Sosok Alumni UGM yang Ungkap Pengakuan Benny Soal Eggi Sudjana Ditawari Jokowi Proyek Triliunan
January 16, 2026 03:05 PM

 

SURYA.co.id – Kabar mengejutkan kembali mengemuka di ruang publik.

Nama Eggi Sudjana dikaitkan dengan isu tawaran proyek bernilai triliunan rupiah yang disebut-sebut datang dari Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).

Informasi tersebut pertama kali diungkap oleh Benny Parapat dan disampaikan ke publik melalui Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun.

Pengakuan itu mencuat setelah Refly membacakan pesan singkat WhatsApp yang ia terima dari Benny Parapat dalam program Rakyat Bersuara di iNews, Selasa malam (13/1/2026).

Percakapan itu diklaim sebagai hasil komunikasi langsung antara Benny dan Eggi Sudjana.

Chat WhatsApp Dibacakan di TV Nasional

Refly Harun mengungkapkan bahwa informasi tersebut berawal dari percakapan Benny Parapat dengan Eggi Sudjana melalui WhatsApp.

Benny disebut sengaja menghubungi Eggi setelah mengetahui kabar pertemuannya dengan Jokowi di Solo, bersama Damai Hari Lubis yang belakangan menjadi tersangka dalam kasus tudingan ijazah palsu.

“Seseorang itu mengirimkannya kepada saya, dan orang tersebut bersedia dibacakan WA-nya,” kata Refly, dikutip SURYA.co.id dari tayangan Rakyat Bersuara di iNews, Selasa malam (13/1/2026).

Refly kemudian membacakan isi pesan yang dikirim Benny Parapat pada Senin malam.

“Itu WA chat langsung dari ES (Eggi Sudjana) ke saya hari ini jam 11.57. Setelah kemarin saya tanyakan perihal isu datangnya ES dan DHL ke rumah Jokowi. Saya hanya kirim itu ke Bang Refly. Saya tidak ada kirim itu ke RRT (Roy, Rismon, Tifa). Rencananya ES akan klarifikasi antara Rabu dan Jumat minggu ini,” demikian chat Benny menurut Refly.

Refly menambahkan bahwa Benny mengaku siap mempertanggungjawabkan kebenaran informasi tersebut.

“A1 dari ES,” kata Benny.

Baca juga: Sosok Benny Parapat yang Sebut Eggi Sudjana Ditawari Jokowi Proyek Triliunan, Diungkap Refly Harun

Diklaim Ada Undangan ke Luar Negeri dan Jaminan Proyek Triliunan

Lebih lanjut, Refly membacakan lanjutan pernyataan Benny yang berisi kronologi dugaan tawaran tersebut.

Dalam pesan itu, disebutkan bahwa Eggi Sudjana pernah mendatangi Jokowi atas undangan langsung, bahkan disebut sempat disiapkan perjalanan ke luar negeri.

“BES (Bang Eggi Sudjana) mengklarifikasi dengan bukti-bukti dan saksi: Satu, bahwa BES benar mendatangi JKW (Jokowi) atas permintaan dan undangan JKW beberapa bulan yang lalu, bahkan dikondisikan ke LN (luar negeri), dengan servis yang amat istimewa dan jaminan dapat proyek nilai triliunan, mekanisme bank resmi. Dapat diwujudkan karena T (triliunan) itu ready,” kata Benny.

TUDING - Benny Parapat menyebut Eggi Sudjana ditawari proyek triliunan oleh Jokowi. Pengakuan Benny itu diungkapkan kepada kuasa hukum Roy Suryo, Refly Harun.
TUDING - Benny Parapat menyebut Eggi Sudjana ditawari proyek triliunan oleh Jokowi. Pengakuan Benny itu diungkapkan kepada kuasa hukum Roy Suryo, Refly Harun. ((Ho/Campus League)/IG @ratna_listy)

Namun, menurut klaim tersebut, kesepakatan akhirnya gagal karena adanya syarat tertentu.

“Tapi akhir jalan ke luar negeri tawaran deal best, mesti bersedia minta M (maaf) pada J (Jokowi). Demi Allah, BES menolaknya hingga gagallah deal tersebut.”

Dari rangkaian pesan itu, Refly Harun menyimpulkan bahwa Eggi Sudjana memang pernah mendapatkan tawaran proyek bernilai besar, meski tidak terealisasi.

