TRIBUNNEWS.COM - India Open 2026 dapat banyak sorotan buruk gegara penyelenggaran turnamen yang tak luput dari kritk atlet soal kondisi venue yang mengkhawatirkan.
Dua atlet Denmark, Anders Antonsen dan Mia Blichfeldt paling vokal mengungkap terkait kondisi India Open 2026 yang dinilai sejak edisi-edisi sebelumnya tak ada perubahan yang signifikan.
Jika menelusuri ke belakang, komplain maupun permasalahan yang mewarnai gelaran India Open ternyata sudah ada sejak 2023.
Tak jauh dari keluhan pada tahun 2026 ini, masih soal polusi udara, kebersihan fasilitas, kotoran burung, hingga suhu dingin yang sampai saat ini masih jadi keluhan utama.
Namun uniknya, federasi badminton dunia (BWF) hingga penyelenggara Badminton India (BAI) justru masih memberikan pembelaan.
Merangkum dari beragam media, berikut ulasan permasalahan India Open yang sudah ada sejak 2023.
India Open sejak 2023 selalu berlangsung pada bulan Januari tiap tahunnya. Di mana bulan itu jadi puncak musim dingin di New Delhi, India.
Tahun 2023 adalah edisi terakhir Antonsen mengikuti India Open sebelum kemugian ia memutuskan absen dalam tiga edisi beruntun karena alasan polusi udara.
Baca juga: Kritik India Open Terus Muncul, Kotoran Burung Bikin Laga Mandek, BWF Kekeh soal Kejuaraan Dunia
Hal ini seperti yang diungkap Antonsen dalam Instagramnya yang menjelaskan polusi di Delhi bikin tempat itu tak cocok mengadakan turnamen badminton.
"Karena polusi yang ekstrem di Delhi saat ini, menurut saya ini bukan tempat yang cocok untuk mengadakan turnamen bulu tangkis," tulis Antonsen, Kamis (15/1/2026).
Selain statment Antonsen, kasus pada 2023 lalu menerpa atlet asal Prancis, Thom Gicquel, mengeluhkan soal tingkat polusi yang tinggi.
Melalui Times of India, Thom saat itu juga menjelaskan efek adanya polusi yakni membuat pernapasan menjadi lebih berat saat reli panjang.
Selain polusi, suhu dingin juga merepotkan jajaran atlet elite dalam bertanding di India Open.
NDTV Sports melaporkan bahwa Michelle Li (Kanada) dan Ratchanok Intanon (Thailand) mengeluhkan suhu ruangan yang terlalu dingin tanpa fasilitas pemanas.
Efeknya mereka mengaku terpaksa mengenakan jaket tebal dan sarung tangan saat bersiap bertanding.
Terkait suhu dingin, Revsportz juga sudah pernah melaporkan ini pada 2024 yang menyebutkan stadium dianggap tidak mampu menahan suhu dingin ekstrem dari luar.
Permasalahan tak selesai di polusi dan suhu dingin saja. Tapi keluhan soal kotoran burung dan kebersihan atau higienitas di India Open.
Edisi 2026 dalam pertandingan babak 16 besar antara Loh Kean Yew (Singapura) dan Prannoy HS (India) sempat terhenti gegara kotoran burung.
Bukti nyata laga terhenti gegara kotoran burjng terlihat karena pertandingan tersebut berlangsung di court 1 yang disiarkan oleh televisi.
Menilik dalam tayangan tersebut, duel terpaksa dihentikan dua kali karena kotoran burung jatuh dari langit-langit stadium Indira Gandhi Sports Complex.
NDTV Sports tahun 2024 juga menguliti soal kotoran burung yang acapkali dikeluhkan oleh para atlet. Kenyataanya meski pada 2026 sudah pindah venue tak ada perubahan signifikan.
Efek adanya kotoran burung di arena tentu membuat venue pertandingan tidak higienis.
Hal ini mengingat adanya laporam dari Revsportz terkait toilet yang tak layak karena kotor, berbau, dan bahkan ada yang meluap.
Baca juga: Kejadian Tak Biasa di India Open 2026: Monyet Ikut Nonton Langsung, Burung Berterbangan di Venue
Media tersebut melaporkan bahkan beberapa jurnalis dan atlet memilih untuk menahan diri lantaran ogah menggunakan fasilitas tersebut.
Cerita unik soal higienitas di India Open hadir eraih emas Olimpiade Paris 2024 ganda putri, Chen Qing Chen (China), yang mengalami diare.
Pada India Open 2023, dua dari lima partai final terpaksa batal karena Chen dilaporkan mengalami infeksi perut.
Laporan tersebut bukti meski India Open pindah venue, penyelenggara belum serius dalam melakukan perubahan.
Mengutip Times of India, Sekjen BAI, Sanjay Mishra, mengklaim bahwa keluhan atlet seperti Mia Blichfeldt sebenarnya merujuk pada gedung latihan (KD Jadhav Stadium) dan bukan arena pertandingan utama yang menurutnya sudah dijaga tetap bersih dan bebas burung.
Pernyataan tersebut dirasa kurang tepat lantaran ada bukti nyata dalam laga tunggal putra Loh vs Prannoy.
BAI juga menilai bahwa kritik Blichfeldt mungkin dipengaruhi oleh sensitivitas pribadinya terhadap debu dan faktor lingkungan, bukan mencerminkan kondisi keseluruhan arena
Mishra juga mengkritik keputusan mundurnya Antonsen dengan menyebut bahwa atlet tidak etis mengkritik dari luar negeri tanpa merasakan langsung kondisi lapangan yang diklaim telah diperbaiki.
Tak seirama dengan pernyataan BAI, BWF selaku federasi badminton dunia membenarkan adanya masalah pada aspek kebersihan, higienitas, dan pengendalian hewan.
Tapi fakta uniknya dengan rentetan permasalahn di India Open 2026, BWF masih mempertahankan agenda Kejuaraan Dunia BWF 2026 yang akan berlangsung di India.
New Delhi kembali jadi tempat yang telah dipilih BWF untuk dijadikan sebagai arena berlangsungnya Kejuaraan Dunia BWF 2026 pada Agustus mendatang.
Jadi pertanyaan tersendiri kenapa pernyataan BWF unik lantaran masih mempertahankan India sebagai tuan rumah di saat banyaknya keluhan dari atlet.
(Tribunnews.com/Niken)