Liana Tasno Terharu dengan Kedewasaan Suporter PSIM Yogyakarta di Super League
January 16, 2026 12:14 PM

 


TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Direktur Utama PSIM Yogyakarta, Liana Tasno, mengaku terharu melihat perubahan sikap suporter Laskar Mataram saat berkompetisi di BRI Super League 2025/226.

Hal tersebut dinilai menjadi cerminan kedewasaan dan kematangan mental pendukung PSIM di musim debut klub di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Liana menuturkan, dirinya menjadi saksi langsung suasana tetap positif di stadion meski PSIM gagal menang. Ia membandingkan atmosfer dukungan saat ini dengan pengalaman sebelumnya ketika PSIM masih berlaga di Liga 2.

“Waktu hasilnya draw 2-2 lawan PSBS, saya lihat sendiri bagaimana teman-teman suporter. Kalau dulu di Liga 2, draw saja bisa sangat reaktif. Tapi kemarin PSIM justru dinyanyiin dan tetap didukung,” ujar Liana, Jumat (16/1/2026).

Padahal, lanjut Liana, PSBS Biak merupakan tim yang secara peringkat berada jauh di bawah PSIM. Namun hal itu tidak membuat suporter bereaksi negatif terhadap hasil pertandingan.

“Di situ saya terharu. Saya melihat ada perubahan perilaku suporter PSIM secara keseluruhan. Ini memang yang saya harapkan,” katanya.

Menurut Liana, perubahan tersebut menunjukkan tumbuhnya rasa syukur dan kesadaran bahwa PSIM adalah klub kebanggaan yang mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), bukan sekadar soal hasil pertandingan semata.

“Ini bukan bicara tentang individu, ini klub sepak bola yang mewakili DIY yang kita cintai bersama. Dengan hasil apa pun harusnya didukung. Apalagi PSIM sudah terlalu lama di Liga 2 dan sekarang bisa ada di kasta tertinggi nasional, itu sesuatu yang membanggakan,” ucapnya.

Liana juga mengingatkan agar seluruh elemen PSIM, termasuk manajemen, tidak melupakan perjuangan panjang klub yang sempat 18 tahun tak kunjung promosi.

“Saya harapkan jangan lupa dengan perjuangan ini. Jangan sampai setelah promosi kita lupa untuk bersyukur. Harus tetap belajar bersyukur,” tegasnya.

Ia bahkan mengaku selalu menanamkan nilai tersebut kepada jajaran manajemen. Liana menegaskan dirinya tidak ingin ada energi negatif yang justru ‘mengutuk’ klub sendiri ketika hasil tidak sesuai harapan.

“Saya marah kalau ada yang mengucapkan hal-hal negatif ke PSIM. Misalnya bilang ‘kalahan sial’, itu sama saja memberi kutuk ke klub kita sendiri,” kata Liana.

Liana kemudian mengenang pengalaman pahit di masa lalu saat PSIM masih berjuang promosi. Ia pernah merasakan atmosfer stadion yang penuh umpatan dan lemparan botol, namun tetap memilih berpikir positif terhadap tim.

“Hati saya selalu bilang, saya yakin PSIM bisa, PSIM pasti menang. Dan akhirnya besoknya bisa sapu bersih. Itu yang saya pengin, mindset positif itu,” ujarnya.

Menurut Liana, sikap positif dan dukungan tanpa syarat adalah fondasi penting bagi kemajuan klub. Ia bahkan membandingkan kultur suporter di negara maju, seperti Amerika Serikat, yang tetap memberikan dukungan meski timnya kalah.

“Di sana enggak ada ribut-ribut, enggak ada lempar-lemparan. Kita juga harus step up seperti itu,” tuturnya.

Di akhir pernyataannya, Liana kembali menegaskan bahwa pencapaian PSIM saat ini adalah anugerah yang patut disyukuri.

“Saya malah bersyukur PSIM lama di Liga 2. Dengan begitu kita semua sadar bahwa kondisi sekarang ini harus benar-benar disyukuri. Ini karunia dari Allah Subhanahu wa ta’ala yang tidak mudah didapat. Jadi sudah di kondisi begini, harus disyukuri,” pungkasnya. (mur)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.