TRIBUNTRENDS.COM - Perjalanan panjang penuh doa dan harapan itu akhirnya berakhir dengan kesedihan mendalam. Jenazah Syafiq Ridhan Ali Razan (18), pendaki muda asal Kota Magelang yang ditemukan meninggal dunia di Gunung Slamet, tiba di Perumahan Depkes, Kota Magelang, pada Kamis malam (15/1/2026).
Rombongan keluarga yang dipimpin langsung oleh sang ayah, Dhani Rusman, tiba sekitar pukul 20.27 WIB.
Begitu peti putih panjang diturunkan dari kendaraan, suasana duka seketika pecah.
Tangis sanak saudara tak terbendung. Remaja yang selama berhari-hari dinanti kepulangannya kini kembali dalam diam, tanpa kata, tanpa senyum.
Langkah-langkah keluarga menyambut kepulangan terakhir Syafiq terasa berat, diiringi isak yang menggantung di udara malam.
Baca juga: Sempat Cekcok dan Pilih Main Game saat Syafiq Ali Hilang, Himawan Justru Dibela Ayah Korban
Setibanya di rumah duka, jenazah Syafiq segera disholatkan di masjid setempat. Setelah itu, almarhum dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Sidotopo, diiringi doa dan linangan air mata.
Sebelum tiba di Magelang, jenazah sempat dibawa ke RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga untuk menjalani visum. Pemeriksaan tersebut dilakukan semata-mata untuk mengetahui perkiraan waktu meninggal dunia.
Bagi keluarga, proses ini bukan untuk mencari kesalahan atau pihak yang disalahkan, melainkan demi kepastian waktu untuk menentukan hari tahlil dan doa.
Di tengah duka yang menyelimuti, Dhani Rusman menunjukkan sikap penuh keteguhan.
Dengan suara lirih namun mantap, ia menegaskan bahwa kepergian putra bungsunya adalah murni musibah.
“Kami telah mengikhlaskan kepergiannya. Anak saya memang murni musibah kecelakaan,” ucapnya saat ditemui di area basecamp Gunung Malang.
Kalimat itu menjadi penanda bahwa keluarga memilih berdamai dengan takdir, meski luka kehilangan masih terasa dalam.
Syafiq bukanlah pendaki berpengalaman. Gunung Andong adalah gunung pertama yang pernah ia daki. Gunung Slamet menjadi gunung kedua dan ternyata, yang terakhir.
Bahkan, perjalanan ke Slamet sejatinya bukan rencana awal.
“Syafiq awalnya pamit ke Gunung Sumbing,” tutur Dani, mengenang cerita sang anak.
Namun di tengah perjalanan, rencana itu berubah. Entah karena dorongan spontan atau keputusan di lapangan, langkah Syafiq justru berbelok menuju Gunung Slamet gunung yang kemudian menjadi saksi perjalanan terakhirnya.
Baca juga: Relawan Lahar Brata Bongkar Sikap Tak Empati Himawan saat Diinterogasi Soal Syafiq: Asik Main Game
Sebelum kabar hilang itu menyelimuti keluarga, Syafiq sempat mengirim pesan singkat kepada ibunya. Sebuah kalimat sederhana yang kini menjadi kenangan paling perih.
“Duh Bun, aku kok kesasar ke Gunung Slamet.”
Pesan singkat itu kini dibaca ulang dengan dada sesak sebuah isyarat bahwa langkah sang anak telah berada di jalur yang tak ia rencanakan sejak awal.
Dani Rusman memilih berada langsung di jalur pendakian saat proses evakuasi berlangsung.
Ia menyaksikan sendiri bagaimana relawan dan tim SAR berjuang menurunkan jenazah putranya dari Gunung Slamet.
Selama 15 hari pencarian, keluarga tak pernah berhenti berikhtiar. Mereka menelusuri informasi di internet, mendatangi basecamp demi basecamp, dan terus memanjatkan doa tanpa jeda.
“Segala macam cara kami lakukan. Tapi mungkin Allah saat itu belum menunjukkan kekuasaan-Nya.
Alhamdulillah Allah menunjukkan jalan sehingga Syafiq bisa ketemu,” ucapnya.
Di balik duka mendalam, Dani menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada tim SAR gabungan, para relawan, serta warga Desa Clekatakan dan sekitarnya.
“Mereka luar biasa. Naik turun gunung siang malam, hujan badai, tanpa pandang bulu. Semua ikhlas membantu mencari anak kami,” katanya.
Bagi keluarga, ketulusan para relawan menjadi cahaya di tengah gelapnya kehilangan.
Baca juga: Pengakuan Himawan saat Diinterograsi, Sempat Cekcok dengan Syafiq Sebelum Berpisah, Apa Pemicunya?
Keluarga memutuskan untuk tidak melakukan otopsi. Dani menegaskan, keluarga hanya ingin mengetahui perkiraan waktu wafat Syafiq.
“Kami hanya ingin tahu perkiraan waktu meninggalnya anak kami, supaya bisa menentukan hari tahlil. Itu saja,” jelasnya.
Lebih dari itu, keluarga memilih menutup pintu prasangka.
Nama Himawan, rekan pendakian Syafiq sejak SMP, sempat menjadi sorotan publik karena keterangannya dinilai janggal oleh sebagian relawan.
Namun Dani memilih sikap yang menenangkan.
“Saya sudah ikhlas. Saya tidak mengaitkan ini dengan siapa pun. Himawan sahabat Ali, saya anggap juga anak saya sendiri,” tegasnya.
Baginya, keikhlasan adalah jalan terbaik untuk merawat duka.
Meski demikian, di lapangan, sejumlah relawan mencatat adanya keterangan yang berubah-ubah sejak awal pencarian.
Versi cerita yang tidak sepenuhnya saling mengunci memunculkan kegelisahan.
Bukan sebagai tuduhan, melainkan sebagai upaya memahami apa yang sebenarnya terjadi di gunung.
Dalam operasi SAR, kejelasan kronologi adalah kunci keselamatan.
Baca juga: Alasan Tim SAR Geser Lokasi Pencarian Syafiq Ali ke Jalur Gunung Malang, Berbuah Penemuan Tragis
Relawan Lahar Brata mengungkapkan pengalamannya saat Himawan dimintai keterangan.
“Informasi beberapa teman, Mas Himawan awal-awal diintrogasi itu menjawab pertanyaan sambil main game. Itu ya, itu terverifikasi,” ungkap Lahar dalam siaran langsung yang dikutip TribunTrends, Jumat (16/1/2025).
Pernyataan ini menjadi sorotan karena datang dari relawan lapangan yang dikenal aktif dan berpengalaman.
Lahar juga menyampaikan adanya pengakuan cekcok antara Syafiq dan Himawan sebelum keduanya berpisah.
“Mas Himawan menyampaikan bahwa mereka sempat cekcok. Tapi cekcok seperti apa tidak pernah dijelaskan secara detail,” ujarnya.
Menurut Lahar, peristiwa itu memang disebutkan, namun tidak pernah diurai secara utuh, menyisakan ruang kosong dalam rangkaian kronologi.
Ia menegaskan, setiap pernyataan yang disampaikannya memiliki dasar dokumentasi dan rekaman.
Kini, pencarian panjang itu telah berakhir. Bagi keluarga, Syafiq telah pulang bukan hanya dari Gunung Slamet, tetapi ke pangkuan Sang Pencipta.
Keikhlasan menjadi penutup dari perjalanan yang dimulai dengan harapan, diuji oleh ketidakpastian, dan berakhir dengan doa.
***