Siapa Kak Seto? Pemerhati Anak yang Ikut Soroti Kasus Aurelie Moeremans Imbas Viral Broken Strings
January 16, 2026 12:04 PM

 

SURYA.co.id – Pengakuan yang diungkap Aurelie Moeremans kembali mengguncang ruang publik dan memantik diskusi luas mengenai perlindungan anak di Indonesia.

Isu ini tidak hanya menyorot pengalaman personal, tetapi juga mengajak masyarakat menengok ulang bagaimana sistem perlindungan anak bekerja, dan di mana saja ia pernah gagal.

Sorotan publik semakin tajam ketika cerita masa lalu tersebut bersinggungan dengan lembaga perlindungan anak yang semestinya menjadi benteng pertama bagi korban.

Menanggapi isu yang berkembang, pemerhati anak Seto Mulyadi atau Kak Seto menyampaikan pernyataan tegas melalui unggahan Insta Story pada Rabu (14/1/2026).

Ia menegaskan penolakannya terhadap segala bentuk relasi bermasalah yang melibatkan anak.

“Kami mengecam segala bentuk manipulasi, relasi tidak setara, dan praktik child grooming. Anak tidak pernah berada dalam posisi setara untuk dimintai pertanggungjawaban atas relasi yang dibangun melalui tekanan, bujuk rayu, atau ketimpangan kuasa,” tulis Kak Seto, dikutip SURYA.co.id, Kamis (15/1/2026).

Menurut Kak Seto, relasi yang melibatkan anak dan remaja harus selalu ditempatkan dalam konteks kerentanan.

Dalam situasi tersebut, tanggung jawab hukum dan moral sepenuhnya berada pada pihak dewasa.

Keberanian Bersaksi

Kak Seto juga menyampaikan penghormatan kepada siapa pun yang berani mengungkap pengalaman masa lalunya ke ruang publik.

Ia menilai suara korban memiliki peran penting sebagai pengingat kolektif.

“Kami memandang suara tersebut sebagai pengingat penting agar sistem perlindungan anak terus diperbaiki, diperkuat, dan semakin berpihak pada kepentingan terbaik anak,” lanjutnya.

Menurutnya, pengungkapan pengalaman traumatis tidak seharusnya dilihat sebagai sensasi, melainkan sebagai alarm bagi negara dan masyarakat untuk berbenah.

Seruan Lindungi Anak

Kak Seto Saat Mengunjungi Malika Korban Penculikan di Gunung Sahari. Ia diminta jadi bagian tim medis untuk menangani Malika. Simak profil dan biodatanya.
Kak Seto Saat Mengunjungi Malika Korban Penculikan di Gunung Sahari. Ia diminta jadi bagian tim medis untuk menangani Malika. Simak profil dan biodatanya. (kompas.com / Nabilla Ramadhian)

Di tengah derasnya perbincangan publik, Kak Seto mengingatkan agar isu sensitif ini disikapi dengan empati dan kebijaksanaan.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama dari diskusi publik seharusnya adalah menciptakan ruang aman bagi anak.

“Kami mengajak seluruh pihak untuk fokus pada tujuan bersama: menciptakan ruang yang aman bagi anak-anak Indonesia hari ini dan di masa depan,” tulis Kak Seto.

Kasus yang diangkat Aurelie Moeremans dinilai menjadi cermin penting tentang dampak psikologis jangka panjang yang bisa dialami korban, terutama ketika relasi kuasa disalahgunakan.

Baca juga: Duduk Perkara Hubungan Roby Tremonti - Aurelie Moeremans, Sang Aktor Kena Imbas Viral Broken Strings

Laporan Lama ke Komnas PA Kembali Dipertanyakan

Sebelum memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans viral pada awal 2026, kisah masa lalunya ternyata sudah pernah disampaikan ke lembaga perlindungan anak lebih dari satu dekade lalu.

Sejumlah laporan yang kembali beredar menyebutkan bahwa ayah Aurelie, Jean Marc Moeremans, pernah melaporkan seorang pria ke Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) sekitar tahun 2010.

Laporan tersebut diajukan ketika Komnas PA masih dipimpin Seto Mulyadi.

Jean Marc berharap lembaga tersebut dapat mengintervensi pihak yang dinilainya memberi pengaruh buruk terhadap kehidupan Aurelie.

Namun, upaya itu disebut tidak berujung pada tindakan yang diharapkan.

Dalam pengakuan yang kembali viral di media sosial, Jean Marc menyebut laporan keluarganya tidak ditangani secara serius.

Ia bahkan mengklaim keluarganya sempat dinilai terlalu agresif oleh petugas yang menerima laporan.

