TRIBUNSUMSEL.COM - Syafiq Ridhan Ali Razan (18) sempat mengirimkan pesan kepada sang ibu sebelum ditemukan tewas di kawasan pos 9 pendakian Gunung Malang area Watu Langgar, Rabu (14/1/2026) setelah 17 hari hilang.
Kepergian Syafiq meninggalkan duka yang mendalam bagi orang tuanya, salah satu sang ayah, Dani Rusman.
Dani bercerita, Syafiq bukanlah pendaki berpengalaman.
Gunung Andong mulanya menjadi pendakian pertamanya, sebelum akhirnya Gunung Slamet menjadi gunung kedua, dan terakhir yang ia daki.
Bahkan, awal kepergiannya pun tak sepenuhnya direncanakan.
"Syafiq awalnya pamit ke Gunung Sumbing,” tutur Dani, mengenang cerita sang anak, Kamis (15/1/2026), dikutip Tribunjateng.com
Namun entah karena keinginan spontan atau perubahan rencana di perjalanan, ia mengatakan Syafiq justru berbelok ke Gunung Slamet.
Baca juga: Awalnya Pamit Turun Cari Bantuan, Syafiq Ali Malah Ditemukan Meninggal di Lereng Atas Gunung Slamet
Kepada ibunya, Syafiq sempat mengirimkan pesan yang kini menjadi kenangan paling pilu.
‘Duh Bun, aku kok kesasar ke Gunung Slamet,’ tulis Syafiq.
Pesan singkat itu rupanya menjadi isyarat terakhir bahwa langkah anaknya tengah berada di jalur yang tak ia rencanakan sebelumnya.
Meskipun demikian, bagi Dani peristiwa ini menjadi pengingat penting, tak hanya untuk keluarganya, tetapi juga bagi siapa pun yang hendak mendaki gunung.
“Ini jadi pembelajaran buat kita semua. Mendaki itu harus betul-betul dengan izin dan restu orang tua. Jangan sampai terulang,” ujarnya lirih.
Ia berharap Syafiq menjadi anak terakhir yang harus pergi dengan cara seperti ini.
Adapun, selama 15 hari pencarian, Dani dan keluarga tak tinggal diam.
Doa tak pernah putus, ikhtiar terus dilakukan.
Ia mengingat hari pertama menyusuri informasi di internet hingga mendatangi basecamp demi basecamp, saat anaknya mendadak hilang kabar hingga akhirnya sempat dinyatakan hilang.
“Segala macam cara kami lakukan. Tapi mungkin Allah saat itu belum menunjukkan kekuasaan-Nya. Alhamdulilah Allah menunjukkan jalan sehingga Syafiq bisa ketemu," katanya.
Meskipun merasa terpukul, ucapan syukur justru mengiringi kabar duka tersebut. Dani menyampaikan terima kasih mendalam kepada tim SAR gabungan, relawan, serta warga Desa Clekatakan yang saat itu tanpa pamrih ikut membantu pencarian.
“Mereka luar biasa. Naik turun gunung siang malam, hujan badai, tanpa pandang bulu. Semua ikhlas membantu mencari anak kami,” katanya.
Dengan keikhlasan penuh, keluarga memutuskan tidak melakukan otopsi. Bagi Dani, Syafiq telah pergi karena musibah dan kecelakaan murni.
“Kami hanya ingin tahu perkiraan waktu meninggalnya anak kami, supaya bisa menentukan hari tahlil. Itu saja,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menanggapi isu yang sempat beredar terkait keterangan Himawan, sahabat Syafiq sejak SMP, yang dinilai memiliki keterangan kronologi yang janggal.
Ia mengatakan , memilih menutup pintu prasangka.
“Saya sudah ikhlas. Saya tidak mengaitkan ini dengan siapa pun. Himawan sahabat Ali, saya anggap juga anak saya sendiri,” tegasnya.
Kini, keikhlasan pun menjadi penutup dari perjalanan panjang pencarian. Bagi Dani Rusman, Syafiq telah kembali,bukan hanya dari gunung, tetapi ke pangkuan Sang Pencipta.
Sementara, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Magelang, Catur Budi Fajar Sumarmo, mengatakan jenazah Ali berhasil diangkat dari titik penemuan pada Kamis (15/1/2026) sekitar pukul 05.00 WIB.
