” ujar Ahmad Jahid, Ketua Himpunan Pedagang Pasar Tasikmalaya (Hippatas).

Ia menyebut, banyak kios sudah tutup sejak tiga tahun lalu, dan penutupan kembali terjadi di awal 2026.

Baca juga: FUIPA Tasikmalaya Gelar Audiensi Bareng DPRD Soal Kegiatan Ahmadiyah di Tasikmalaya

 
Kios Kosong, Papan ‘Dijual’ dan ‘Dikontrakan’ Berjejer

Pantauan langsung TribunPriangan.com di Blok B-II, suasana pasar tampak muram.

Puluhan kios tertutup rapat, sebagian dipasangi papan “Dijual” dan “Dikontrakan”.

Dari kios yang masih buka pun, hampir tak terlihat transaksi.

“Kios saya sudah tutup hampir tiga tahun,” kata Undang, pedagang pakaian setempat.

Ia menyebut sekitar 40 persen kios pakaian dan sendal di blok tersebut telah tutup.

Dua kios miliknya bahkan sudah tidak beroperasi dan sulit dikontrakkan karena minim peminat.

 
Fasilitas Buruk dan Jalan Rusak Jadi Biang Kerok

Selain persaingan dan retribusi, kondisi infrastruktur pasar dinilai ikut memperparah keadaan.

Jalan rusak, area becek, serta fasilitas umum yang kurang memadai membuat pembeli enggan datang.

“Jalannya rusak dan becek. Pembeli malas ke sini. Pemerintah jangan cuma naikkan retribusi,” tegas Undang.

UPTD sendiri mengakui bahwa faktor kenyamanan berpengaruh besar, apalagi mayoritas pengunjung pasar adalah usia lanjut, sementara generasi muda jarang datang ke pasar tradisional.

 
Pemkot Diminta Hadir, Jangan Biarkan Pasar Mati

Hippatas mendesak Pemerintah Kota Tasikmalaya segera turun tangan dan menghadirkan solusi nyata, bukan sekadar kebijakan administratif.

“Yang dibutuhkan pedagang itu pasar kembali ramai. Pembeli harus masuk ke dalam pasar, bukan belanja di luar,” tegas Ahmad Jahid.

Menurutnya, kondisi ini sudah lama diketahui UPTD dan dinas terkait, namun belum ada langkah konkret untuk menyelamatkan pedagang.

 
Penataan Dijanjikan 2026, Tapi Pedagang Menunggu Kepastian

UPTD Pasar Cikurubuk menyebut rencana penataan pasar pada 2026, termasuk perbaikan fasilitas umum dan sosial.

Namun hingga kini, proses masih terkendala status aset fasum dan fasos yang dimiliki pihak swasta dan belum dialihkan ke pemerintah.

Sementara rencana masih di atas kertas, pedagang satu per satu memilih angkat kaki.

Jika tak segera ditangani, Pasar Cikurubuk yang selama ini menjadi urat nadi ekonomi rakyat Tasikmalaya, dikhawatirkan hanya tinggal nama, pasar besar dengan kios kosong. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.