Strategi Pahlavi Cari Simpati dari Presiden AS di Tengah Unjukrasa Besar-besaran di Iran
January 16, 2026 02:01 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, WASHINGTON DC – Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi mencoba mencari dukungan dari pihak ASdi tengah gelombang unjukrasa besar di Iran.

Pahlavi bahkan mencari simpati dari Presiden AS, Donald Trump dengan harapan bisa mendapatkan dukungan dari sang presiden supaya bisa memimpin negeri Iran.

Upaya mencari simpati dari Donald Trump tersebut dilakukan dengan menyiapkan visi masa depan Iran jika resmi resmi Ayatollah Khamanei tumbang.

Visi yang disiapkan di antaranya menjanjikan Iran tanpa senjata nuklir, pengakuan langsung terhadap Israel, serta kerja sama energi dengan Barat. 

Gagasan Pahlavei itu disampaikan pada Kamis (15/1/2025) kemarin.

Ia berjanji tidak akan mengejar kepemilikan senjata nuklir, akan memerangi perdagangan narkoba, segera mengakui negara Israel, serta meningkatkan ekspor minyak dan gas Iran ke pasar global.

Namun Trump sendiri masih meragukan apakah Pahlavi memiliki dukungan yang cukup dari dalam negeri Iran untuk memimpin negara tersebut. 

Para pakar menilai visi itu terdengar persis seperti agenda yang ingin didengar oleh Presiden Trump.

Rencana tersebut disebut sebagai upaya Pahlavi untuk mengamankan dukungan Washington agar bisa memimpin Iran jika protes yang sedang berlangsung berhasil menjatuhkan Republik Islam. 

Meski demikian, Trump belum sepenuhnya merangkul Pahlavi.

Dalam wawancara dengan Reuters di Ruang Oval, Trump mempertanyakan apakah Pahlavi benar-benar memiliki dukungan luas di dalam negeri Iran.

“Dia tampak sangat baik, tetapi saya tidak tahu bagaimana penerimaannya di negaranya sendiri,” kata Trump.

 Ia menambahkan, “Saya tidak tahu apakah negaranya akan menerima kepemimpinannya dan tentu saja, jika mereka menerima, itu tidak masalah bagi saya.” dikutip dari Kompas.com.

Baca juga: Ketegangan Iran dan AS Meruncing, IRGC Siaga Penuh

 Dinilai mencari dukungan bukan dari akar rumput

Trita Parsi, wakil presiden eksekutif Quincy Institute di Washington, menilai Pahlavi sedang berjuang keras untuk mendapatkan restu Trump, namun belum berhasil.

“Dia benar-benar kesulitan mendapatkan persetujuan Trump, untuk memberi kesan bahwa ia memiliki dukungan kuat. Itu tampaknya tidak berhasil,” ujar Parsi.

Menurut Parsi, langkah Pahlavi mencerminkan kurangnya basis dukungan di dalam negeri.

“Dia mencoba mendapatkan dukungan dari pemerintah AS karena dia tidak berusaha melakukan revolusi dari bawah, melainkan ingin dipasang dari atas. Itu mencerminkan kurangnya rasa percaya diri dan menunjukkan ia memiliki basis dukungan yang sangat lemah,” katanya.

Nama Pahlavi menggema, tapi dipertanyakan Di berbagai negara, sejumlah demonstran terlihat membawa foto Reza Pahlavi.

Namun, seberapa besar dukungannya di dalam Iran masih belum jelas. 

Parsi mengatakan, Pahlavi memang memiliki “sedikit dukungan”, tetapi jumlahnya terbatas.

Danny Citrinowicz, mantan pejabat intelijen militer Israel yang kini menjadi peneliti senior di Institute for National Security Studies, menilai seruan nama Pahlavi di jalanan Iran lebih karena ketiadaan figur alternatif.

 “Orang-orang meneriakkan ‘Pahlavi’ di jalanan Iran bukan karena mereka benar-benar menginginkannya, tetapi karena tidak ada nama lain yang bisa diteriakkan,” ujarnya.

Ayah Reza Pahlavi, Shah Mohammed Reza Pahlavi, digulingkan dalam Revolusi Islam 1979 yang melahirkan Republik Islam Iran.

Sejak itu, Reza Pahlavi hidup di pengasingan di Amerika Serikat dan dinilai tidak banyak membangun gerakan oposisi yang kuat selama lebih dari empat dekade.

 “Mereka tidak ingin mengganti satu kediktatoran dengan kediktatoran lain dan dia bukan figur pemersatu,” kata Citrinowicz.

 “Dia telah mencoba membangun dirinya sebagai penerus, tetapi itu tidak ada,” imbuhnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.