Langkah Gemetar Himawan Menuntun Tim Relawan Menuju Lokasi Jasad Syafiq Ali, Tembus Kabut Tebal
January 16, 2026 02:38 PM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Gunung Slamet kembali menyimpan kisah duka. Setelah lebih dari dua pekan pencarian yang melelahkan, harapan yang sempat menyala akhirnya harus padam.

Syafiq Ridhan Ali Razani (18), pendaki muda asal Magelang, Jawa Tengah, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Rabu, 14 Januari 2026. 

Tubuhnya ditemukan di lereng puncak selatan Gunung Slamet, tepat di antara jalur Gunung Malang dan Baturraden.

Penemuan ini menutup rangkaian panjang upaya pencarian sejak Syafiq dinyatakan hilang pada Senin, 29 Desember 2025.

Selama 17 hari, alam Gunung Slamet menjadi saksi perjuangan puluhan relawan yang tak kenal lelah menyisir jalur, lembah, dan punggungan demi menemukan sang pendaki.

Baca juga: Pengakuan Himawan saat Diinterograsi, Sempat Cekcok dengan Syafiq Sebelum Berpisah, Apa Pemicunya?

Dua Tahap Pencarian, Satu Harapan yang Tak Pernah Padam

Misi pencarian Syafiq berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama merupakan operasi SAR resmi yang berjalan selama dua pekan.

Namun, hingga Rabu, 7 Januari 2026, upaya tersebut belum membuahkan hasil dan akhirnya dinyatakan ditutup.

Meski demikian, pencarian tidak benar-benar berhenti. Pada 13 Januari 2026, sejumlah relawan kembali bergerak, memulai pencarian tahap kedua.

Misi inilah yang pada akhirnya mengungkap keberadaan Syafiq, sekaligus mengakhiri penantian panjang keluarga dan para pencari.

Wanadri Menginisiasi Operasi ESAR Tahap Kedua

Salah satu rescuer Wanadri, Angga Septa Gumilar akrab disapa Bucek mengungkapkan jalannya pencarian kepada Kompas.com pada Jumat, 16 Januari 2026.

Sehari sebelumnya, Bucek dan tim masih berada di gunung dan belum mencapai basecamp.

Menurut Bucek, Wanadri menjadi penggerak utama pencarian tahap kedua dengan menggandeng berbagai pihak.

Sejumlah komunitas dan organisasi turut terlibat, di antaranya Mayapada, UPL MPA Unsoed, Wikupala, APGI, Mapala Batik, Mapala Kanpas, Mapala STIKAP, Komunitas RAPI, Orari, relawan umum, hingga Rescue BC Dipajaya.

Persiapan pencarian dimulai sejak Kamis, 8 Januari 2026, diawali dengan penggalian data dari Himawan, rekan Syafiq yang mendaki bersama.

Tim SAR gabungan saat melakukan koordinasi untuk melakukan pencarian Syafiq Ali, seorang pelajar yang dilaporkan hilang di kawasan Gunung Slamet, terus dilakukan secara intensif. Hingga Sabtu (3/1/2026), sebanyak 111 personel gabungan dikerahkan dan area pencarian diperluas hingga radius 5 kilometer dari titik terakhir keberadaan korban
Tim SAR gabungan saat melakukan koordinasi untuk melakukan pencarian Syafiq Ali, seorang pelajar yang dilaporkan hilang di kawasan Gunung Slamet, terus dilakukan secara intensif. Hingga Sabtu (3/1/2026), sebanyak 111 personel gabungan dikerahkan dan area pencarian diperluas hingga radius 5 kilometer dari titik terakhir keberadaan korban (BASARNAS/Dok Basarnas Semarang)

Menggali Jejak Terakhir Syafiq

Pada Jumat, 9 Januari 2026, Abdul Azis dari Wanadri berangkat ke Magelang untuk menghimpun informasi yang lebih akurat terkait titik terakhir perpisahan Syafiq dan Himawan. Sehari kemudian, Sabtu, 10 Januari 2026, data tersebut dianalisis dan dipetakan secara detail.

Setelah lokasi potensial ditentukan, tim Wanadri menyiapkan logistik untuk mendirikan flying camp. Pada Minggu, 11 Januari 2026, para relawan mulai berdatangan.

