Ucapan Siswa yang Bikin Guru di Jambi Mendidih Lalu Menampar, Berakhir Dikeroyok, Ini 7 Faktanya
January 16, 2026 02:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Jagat maya dalam beberapa hari terakhir diguncang video viral yang memperlihatkan aksi pengeroyokan terhadap seorang guru oleh sekelompok siswa di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.

Rekaman tersebut memicu gelombang kecaman sekaligus spekulasi liar di ruang publik.

Guru yang menjadi korban diketahui bernama Agus Saputra.

Ia mendatangi Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jambi pada Rabu (14/1/2026) untuk memberikan klarifikasi secara langsung atas peristiwa yang menyeret namanya.

Kehadiran Agus bukan tanpa alasan.

Ia merasa perlu meluruskan berbagai narasi negatif yang telanjur beredar luas, mulai dari tudingan menghina siswa dari keluarga kurang mampu hingga isu membawa senjata tajam ke lingkungan sekolah.

Untuk memperjelas duduk perkara yang sebenarnya, berikut tujuh fakta terkait insiden pengeroyokan guru oleh siswa di Jambi.

Baca juga: Lengkap Isi Chat WA Syafiq Ali dengan Ibunya, Sempat Bercanda Tersesat Ternyata Kejadian Sungguhan

1. Pemicu Awal: Pelecehan Verbal terhadap Guru

Insiden bermula pada Selasa pagi (13/1/2026). Agus Saputra yang merupakan guru Bahasa Inggris mengaku mendapat pelecehan verbal saat berjalan di lingkungan sekolah.

Ia mendengar kata-kata kasar yang merendahkan martabatnya sebagai pendidik dari salah satu ruang kelas.

"Awalnya saya dipanggil dengan kata-kata kasar oleh siswa. Saya datangi, lalu saya tampar sebagai bentuk pembelajaran," ujar Agus di kantor Dinas Pendidikan Provinsi Jambi.

Ia menyebut tindakan fisik tersebut adalah refleks spontan karena siswa yang bersangkutan justru menantang saat ditegur.

Tangkapan layar video yang beredar di media sosial saat guru dikeroyok siswa di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Selasa (1312026)(WA Grup Jambi)
Tangkapan layar video yang beredar di media sosial saat guru dikeroyok siswa di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Selasa (1312026)(WA Grup Jambi) (Tribun Trends)

2. Mengaku Sering Dirundung Siswa Selama 2 Tahun

Meski sudah mengabdi lebih dari 15 tahun, Agus mengaku baru kali ini kehilangan kesabaran.

Menurutnya, selama dua tahun terakhir, pelaku dan sejumlah siswa laki-laki lainnya kerap melakukan perundungan (bullying) terhadap dirinya.

"Bertahun-tahun saya dirundung pelaku. Siswa laki-laki lain juga begitu. Selama ini sabar karena risiko mengajar, tapi hari ini saya tidak tahan," ungkap Agus.

3. Penjelasan soal Video Membawa Celurit

Terkait video viral yang memperlihatkan dirinya membawa celurit dan mengejar siswa, Agus memberikan pembelaan. Ia menegaskan alat tersebut adalah peralatan pertanian milik sekolah karena sekolah tersebut memiliki jurusan pertanian.

"Saya tidak ada niat mau melukai, saya bawa celurit untuk menggertak dan membela diri agar kejadian pengeroyokan tak kembali berulang," jelasnya.

Ia mengaku membawa alat tersebut agar massa siswa yang emosional segera membubarkan diri demi menyelamatkan nyawanya.

4. Membantah Menghina "Siswa Miskin"

Salah satu narasi yang paling menyudutkan Agus di media sosial adalah tudingan bahwa ia menghina status ekonomi siswa.

Agus membantah keras hal tersebut. Ia menjelaskan bahwa konteks bicaranya adalah memberikan motivasi umum agar siswa mematuhi aturan demi masa depan.

"Tak ada niat mau mengejek atau menghina. Konteksnya mendorong siswa mematuhi aturan, sebagai motivasi umum, tidak spesifik ke individu siswa," tambahnya.

GURU DIKEROYOK SISWA - Guru bahasa Inggris, Agus Saputra korban pengeroyokan anak didiknya usai melakukan klarifikasi ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, Rabu (1412026). (Istimewa dan Kompas.com)

5. Dikeroyok Massa Siswa Berbagai Angkatan

Ketegangan memuncak saat jam pulang sekolah. Meski sempat dilakukan mediasi di ruangan ber-CCTV, situasi berakhir ricuh. Agus dikeroyok oleh massa siswa yang terdiri dari kelas 1, 2, hingga kelas 3.

Akibatnya, ia mengalami kekerasan fisik yang videonya kemudian tersebar luas di ranah digital.

6. Enggan Melapor ke Polisi karena Sayang Siswa

Meskipun menjadi korban kekerasan, Agus Saputra mengaku berat hati jika harus menempuh jalur hukum. Ia mempertimbangkan masa depan dan kondisi psikologis anak didiknya tersebut.

“Saya merinding kalau harus melapor ke polisi. Mereka ini anak didik saya, masih sekolah dan secara psikologis butuh bimbingan," kata Agus dengan nada getir.

7. Respons Gubernur Jambi dan Dinas Pendidikan

Gubernur Jambi, Al Haris, menyatakan akan bertindak tegas namun tetap mengedepankan mediasi. Ia menekankan bahwa guru tidak boleh berkata tidak patut, namun siswa juga tidak dibenarkan menghakimi guru dengan kekerasan.

"Kalau gurunya salah kita berikan sanksi. Namun, siswa tidak dibenarkan menghakimi guru dengan kekerasan. Penyelesaian harus dilakukan secepatnya melalui mekanisme mediasi secara kekeluargaan," tegas Al Haris, Kamis (15/1/2026).

Sementara itu Kepala Sekolah, Ranto M, memastikan bahwa pihak sekolah telah melakukan mediasi yang melibatkan Forkopimcam, kepolisian, dan Babinsa.

Saat ini, kegiatan belajar mengajar dilaporkan sudah kembali kondusif. Sementara itu, tim dari Dinas Pendidikan Provinsi Jambi masih terus mengumpulkan keterangan untuk menentukan sanksi atau keputusan terkait posisi Agus Saputra di sekolah tersebut.

(Kompas.com/TribunTrends.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.