Kubu Jokowi Tegas Membantah

Pihak yang mengatasnamakan kubu Jokowi langsung merespons isu tersebut. Ketua Umum Kami Jokowi, Razman Nasution, menyatakan keraguannya atas keaslian dan isi pesan yang dibacakan Refly Harun.

“Bang Eggi selalu cerita ke saya bagaimana kondisinya. Proyek pun, Bang Egi saya yakin itu tidak ada. Saya pastikan ini tidak ada,” kata Razman dalam acara yang sama.

Razman juga meminta Eggi Sudjana tampil langsung di hadapan publik agar isu ini tidak berkembang menjadi kegaduhan.

“Saya katakan bahwa pada waktu itu tidak mungkin ada tawaran Rp1 triliun. Mohon maaf, tidak yakin saya. Dan Bang Eggi tidak ngerti proyek-proyek,” ujarnya.

Bantahan senada disampaikan oleh Andi Azwan. Ia menegaskan bahwa isu proyek triliunan telah dikonfirmasi tidak benar oleh ajudan Jokowi.

“Masalah triliunan dan sebagainya tidak ada sama sekali. Itu sudah terkonfirmasi oleh Kompol Syarif (ajudan Jokowi) masalah itu,” ujar Andi.

“Tidak ada pembicaraan mengenai yang dikatakan triliunan itu, apalagi beliau (Jokowi) bukan presiden."

Baik Razman maupun Andi sama-sama mendorong Eggi Sudjana untuk memberikan klarifikasi terbuka agar polemik ini tidak terus berkembang di tengah masyarakat.

Sosok Refly Harun

Melansir dari Wikipedia, Refly Harun lahir 26 Januari 1970.

Ia adalah seorang pakar hukum tata negara dan pengamat politik Indonesia.

Refly mengenyam pendidikan sarjananya di Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ia juga aktif di kampus sebagai ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum, seperti tertulis di situs UGM.

Setelah lulus pada tahun 1995, ia memulai kariernya menjadi wartawan. Ia menjadi wartawan di Media Group.

Dia akhirnya memutuskan berhenti dari dunia jurnaslitik dan masuk ke dunia akademisi.

Ia melanjutkan pendidikan S2-nya di Universitas Indonesia di Fakultas Hukum dan program S3-nya di University of Notre Dame, Amerika Serikat.

Karier intelektualnya diuji di lapangan.

Dia mulai menjadi narasumber, pembicara, dan pengamat persoalan hukum tata negara, sengketa Pilkada, dan Pilpres.

Dia juga aktif sebagai konsultan dan peneliti di Centre of Electoral Reform (CETRO).

Selain itu, dia menjadi staf ahli salah seorang hakim konstitusi di Mahkamah Konstitusi (MK). Bahkan dia pernah ditunjuk menjadi ketua tim Anti Mafia MK oleh Ketua MK, Mahfud MD.

Sejak itu namanya makin bersinar. Ia sering menjadi penulis lepas, narasumber, dan muncul di layar kaca.

Pasca pemilihan umum Presiden Indonesia 2014, ia masuk staf ahli presiden.

Tak lama menjadi staf ahli, ia ditunjuk menjadi Komisaris Utama Jasa Marga.

Refly sebagai akademisi aktif mengajar sebagai dosen tetap Ilmu Hukum di Universitas Tarumanagara.

Refly pernah menjabat sebagai Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen PT Pelindo I.

Namun, jabatan itu dicopot Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir pada 2020. 

Selain mencopot Refly, Erick juga mencopot tiga komisaris lainnya. Mereka adalah Heryadi, Bambang Setyo Wahyudi  dan Lukita Dinarsyah Tuwo. Dengan demikian, ada empat komisaris Pelindo I yang diberhentikan dari jabatannya pada hari Senin (20/4/2020).

Kemudian sebagai gantinya, Erick menambah lima komisaris baru. Artinya ada tambahan satu jabatan komisaris dari sebelumnya.

Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga mengatakan, alasan pencopotan Refly Harun dan tiga direksi lainnya dalam rangka refreshing saja. 

"Perlu refreshing di Pelindo sehingga kita ganti empat orang. Jadi mudah-mudahan dengan refreshing ini mudah-mudahan membuat Pelindo I juga akan semakin bergairah kinerjanya," kata Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga, Senin (20/4).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.