"Tadi malam harusnya bisa dievakuasi, ternyata belum karena hujan badai," ujarnya di Perumahan Depkes Magelang, Kamis (15/1/2026), dikutip Kompas.com
Catur menjelaskan, hingga saat ini tim penyelamat masih berupaya menurunkan jenazah korban menuju basecamp Dipajaya di Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.
Setelah tiba di basecamp, jenazah Ali akan dibawa ke Rumah Sakit Muhammadiyah Rodliyah Achid, Pemalang, untuk menjalani proses otopsi.
"(Korban) akan diotopsi di sana sekaligus disucikan," ucap Catur. Kondisi Korban Saat Ditemukan Catur menambahkan, kondisi Ali saat ditemukan oleh tim penyelamat pada Rabu, 14 Januari 2026, sekitar pukul 10.00 WIB masih dalam keadaan utuh.
"Dalam kondisi yang masih utuh. Cuma, berdasarkan informasi, kaki dan tangan patah."
Ali sebelumnya dilaporkan hilang saat melakukan pendakian Gunung Slamet melalui jalur Dipajaya sejak Sabtu (27/12/2025).
Ia kemudian ditemukan di jalur yang menghubungkan kawasan Gunung Malang dan Baturraden.
Dalam pendakian tersebut, Ali tidak sendirian. Ia mendaki bersama teman satu sekolahnya, Himawan Choidar Bahran, warga Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang.
Berbeda dengan Ali, Himawan telah lebih dahulu ditemukan oleh tim SAR gabungan dalam kondisi selamat pada Selasa (30/12/2025) di sekitar Pos 5.
Menurut anggota Basarnas Jawa Tengah yang terlibat dalam proses penyelamatan, Andika, Ali diduga meninggal dunia akibat hipotermia atau kondisi kedinginan ekstrem saat berada di gunung.
Sebelumnya, Syafiq Ridhan Ali Razan (18) dilaporkan hilang saat melakukan pendakian melalui jalur Dipajaya, Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, sejak Sabtu (27/12/2025).
Ia mendaki bersama teman satu sekolahnya, Himawan Choidar Bahran, warga Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang.
Berbeda dengan Ali, Himawan telah ditemukan lebih dahulu oleh tim SAR gabungan dalam kondisi selamat pada Selasa (30/12/2025) di sekitar Pos 5.
Kakak kandung korban, Naufal Hisyam (24), mengungkapkan bahwa Ali awalnya berpamitan kepada keluarga untuk mendaki Gunung Sumbing, bukan Gunung Slamet.
Keluarga baru mengetahui perubahan tujuan tersebut setelah Ali mengirimkan foto saat berada di basecamp Gunung Slamet.
Meski sempat terkejut, keluarga tetap mengizinkan karena korban sudah berada di lokasi pendakian.
Ali berencana melakukan pendakian secara tektok atau pulang-pergi tanpa menginap dan berjanji akan pulang pada Minggu sore. Namun hingga waktu yang dijanjikan, Ali tidak kunjung memberi kabar.
Kecurigaan keluarga semakin kuat setelah sepeda motor dan kartu tanda penduduk (KTP) milik korban ditemukan masih tertinggal di basecamp Dipajaya.
Saat pendakian, Syafiq diketahui membawa papan tulisan berisi pesan buat mantan.
Papan tersebut juga dipakai Syafiq Ali saat berfoto di puncak Gunung Slamet.
Papan bertuliskan ditemukan ‘HI MANTAN, DAPAT SALAM DARI GUNUNG SLAMET 3428 MDPL’ itu ditemukan dalam jaket temannya yang sempat ikut hilang dalam pendakian, Himawan Choidar Bahran.
Saat ini, papan tulisan buat mantan itu disimpan di Basecamp Dipajaya.
“Kami temukan papan tulisan itu saat menemukan survivor pertama. Dalam jaket,” kata Kepala Desa Clekatakan, Sutrisno, Jumat (2/1/2026).
“Kondisi tubuhnya (Himawan--Red) lemas dan langsung kami evakuasi ke Basecamp Dipajaya,” sambungnya.
Sementara itu, Himawan, korban selamat yang saat ini berada di Basecamp Dipajaya membenarkan bahwa tulisan itu sengaja dibawa sampai puncak.
Tulisan untuk mantan itu memang sengaja dipesan oleh Ali di online dan dibawa saat pendakian.
“Iya, milik dia (Syafiq Ali). Pesan dulu di online baru saya yang bawa, saya masukin ke jaket. Di atas berfoto dengan itu. Ya, katanya untuk ramai-ramai saja,” kata Himawan.
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com