Kelakuan Guru Agus Dibongkar Ketua OSIS Usai Pengeroyokan, Siswa Kerap Ditindas, Minta Guru Dipindah
January 16, 2026 09:27 AM

 

TRIBUN-MEDAN.com - Terungkap kelakuan Agus Saputra hingga memicu pengeroyokan oleh sejumlah siswa di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi,

Siswa mengaku merasa sering ditindas oleh guru tersebut.

Kondisi tersebut membuat mereka tidak merasa nyaman.

Kini, para siswa meminta agar guru Agus Saputra dipindahkan dari sekolah tersebut.

Meski demikian, insiden pengeroyokan sangat disesalkan. 

PENGEROYOKAN - Seorang guru bernama  Agus Saputra mengalami pengeroyokan dari sejumlah siswa SMK di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim).
PENGEROYOKAN - Seorang guru bernama Agus Saputra mengalami pengeroyokan dari sejumlah siswa SMK di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim). (TRIBUN MEDAN/TRIBUN JAMBI)

Pasca insiden pengeroyokan guru Ketua OSIS menyampaikan permintaan maaf.

Selain permintaan maaf, Ketua OSIS wanita dalam video yang diunggah akun Instagram @cicitvjambi menyebutkan jika para siswa meminta guru yang ada dalam video viral dipindahkan.

Ketua OSIS tersebut memberikan pernyataan menohok pasca video pengeroyokan tersebut viral.


Alih-alih menyesal, ia sebagai perwakilan siswa meminta oknum tersebut dipindahkan ke tempat lain.

"Di sini saya sebagai Ketua OSIS di SMK 3 Tanjung Jabung Timur ingin menyampaikan permintaan maaf terhadap instansi yang terlibat, dengan tersebarnya video pengeroyokan terhadap guru," kata dia, dikutip dari video yang diunggah akun Instagram @cicitvjambi, Rabu (14/1/2026) malam, dikutip Tribunjambi.com

Kata perwakilan siswa itu, pengeroyokan itu terjadi karena guru sering menindas siswanya.

"Hal tersebut terjadi karena oknum tersebut sering  menindas kami di SMK Negeri 3 Tajung Jabung Timur," lanjutnya.

"Kami hanya ingin beliau dipindahkan ke tempat yang lain, karena kami tidak nyaman beliau ada di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur ini," tutup perwakilan siswa yang juga ketua OSIS SMKN 3 Tanjab Timur tersebut.

Guru Ungkap Kronologi Kejadian

Agus Saputra secara resmi melaporkan peristiwa pengeroyokan tersebut ke Disdik Provinsi Jambi pada Rabu (14/1/2026).

Ia mengungkapkan kejadian bermula saat dirinya ditegur seorang siswa dari kelas, saat proses belajar mengajar berlangsung, sekira pukul 09.00 hingga 10.00 WIB.

Menurutnya, teguran itu bernada tidak sopan dan sempat direkamnya

“Dia menegur dengan tidak sopan dan tidak hormat kepada saya dengan meneriakan kata yang tidak pantas saat dia belajar,” katanya, pada Rabu (14/01/2026).

Agus menuturkan, dirinya masuk ke kelas siswa tersebut dan menanyakan terkait hal itu.

“Kemudian, saya masuk ke kelas saya tanyakan siapa yang memanggil saya seperti itu,” tuturnya.

 “Dia langsung menantang saya, katanya seperti itu. Akhirnya saya refleks satu kali menampar muka dia itulah kejadiannya awal,” lanjutnya.

Agus menjelaskan, pada jam istirahat dirinya ditantang kembali oleh siswa tersebut.

Kejadian tersebut berlarut hingga pukul 13.00 WIB sampai 16.00 WIB.

“Terjadi mediasi sebelum ada pengeroyokan terhadap saya. Saya sudah berusaha tenang. Pada saat itu saya masih berada di dalam kantor dengan ada CCTV sebagai pembuktian,” jelasnya.

Agus menerangkan, saat mediasi, dirinya menanyakan apa keinginan siswa tersebut.

“Mereka meminta saya meminta maaf untuk hal yang tidak saya lakukan. Kemudian saya membeli alternatif kepada mereka, terangnya.

