Kisah Eks Sopir BST Koridor 6 Solo Kebingungan Nafkahi Istri dan Anak, Penghasilan Tak Menentu
January 16, 2026 09:26 AM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Puluhan sopir Batik Solo Trans (BST) tak diperpanjang kontraknya setelah penghapusan Koridor 6.

Salah satu eks sopir BST, Agus Haryadi, mengaku saat ini hanya mengandalkan bus wisata yang sesekali mendapat panggilan.

“Mau kerja di mana. Ada sambilan wisata, tapi nggak cukup. Wisata kan kalau ada. Nggak pasti,” ungkapnya saat ditemui di sebuah warung.

Seminggu sebelum kontrak berakhir pada 31 Desember 2025 lalu, ia sudah diberi tahu jika ada pengurangan karyawan.

Mereka yang tidak dipanggil secara otomatis tak diperpanjang kontraknya.

“Kalau yang diteruskan dimasukkan ke grup, yang nggak dimasukkan ke grup ya sudah berarti nggak diperpanjang. Sebelumnya dari pihak kantor sudah ngomong kalau diperpanjang nanti ada info. Kalau tidak ya sudah. Kurang satu minggu itu,” jelasnya.

DIHENTIKAN. Pengoperasian Koridor 6 Batik Solo Trans (BST) pada Rabu (31/12/2025) di Terminal Tirtonadi. Operasional Koridor 6 resmi dihentikan 2026, sopir terancam menganggur.
DIHENTIKAN. Pengoperasian Koridor 6 Batik Solo Trans (BST) pada Rabu (31/12/2025) di Terminal Tirtonadi. Operasional Koridor 6 resmi dihentikan 2026, sopir terancam menganggur. (TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin)

Masih Ada Sopir yang Dipertahankan

Salah satu alasan pengurangan karyawan yakni APBD Kota Solo yang sudah tidak sanggup menjalankan semua beban operasional seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Alasannya ya karena diambil alih oleh pemkot, mampunya ya hanya segitu,” tuturnya.

Ia tidak diberi tahu secara pasti alasan kontraknya tidak diperpanjang.

Sementara sopir lain ada yang masih dipertahankan.

“Alasan itu ya belum jelas. Karena jujur isi hati, yang diteruskan itu ada yang dilanjut seolah-olah kriterianya di bawah saya. Tapi apa boleh buat, namanya keputusan kantor saya menerima saja. Saya itu skors nggak pernah. Laka cuma sekali seingat saya,” jelasnya.

Saat tahu tak diperpanjang kontraknya, ia mengaku bingung.

Apalagi ia memiliki istri dan tiga anak yang mengandalkan penghasilannya sebagai sopir.

“Bingung jelas bingung. Punya keluarga. Anak juga butuh sekolah, butuh biaya. Umur juga sudah 45. Rasa kecewa ada. Tapi untungnya istri bisa mengerti. Kita buruh, atasan nggak dipakai ya sudah. Jujur kurang ya kurang, bingung ya bingung,” tuturnya.

Baca juga: Deretan Koridor BST dan Feeder yang Masih Beroperasi di Kota Solo

Kini ia mengandalkan pekerjaan sebagai sopir bus wisata yang penghasilannya tak menentu.

Ia biasanya mendapat bayaran 12 persen. 

Misalnya perjalanan ke Jogja dengan biaya Rp 2,2 juta, ia mendapat sekitar Rp 265 ribu. 

Berbeda dengan saat menjadi sopir BST yang sudah pasti mendapat Rp 3 juta per bulan.

“Kita mendapat hasil 12 persen. Kernet 8 persen. Uang makan Rp 50 ribu untuk dua kru. Ke Jogja Rp 2,2 juta. BST Rp 3 juta. Teman-teman BST yang masih muda enak. Di paket, towing, ada juga yang nyopir molen,” jelasnya.

Tak Dapat Kompensasi

Ia tak mendapat kompensasi setelah kontraknya tak diperpanjang.

Kemungkinan dipanggil kembali memang masih ada, namun semua tetap menjadi keputusan manajemen PT Batik Solo Trans.

“Kemungkinan ada (kembali dipanggil), tapi kembali ke kantor. Nggak ada (kompensasi). Di perjanjian gitu,” tuturnya.

Ia pun meminta agar pemerintah bisa memberikan solusi bagi sopir BST yang kehilangan pekerjaan, terutama sopir seusianya yang menginjak umur 45 tahun.

“Solusinya pemerintah bisa ambil kebijakan supaya bisa kerja semua. Mengingat umurnya juga sudah tua. Mau kerja apa. Umur sudah tua tapi semangat menghidupi istrinya masih ada. Minta tolong ke pemerintah, naikkan tarif atau gimana,” jelasnya.

Menurutnya, dengan koridor yang masih beroperasi sekarang, masih memungkinkan mempekerjakan semua sopir.

Salah satunya dengan mempekerjakan dua sopir untuk setiap armada.

“Dari penumpang tidak ada masalah. Tarifnya naik tapi teman-teman tidak pensiun. Misal armadanya cuma itu tapi drivernya dua,” jelasnya.

Saat ini, dengan satu armada satu sopir, menurutnya cukup berat.

Setiap sopir dibebani empat ritase dan harus menempuh perjalanan hampir sembilan jam setiap hari.

Berbeda dengan dulu saat masih dibiayai APBN, setiap sopir hanya dibebani dua ritase.

“Jujur sebenarnya berat. Tapi karena tuntutan keluarga. Empat ritase. Kalau di koridor saya, dua jam 10 kali empat. Istirahat 40 menit. Kalau di kementerian dua ritase. Gaji malah lebih,” tuturnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.