Misteri Kematian Syafiq Ali di Gunung Slamet, Lokasi Jasad Janggal, Sahabat Korban Disorot
January 16, 2026 06:03 PM

 

BANGKAPOS.COM--Penemuan jasad pendaki asal Magelang, Syafiq Ali, di kawasan Gunung Slamet justru memunculkan babak baru penuh tanda tanya.

Setelah 17 hari dinyatakan hilang, tubuh Syafiq ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di lokasi yang dinilai janggal oleh relawan dan tim pencari.

Perbedaan antara keterangan sahabat korban, Himawan, dengan fakta lapangan membuat kasus ini terus menjadi sorotan.

Syafiq Ali dan Himawan diketahui memulai pendakian Gunung Slamet melalui jalur Dipajaya, Desa Clekatakan, Kabupaten Pemalang, pada 28 Desember 2025.

Keduanya merupakan pendaki yang telah saling mengenal dan memutuskan naik bersama hingga mencapai Pos 5.

Namun di titik tersebut, situasi berubah drastis. Himawan mengalami kram kaki dan kesulitan melanjutkan perjalanan.

Dalam kondisi itu, Syafiq memutuskan turun lebih dahulu untuk mencari bantuan, sementara Himawan diminta menunggu di Pos 5.

Keputusan itulah yang menjadi momen terakhir Syafiq terlihat oleh rekannya.

Menurut pengakuan Himawan, Syafiq turun menuju bawah untuk meminta pertolongan.

Namun hingga malam tiba, Syafiq tak kunjung kembali. Kontak dengan korban terputus, dan peristiwa itu kemudian dilaporkan sebagai kehilangan.

Sejak laporan diterima, tim SAR gabungan bersama relawan dari berbagai daerah langsung melakukan pencarian intensif.

Penyisiran dilakukan berdasarkan keterangan terakhir dari Himawan, yang menyebut titik perpisahan berada di sekitar Pos 5.

Namun, hasil akhir pencarian justru menimbulkan kejanggalan.

Lokasi Penemuan Picu Tanda Tanya

Syafiq Ali ditemukan meninggal dunia pada hari ke-17 pencarian, tepatnya Rabu (14/1/2026).

Lokasi penemuan berada di sekitar Pos 9, jalur Gunung Malang, sekitar lima kilometer dari area yang disebutkan dalam keterangan awal.

Fakta ini langsung memunculkan pertanyaan besar di kalangan relawan dan pendaki.

Pasalnya, Pos 9 dan jalur sekitarnya disebut telah beberapa kali disisir sejak hari-hari awal pencarian.

Amrul (20), relawan independen asal Kabupaten Brebes, mengaku heran dengan waktu dan lokasi penemuan jasad Syafiq.

Menurutnya, area tersebut bukanlah wilayah yang luput dari pencarian.

“Dari hari kedua sampai hari ke-17 itu tidak ditemukan, padahal lokasi sudah pernah dilewati tim pencarian,” ujar Amrul.

Ia menilai ada kejanggalan yang sulit dijelaskan secara logika.

Medan di sekitar lokasi penemuan merupakan area terbuka berupa lereng berbatu, tanah tandus, serta dilintasi aliran sungai kecil.

“Kalau dari logika pencarian, mustahil korban tidak terlihat jika memang sudah berada di sana sejak awal,” tambahnya.

Berdasarkan dokumentasi yang diterima media, jasad Syafiq ditemukan dalam posisi tertelungkup di antara bebatuan.

Sejumlah barang pribadi milik korban seperti sepatu, dompet, dan telepon genggam ditemukan terpisah dari tubuhnya, menambah spekulasi di kalangan relawan.

Keterangan Sahabat Korban Dipertanyakan

Syafiq Ridhan Ali Razan hilang saat mendaki Gunung Slamet pada 27 Desember 2025 dan ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Rabu (14/1/2026) atau setelah 17 hari pencarian.
Syafiq Ridhan Ali Razan hilang saat mendaki Gunung Slamet pada 27 Desember 2025 dan ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Rabu (14/1/2026) atau setelah 17 hari pencarian. (Dok istimewa/Tribun Jogja/IST/Dok Pr)

Perbedaan antara keterangan Himawan dan lokasi penemuan jasad membuat publik mulai mempertanyakan peran sahabat korban tersebut.