Jalan alternatif itu berupa pembuatan petisi. 

“Membuat petisi, kalau seandainya mereka tidak menginginkan saya lagi untuk mengajar di sana. Atau, mereka mengubah perangai (perilaku) mereka menjadi lebih baik lagi dari sekarang,” ujarnya.

Agus menambahkan, dirinya sempat diajak komite sekolah seusai mediasi.

“Saya diajak komite masuk ke ruang kantor, di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, kelas 2, kelas 3,” ucapnya.

“Ada videonya, ini sudah viral mungkin. Kemudian juga setelah itu, ini kan banyak nih yang viral di video itu, ada juga yang bawa senjata kita jadinya,” pungkasnya.

Kejar Siswa Pakai Celurit

Dalam video beredar, Agus terlihat mengejar siswa menggunakan senjata tajam (sajam).

Bahkan terdengar suara ia berteriak 'mati kau' yang membuat semua murid menjauh.

“Kebetulan SMK kami itu SMK Pertanian, jadi peralatan pertanian. Kayak cangkul dan sebagainya itu memang sudah tersedia di dalam kantor, memang tersimpan rapi,” katanya, Rabu (14/01/2026).

Dia beralasan menggunakan celurit dan mengejar pelaku pengeroyok hanya untuk menggertak saja agar para siswa bubar.

Agus menegaskan, dirinya melakukan hal itu hanya membela diri.

“Saya tidak berniat untuk melakukan kejahatan terbukti videonya saya hanya mengejar mereka agar bubar. Pada kenyataannya mereka tidak bubar juga,” ucapnya.

“Kemudian kalau tidak seperti itu mungkin ada kejadian buruk lagi yang menimpa saya seandainya saya tidak melakukan hal tersebut,” lanjutnya.

Agus mengatakan, dirinya dilempari batu saat peristiwa tersebut.

“Mereka malah melempari saya dengan banyak-banyak hal yang anarkis seperti batuan, batu bata dan sebagainya,” katanya.

Agus membenarkan dirinya melontarkan kata-kata yang diduga menyinggung perasaan siswa.

“Saya menceritakan secara umum, saya mengatakan kalau kita orangnya kurang mampu itu kalau bisa jangan bertingkah macam-macam itu secara motivasi,” ungkapnya.

Sebab itu, dia berharap kasus tersebut ada yang memediasi.

“Kalau seandainya ini tambah viral dimanapun, saya berharap ini ada yang menengahkan khususnya dinas pendidikan atau juga pihak yang berwenang untuk menyelesaikan persoalan ini agar tidak berlarut-larut,” harapnya

Penjelasan Kapolres

Belasan siswa yang keroyok guru SMK Agus Saputra minta maaf dan menyesal telah melakukan tindakan biadab. 

Mereka membuat surat pernyataan menyesal dan mendapatkan sanksi. 

Sebelum dijatuhi sanksi, mediasi sempat dilakukan.

Mediasi ini dihadiri seluruh elemen sekolah Dinas Pendidikan, aparat penegak hukum, camat, dan orangtua.

Dari hasil mediasi tersebut, diputuskan belasan siswa harus membuat surat pernyataan.

"Pelaku pengeroyokan terhadap guru sudah minta maaf, menyatakan menyesal, dan membuat surat pernyataan," kata Kapolres Tanjung Jabung Timur, AKBP Ade Candra, melalui sambungan telepon, Kamis (15/1/2026), dikutip dari Kompas.com. 

 Sanksi berupa surat pernyataan ini untuk mencegah peristiwa kembali berulang di kemudian hari.

Selesai Kekeluargaan

Atas permintaan seluruh majelis guru, penyelesaian masalah ini dilakukan secara kekeluargaan.

Ade menuturkan guru yang menjadi korban pengeroyokan memang tidak hadir di lokasi mediasi karena sedang menjalani pengobatan secara mandiri di Kota Jambi.

Oleh karena itu, ia menunjuk Komite Sekolah sebagai pihak yang dapat mewakili dirinya dalam proses mediasi.

"Guru menyatakan apa pun hasil keputusan yang terbaik akan ikut dan membuka ruang untuk perdamaian secara kekeluargaan," kata Kapolres.

