TRIBUNTRENDS.COM - Aktris Aurelie Moeremans kembali menyuarakan kepeduliannya terhadap para penyintas trauma dengan meluncurkan sebuah gerakan melalui media sosial.
Gerakan tersebut diberi nama #PutusTali, sebuah inisiatif yang ditujukan untuk mendorong para korban agar berani bersuara dan tidak lagi memendam luka sendirian.
Langkah ini diambil Aurelie setelah merilis buku digital berjudul Broken Strings, yang mengungkap pengalaman pribadinya sebagai korban grooming saat berusia 15 tahun.
Melalui karya tersebut, Aurelie tak hanya membuka kembali lembaran kelam masa lalunya, tetapi juga menemukan proses penyembuhan yang mendalam bagi kesehatan mentalnya.
Baca juga: Ibu Mertua Beri Dukungan ke Aurelie, Sebut Anaknya Beruntung Jadi Suaminya, Dia Anugerah Keluarga
“Aku menyadari satu hal setelah menulis Broken Strings.
Menulis pelan-pelan membantu aku sembuh, bukan karena semua lukanya langsung hilang, tapi karena akhirnya aku tidak diam lagi,” tulis Aurelie melalui kanal siaran akun Instagram pribadinya, Kamis (15/1/2026).
Sejak kisah itu dipublikasikan, Aurelie mengaku menerima begitu banyak pesan langsung dari para pengikutnya di media sosial.
Banyak dari mereka mengungkapkan pengalaman serupa dan merasa kisah dalam Broken Strings begitu dekat dengan perjalanan hidup mereka.
“Banyak sekali dari kalian yang mengirim pesan dan bilang bahwa kalian relate dengan Broken Strings, lalu berbagi kisah kalian sendiri.
Aku sangat berterima kasih atas kepercayaan itu.
Di saat yang sama, pesannya begitu banyak sampai aku tidak mungkin bisa membaca atau membalas semuanya satu per satu,” lanjutnya.
Melihat besarnya respons tersebut, Aurelie merasa perlu menghadirkan sebuah ruang bersama agar para penyintas dapat saling menguatkan dan tidak merasa sendirian dalam menghadapi trauma.
Dari situlah lahir gerakan #PutusTali, yang menurutnya memiliki makna mendalam.
“Aku memilih #PutusTali karena bagi aku, ini tentang melepaskan diri dari kendali, manipulasi, rasa takut, rasa bersalah, dan diam yang terlalu lama,” jelas istri Tyler Bigenho itu.
Melalui gerakan ini, Aurelie berharap tagar #PutusTali dapat menjadi sarana bagi para penyintas untuk meluapkan beban emosional yang selama ini terpendam.
Ia menegaskan bahwa keberanian untuk bercerita merupakan salah satu langkah penting dalam memutus rantai manipulasi dan ketakutan.
“Lewat hashtag ini, kita bisa saling membaca cerita satu sama lain, saling menguatkan, dan saling mengingatkan bahwa kita tidak sendirian,” tulisnya.
Meski demikian, Aurelie juga mengingatkan agar setiap penyintas tetap memprioritaskan kenyamanan diri sendiri dan tidak merasa terpaksa untuk berbagi.
Ia menekankan bahwa setiap orang memiliki waktu dan cara masing-masing dalam proses pemulihan.
“Kalau kamu merasa siap untuk berbagi, dengan caramu sendiri dan waktumu sendiri, kamu bisa menggunakan #PutusTali,” tutupnya.
(TribunTrends.com/Tribunnews.com)