Himawan menyebut Syafiq turun untuk mencari bantuan, namun kenyataannya tubuh Syafiq justru ditemukan di jalur atas.

Sejumlah relawan menduga keterangan yang tidak konsisten tersebut berpotensi membuat arah pencarian keliru, sehingga waktu emas penyelamatan terlewatkan.

Meski demikian, hingga kini belum ada kesimpulan resmi dari pihak berwenang terkait dugaan tersebut.

Aparat masih fokus pada proses evakuasi dan pemeriksaan lanjutan terhadap jenazah korban.

Pernyataan Menyejukkan dari Ayah Korban

Di tengah derasnya kecurigaan terhadap Himawan, pernyataan berbeda justru datang dari ayah kandung Syafiq Ali, Dhani Rusman.

Dalam sebuah video yang beredar di media sosial Threads melalui akun @mountnesia, Dhani menyampaikan sikap penuh empati dan keteduhan.

Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, Dhani mengungkapkan bahwa keluarganya tetap menganggap Himawan sebagai bagian dari keluarga.

“Karena Mas Himawan adalah sahabat Ali, jadi kami pun akan menganggap Mas Himawan seperti anak kami sendiri,” ujar Dhani.

Ia bahkan mempersilakan Himawan untuk datang ke rumah dan menganggap rumah tersebut sebagai rumahnya sendiri.

“Jangan malu, jangan sungkan ya Mas Himawan. Tetap nanti kami pun keluarga dari Ali akan menyayangi Himawan,” lanjutnya sambil menangis.

Pernyataan tersebut mendapat respons luas dari warganet yang menilai sikap keluarga korban sebagai bentuk kebesaran hati di tengah duka mendalam.

Pencarian hingga Libatkan Pendekatan Alternatif

Amrul juga mengungkapkan bahwa dalam proses pencarian, tim relawan sempat melibatkan pendekatan nonkonvensional.

Seorang anak indigo dari Kabupaten Cilacap didatangkan untuk membantu upaya pencarian.

“Saya bersama tim relawan independen dan anak indigo ditugaskan di Pos 9, tapi tidak sampai ke lokasi ditemukannya jasad Syafiq,” kata Amrul.

Penjelasan yang diterima relawan dari anak indigo tersebut bahkan disebut berada di luar nalar.

“Kata anak indigonya, almarhum tertutup hal gaib yang tidak terlihat,” ungkap Amrul.

Meski demikian, relawan menegaskan bahwa pendekatan utama tetap dilakukan secara teknis dan prosedural sesuai standar SAR.

Evakuasi Sempat Tertunda

Proses evakuasi jenazah Syafiq sempat direncanakan dilakukan pada Rabu (14/1/2026).

Namun cuaca buruk dan jarak pandang terbatas memaksa tim SAR gabungan menunda evakuasi demi keselamatan personel.

Rescuer Kantor SAR Semarang Unit Siaga SAR Pemalang, Handika Hengki, menjelaskan bahwa hujan dan kondisi malam hari sangat berisiko.

“Harusnya tadi bisa turun, tapi karena cuaca hujan dan malam hari jarak pandang terbatas, itu bisa membahayakan personel,” ujarnya.

Evakuasi kemudian dijadwalkan ulang pada keesokan hari, dengan pergerakan estafet dari Pos 5 hingga ke bawah.

Tahapan Lanjutan dan Pemeriksaan

Handika menegaskan bahwa operasi SAR resmi sebenarnya telah ditutup sesuai SOP Basarnas setelah tujuh hari pencarian ditambah dua hari perpanjangan.

Namun Basarnas tetap melakukan pemantauan selama relawan melanjutkan pencarian tahap dua secara mandiri.

Setelah evakuasi selesai, jenazah Syafiq Ali akan menjalani pemeriksaan oleh pihak berwenang, termasuk INAFIS dan kepolisian.

“Biasanya survivor yang ditemukan pasti ada otopsi. Itu memang SOP,” jelas Handika.

Jenazah direncanakan dibawa ke RSI Moga Pemalang untuk proses selanjutnya.

Hingga kini, misteri kematian Syafiq Ali masih menyisakan banyak pertanyaan.

Perbedaan keterangan, lokasi penemuan yang janggal, serta lamanya proses pencarian membuat kasus ini terus menjadi perhatian publik, khususnya di kalangan pendaki dan relawan gunung.

(TribunNewsmaker.com/Tribunbengkulu.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.