Mediasi telah menghasilkan keputusan yang diterima seluruh pihak sehingga masalah yang muncul karena siswa terpancing emosi setelah ditampar guru akhirnya selesai.

"Situasi sudah kondusif, aktivitas belajar mengajar berangsur pulih dan akan kembali normal seperti biasanya," tutur Kapolres.

Penjelasan Kapolres

Belasan siswa yang mengeroyok guru SMK Agus Saputra minta maaf dan menyesal 

Mereka membuat surat pernyataan penyesalan dan mendapatkan sanksi. 

Sebelum dijatuhi sanksi, mediasi sempat dilakukan.

Mediasi ini dihadiri seluruh elemen sekolah Dinas Pendidikan, aparat penegak hukum, camat, dan orangtua.

Dari hasil mediasi tersebut, diputuskan belasan siswa harus membuat surat pernyataan.

"Pelaku pengeroyokan terhadap guru sudah minta maaf, menyatakan menyesal, dan membuat surat pernyataan," kata Kapolres Tanjung Jabung Timur, AKBP Ade Candra, melalui sambungan telepon, Kamis (15/1/2026), dikutip dari Kompas.com. 

 Sanksi berupa surat pernyataan ini untuk mencegah peristiwa kembali berulang di kemudian hari.

Penyelesaian secara Kekeluargaan

Atas permintaan seluruh majelis guru, penyelesaian masalah ini dilakukan secara kekeluargaan.

Ade menuturkan guru yang menjadi korban pengeroyokan memang tidak hadir di lokasi mediasi karena sedang menjalani pengobatan secara mandiri di Kota Jambi.

Oleh karena itu, ia menunjuk Komite Sekolah sebagai pihak yang dapat mewakili dirinya dalam proses mediasi.

"Guru menyatakan apa pun hasil keputusan yang terbaik akan ikut dan membuka ruang untuk perdamaian secara kekeluargaan," kata Kapolres.

Mediasi telah menghasilkan keputusan yang diterima seluruh pihak sehingga masalah yang muncul karena siswa terpancing emosi setelah ditampar guru akhirnya selesai.

"Situasi sudah kondusif, aktivitas belajar mengajar berangsur pulih dan akan kembali normal seperti biasanya," tutur Kapolres.

Pemicu Pengeroyokan Siswa ke Guru Agus

Insiden pengeroyokan guru bermula pada Selasa pagi (13/1/2026). 

Saat itu, Agus yang sedang berjalan di lingkungan sekolah merasa dilecehkan secara verbal oleh salah seorang siswa.

Ia mendengar kata-kata yang dianggap sangat tidak sopan dan merendahkan martabatnya sebagai tenaga pendidik. 

Agus kemudian menghampiri kelas sumber suara tersebut untuk mencari tahu siapa pelakunya.

Ketika seorang siswa mengakui perbuatannya dengan gestur yang menantang, Agus mengaku refleks melakukan tindakan fisik satu kali sebagai bentuk teguran spontan.

“Itu refleks, satu kali tamparan. Itu awal kejadiannya," kata Agus menceritakan awal mula ketegangan.

Setelah kejadian tersebut, suasana sekolah menjadi tidak kondusif.

Para siswa dilaporkan terus menantang Agus hingga waktu pulang sekolah. 

Meski sempat dilakukan mediasi di ruangan yang dilengkapi CCTV, situasi justru berakhir ricuh saat Agus dikeroyok massa siswa dari berbagai angkatan. 

"Di situ saya dikeroyok. Videonya viral. Banyak siswa mulai dari kelas 1, 2 dan 3," kata Agus lagi. 

Meski menjadi korban kekerasan fisik, Agus mengaku masih menimbang untuk menempuh jalur hukum.

Ia merasa berat hati jika harus melaporkan anak didiknya sendiri ke pihak kepolisian karena mempertimbangkan masa depan dan kondisi psikologis para siswa. 

“Saya merinding kalau harus melapor ke polisi. Mereka ini anak didik saya, masih sekolah dan secara psikologis butuh bimbingan," kata dia menutup pembicaraan. 

(*/TRIBUN-MEDAN.com)

Baca juga: Kronologi Awal Terkuaknya Pembunuhan Terapis Wanita Cantik, Pelaku Cemburu Padahal Sudah Beristri

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.