Operasi ESAR tahap kedua pun resmi dibuka dengan Arie Affandi sebagai SAR Mission Coordinator (SMC) yang berjaga di Basecamp Dipajaya, sementara Bucek ditunjuk sebagai On Scene Commander di Pos 7 Gunung Malang.

Baca juga: Relawan Lahar Brata Bongkar Sikap Tak Empati Himawan saat Diinterogasi Soal Syafiq: Asik Main Game

Menyusuri Gunung Malang dan Hari Penemuan Ceceran Barang

Pada Senin, 12 Januari 2026, tim mulai naik melalui jalur Gunung Malang dan mendirikan flying camp sesuai hasil analisis peta. Keesokan harinya, Selasa, 13 Januari 2026, pencarian tahap kedua resmi dimulai.

Empat Search and Rescue Unit (SRU) bergerak menyisir area sesuai koordinat. Pada hari itu, tim menemukan ceceran barang milik Syafiq Ali di satu titik.

Lokasi tersebut diketahui hanya berjarak sekitar 200 meter dari titik penemuan jasad Syafiq, meski berada di punggungan yang berbeda.

“Pada pagi itu, kami menemukan ceceran barang korban, yaitu senter, dompet berisi STNK, jas hujan, emergency blanket, tracking pool, kabel HP, dan charger HP,” ujar Bucek.

Setelah diperiksa, identitas pada STNK dipastikan cocok dengan biodata Syafiq Ali.

Himawan Kembali Naik, Mengingat Titik Perpisahan

Pagi berikutnya, Rabu, 14 Januari 2026, pencarian kembali dilanjutkan. Kali ini, Himawan ikut naik untuk membantu mengingat secara pasti lokasi terakhir ia berpisah dengan Syafiq.

Ia didampingi tim rescue dari Basecamp Dipajaya melalui jalur Dipajaya.

Himawan bertemu Bucek di Batu Langgar, pada ketinggian sekitar 3.300 meter di atas permukaan laut.

Setelah itu, ia bergerak menyeberangi punggungan gunung bersama tim rescue Dipajaya. 

Dalam proses penyisiran, Himawan sempat berpisah dengan Bucek karena perbedaan area pencarian.

Baca juga: Misteri Belatung di Tubuh Syafiq Ali: Hasil Visum Ungkap Sang Pendaki Sudah Tewas 15 Hari Lalu

Detik-detik Penemuan di Lembah

Di tengah penyisiran itulah, salah satu personel SRU 4 menemukan sebuah benda berwarna hitam di sebuah lembah. Bucek berada sekitar 100 meter di atas posisi tim penemu.

“Setelah tim turun, dipastikan bahwa benda warna hitam itu benar korban,” ujar Bucek.

Penemuan tersebut terjadi sekitar pukul 09.22 WIB. Tim SRU segera mengamankan jasad Syafiq dengan peralatan seadanya, menggunakan matras, sarung, dan flysheet. Namun, cuaca ekstrem menjadi tantangan besar.

Cuaca Buruk Menghentikan Evakuasi Sementara

Saat itu, Gunung Slamet diselimuti kabut tebal, hujan deras, dan angin kencang.

Tim hanya mampu menggeser jasad korban sekitar 100 meter ke atas sebelum akhirnya memutuskan menghentikan evakuasi sementara demi keselamatan.

Sambil menunggu tim evakuasi membawa peralatan tactical rescue dari bawah, Bucek dan tim juga mengamankan seluruh barang ceceran korban ke dalam trash bag.

Evakuasi Panjang Menuju Basecamp

Kamis, 15 Januari 2026, sekitar pukul 05.30 WIB, tim evakuasi tiba di lokasi.

Setengah jam kemudian, tepat pukul 06.00 WIB, proses evakuasi resmi dimulai setelah dilakukan serah terima dari tim SRU kepada tim evakuasi yang diwakili Basarnas.

Untuk mengangkat jasad Syafiq dari lembah menuju area atas, tim membutuhkan waktu sekitar dua jam.

Wanadri sempat mengusulkan jalur Plawangan Dipajaya yang dinilai lebih landai, namun keputusan akhir menetapkan jalur Gunung Malang sebagai jalur evakuasi.

Proses evakuasi dari batas vegetasi hingga mencapai basecamp memakan waktu sekitar tujuh hingga delapan jam menutup misi panjang pencarian Syafiq Ridhan Ali Razani di Gunung Slamet.

***

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.