Kondisi tersebut memicu kekecewaan publik, karena upaya perlindungan anak justru dinilai tidak mendapat respons memadai. Kritik terhadap cara Komnas PA menangani laporan lama itu pun kembali mencuat di kalangan warganet.

Sosok Kak Seto

Dr. Seto Mulyadi, S.Psi., M.Si. lahir di Klaten, 28 Agustus 1951.

Kak Seto memiliki seorang kakak, Maruf Budiharjo Mulyadi serta saudara kembar laki-laki bernama Kresno Mulyadi yang seorang psikiater anak di Surabaya.  

Sejak kecil, ia dikenal sebagai sosok yang bandel dan tidak bisa diam.

Ia juga pernah beberapa kali jatuh hingga sempat mengalami fobia, namun ia selalu melatih diri agar fobia tersebut hilang dengan melakukan aktivitas ekstrim seperti parkour.

Kak Seto hijrah ke Jakarta lantaran kecewa tidak diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga maupun Universitas Indonesia.

Dari kekecewaannya itu, ia memutuskan untuk pindah ke Jakarta meski tanpa bekal dan keahlian apapun.

Di sana, ia memulai hidup dengan kerja serabutan sembari menunggu tes Fakultas Kedokteran tahun berikutnya.

Tidak berjodoh dengan Fakultas Kedokteran, Kak Seto lantas memutar tujuan dan masuk Fakultas Psikologi atas saran Pak Kasur yang ia kenal sejak ia menjadi asisten pemilik Taman Kanak-kanak.

Kak Seto menyelesaikan pendidikan Sarjana di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia pada 1981, Pendidikan Magister Bidang Psikologi Program Pascasarjana Universitas Indonesia pada 1989, dan meraih gelar Doktor bidang Psikologi Program Pascasarjana Universitas Indonesia pada 1993.

Menjadi asisten Pak Kasur adalah pekerjaan ayah empat anak kala itu yang kemudian dilanjutkan dengan mengisi acara Aneka Ria Taman Kanak-kanak bersama Henny Purwonegoro.

Di sana, Kak Seto mendongeng, mengisi acara belajar sambil bernyanyi, dan bermain sulap bersama anak-anak.

Ilmu yang didapat dari Pak Kasur ia gabungkan dengan ilmu yang ia miliki, yakni teknik sulap yang telah ia pelajari sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.

Sedangkan ilmu mendongeng didapat melalui belajar dan berdasarkan pengalamannya.

Menjadi bagian dari anak-anak memang dituntut untuk selalu kreatif, menyeimbangi pikiran-pikiran kreatif dan penuh imajinasi.

Saat itulah karakter Si Komo diciptakan oleh Kak Seto.

Berupa boneka Si Komo dan lagu yang diciptakan, karakter Si Komo menguat dan banyak dikenal.

Acaranya banyak ditunggu dan membuat namanya kian tenar, kondisi perekonomiannya pun membaik.

Kesuksesan inilah yang kemudian mengantarkan Kak Seto memborong beberapa penghargaan seperti The Outstanding Young Person of the World, Amsterdam; kategori Contribution to World Peace, dari Jaycess International pada 1987.

Ia juga mendirikan Yayasan Mutiara Indonesia dan Yayasan Nakula Sadewa.

Pada 1998, ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak.

Kecintaannya pada anak-anak jugalah yang mengantarkannya membagi kisah lewat buku yang ia tulis, Anakku, Sahabat, dan Guruku.

Kak Seto memiliki seorang istri bernama Deviana.

Dari pernikahan keduanya, mereka dikaruniai empat orang anak yakni Eka Putri, Bimo, Shelomita, dan Nindya Putri.

Pada tahun 2007, Kak Seto mendirikan sekolah alternatif bernama Homeschooling Kak Seto. 

HSKS begitu singkatannya, merupakan lembaga pendidikan alternatif yang menjadi salah satu solusi pendidikan bagi anak-anak Indonesia baik yang berada di dalam negeri maupun luar negeri.

Sesuai dengan visinya, yaitu menyediakan program pendidikan bagi anak agar memiliki keterampilan, life skill, dan karakter yang kukuh sebagai calon pemimpin bangsa pada masa depan.

Homeschooling Kak Seto terus berusaha meningkatkan standar kualitas pembelajaran sehingga proses belajar menjadi menyenangkan, memberikan materi pembelajaran yang terkini, serta menyediakan tutor - tutor dengan pengetahuan dan pengalaman profesional.

Beberapa alumni maupun siswa Homeschooling Kak Seto diantaranya: Dhea Seto, Ayushita, Hanggini P.Retto, Nikita WIlly, Prilly Latuconsina, Citra Scholastika dan Ray Prasetya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.