TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Beragam keluhan diutarakan para pedagang dan pelaku usaha yang direlokasi menuju bangunan baru Pasar Terban, Kota Yogyakarta.
Antara lain, kondisi sentra kuliner atau food court yang kurang representatif untuk menjajakan makanan dan minuman di lantai tiga Pasar Terban.
Kemudian, keluhan juga disampaikan para penjahit di lantai dua yang menilai bentuk mejanya jauh dari kata layak untuk melangsungkan aktivitas usaha.
Kendala tersebut, diutarakan oleh Ketua Paguyuban Penjahit Pinang Perak, Markoni, yang direlokasi dari kawasan barat Manna Kampus Simanjuntak
"Tempat itu tidak memungkinkan untuk penjahit masuk. Kami harus rehab dulu, dan itu biaya sendiri. Bayangkan, niatnya memberi tempat, tapi di depan dan belakang justru dikasih meja cor. Tidak bisa kerja kalau begitu, mesin jahit mau ditaruh mana," ujarnya.
Menyikapi beragam keluhan itu, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyatakan, bahwa Pasar Terban belum diserahterimakan kepada Pemkot.
Baca juga: Delapan Muda-Mudi Diamankan Polisi di Imogiri, Ditemukan Pil Sapi dan Clurit
Sebagai informasi, gedung baru Pasar Terban dibangun oleh pemerintah pusat pada tahun 2025 lalu, dengan total biaya sekitar Rp55 miliar.
"Belum ada serah terima dari pihak yang membangun kepada kami. Sehingga, ini sifatnya uji coba sambil evaluasi kekurangan," tandasnya.
Oleh sebab itu, Hasto memastikan, pihaknya siap menampung masukan dari para pedagang yang sudah mulai menggulirkan aktivitasnya di sana.
Menurutnya, Pemkot Yogyakarta bakal melaporkan keluhan-keluhan tersebut kepada pelaksana proyek, supaya bisa dilakukan penyesuaian.
"Kalau masih ada keluhan (dari para pedagang) akan segera kami laporkan, untuk ditindaklanjuti," pungkas eks Kepala BKKBN RI itu. (aka)