Sejarah Makam Mbah Nyai Blora di Boyolali, Ada Jejak Awal Berdirinya Kabupaten Blora di Tanah Cepogo
January 16, 2026 05:12 PM

 

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Di Dukuh Geneng, Kelurahan Mliwis, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, berdiri sebuah makam yang menyimpan potongan penting sejarah Kabupaten Blora.

Makam itu dikenal sebagai Makam Mbah Nyai Blora, tokoh perempuan yang namanya lekat dengan awal mula berdirinya Blora sebagai wilayah pemerintahan.

Makam Mbah Nyai Blora menjadi bagian dari sejarah karena beliau merupakan ibunda Raden Jaya Dipa, Bupati pertama Blora yang bergelar Tumenggung Jaya Dipa.

Selain itu, Mbah Nyai Blora juga dikenal sebagai istri Sunan Pojok Blora, yang dalam berbagai catatan sejarah disebut sebagai Pangeran Pojok atau Tumenggung Suro Bahu.

Baca juga: Rekomendasi Kuliner di Solo, Sate Kambing Muda Pojok Klewer Pak Joko yang DidatangI Wapres Gibran

Tokoh masyarakat setempat, Gus Hanafi, menjelaskan bahwa peran Mbah Nyai Blora sangat penting dalam mata rantai sejarah Blora, meski namanya kerap luput dari catatan tertulis.

“Bupati Blora pertama itu bergelar Tumenggung Jaya Dipa. Mbah Nyai Blora adalah ibundanya,” ujar Gus Hanafi, Jumat (16/1/2026).

Dalam tradisi sejarah lisan yang berkembang di masyarakat, Mbah Nyai Blora wafat saat melakukan perjalanan pulang menuju Mataram bersama putranya.

Perjalanan tersebut terhenti di wilayah Cepogo. 

Di tempat inilah beliau kemudian dimakamkan, jauh dari pusat pemerintahan Blora, namun tetap memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan daerah asalnya.

Keberadaan makam Mbah Nyai Blora di Boyolali menjadi bukti bahwa sejarah Blora tidak terlepas dari dinamika perjalanan tokoh-tokoh pendirinya.

Makam ini menjadi penanda hubungan historis antara Blora, Mataram, dan wilayah lereng Merapi–Merbabu pada masa lalu.

Baca juga: Fenomena Unik di Boyolali, Para Petani Tembakau di Lereng Merapi Turun Gunung Demi Jemur Hasil Panen

Hingga kini, Makam Mbah Nyai Blora masih dirawat oleh masyarakat setempat dan menjadi tujuan ziarah, terutama bagi mereka yang ingin menelusuri jejak awal pemerintahan Blora.

Perawatan makam secara turun-temurun mencerminkan penghormatan terhadap sosok perempuan yang memiliki peran penting dalam sejarah lokal.

Jejak sejarah tersebut kembali mendapat perhatian ketika Bupati Blora Arief Rohman menyempatkan diri berziarah ke makam tersebut, Kamis (15/1/2026), usai menghadiri peringatan Hari Desa Nasional di Boyolali bersama Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) RI, Yandri Susanto.

Didampingi jajaran Forkopimda Kabupaten Blora, ziarah berlangsung khidmat dengan doa bersama.

Kehadiran bupati menjadi simbol pengakuan bahwa Makam Mbah Nyai Blora bukan sekadar situs ziarah, melainkan bagian penting dari sejarah Blora yang patut dijaga dan dikenalkan kepada generasi penerus.

Melalui makam inilah, sejarah Blora tidak hanya berbicara tentang tokoh laki-laki dan struktur kekuasaan, tetapi juga tentang peran perempuan dalam membangun fondasi daerah yang kini terus berkembang.

Baca juga: Rekomendasi Wisata Favorit Warga Sragen, Sendang Kun Gurit Diserbu Ribuan Wisatawan, Ada Wahana Hits

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.