Bahaya! Ini Aturan yang Dilanggar Syafiq Ali dan Himawan di Gunung Slamet hingga Berakhir Tragis
January 16, 2026 05:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Fakta baru terus bermunculan terkait hilang dan tewasnya Syafiq Ridhan Ali Razani di Gunung Slamet.

Satu di antaranya adalah fakta Syafiq Ali dan rekannya Himawan Haidar Bahran, yang melanggar aturan keselamatan dalam pendakian Gunung Slamet.

Hal itu diceritakan oleh Abdul Azis dari Wanadri, Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung, organisasi pecinta alam tertua di Indonesia yang didirikan di Bandung tahun 1964.

Wanadri adalah penginisiasi pencarian tahap kedua dalam insiden hilang dan tewasnya Syafiq Ali di Gunung Slamet.

Abdul Azis mendapatkan cerita tersebut langsung dari Himawan, saat mengunjungi rumahnya di Magelang, Jawa Tengah pada Jumat (9/1/2026).

Awalnya, Himawan dan Syafiq Ali memutuskan mendaki Gunung Slamet pada Sabtu (27/12/2025), pukul 00.00 WIB.

Mereka memulai pendakian di tengah malam, di pukul 00.00 WIB, dengan rencana pendakian tektok melalui jalur Dipajaya.

Pukul 04.00 WIB, mereka tiba di Pos 2 dan sempat shalat Subuh.

Tepat pukul 09.00 WIB, mereka tiba di Pos 5.

Lalu pada pukul 12.00 WIB, mereka tiba di Pos 9, dan terus melanjutkan perjalanan ke puncak.

Pukul 14.00 WIB, baru mereka mencapai puncak Gunung Slamet.

"Secara aturan, kalau pukul 10 pagi belum sampai puncak, pendaki sebaiknya turun.

Tapi mereka berdua ini tetap melanjutkan naik, padahal sudah pukul 2 siang," papar Abdul Aziz dikutip dari KOMPAS.COM, Jumat (16/1/2026).

Aturan turun sebelum pukul 10 pagi dari puncak Gunung Slamet adalah standar keselamatan yang sangat ditekankan oleh pengelola pos, terutama dari pos Bambangan.

Aturan itu diberlakukan untuk memastikan pendaki selamat dan tidak mengalami kesulitan karena faktor cuaca dan waktu. 

Cuaca di puncak Gunung Slamet diketahui bisa berubah sangat cepat, dari cerah menjadi hujan atau badai dalam hitungan menit atau detik.

Saat Himawan dan Syafiq Ali tiba di puncak, mereka hanya menemukan lima pendaki lainnya.

Mereka baru mulai turun pukul 15.00 WIB dengan mengikuti seorang bapak pendaki.

Namun, karena langkah bapak tersebut terlalu cepat, mereka tertinggal dan menjadi pendaki terakhir yang turun hingga akhirnya tersesat.

Baca juga: Mimpi Misterius Syafiq Ali Saat Tersesat di Gunung Slamet: Jalan Keluar Turun ke Jurang

SYAFIQ GUNUNG SLAMET - Kolase potret Syafiq Ali dan Himawan, pendaki yang hilang di Gunung Slamet, Himawan berhasil selamat, sementara Syafiq Ali ditemukan tewas.
SYAFIQ GUNUNG SLAMET - Kolase potret Syafiq Ali dan Himawan, pendaki yang hilang di Gunung Slamet, Himawan berhasil selamat, sementara Syafiq Ali ditemukan tewas. (TikTok/alyyusuf05/Instagram @jejakpendaki)

Kronologi penemuan Syafiq Ali di Gunung Slamet

Syafiq Ridhan Ali Razan memulai pendakian bersama rekannya, Himawan Haidar Bahran, pada Sabtu, 27 Desember 2025 melalui Basecamp Dipajaya, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.

Keduanya berencana melakukan pendakian tektok atau tidak bermalam.

Di tengah perjalanan, Himawan mengalami cedera kaki sehingga kesulitan melanjutkan pendakian.

Melihat kondisi rekannya, Syafiq Ali memutuskan turun sendirian untuk mencari bantuan.

Namun, Syafiq Ali tidak kunjung kembali ke lokasi Himawan berada.

Pada Minggu malam, 28 Desember 2025, tim relawan gabungan mulai melakukan pencarian terhadap kedua pendaki tersebut.

Himawan akhirnya ditemukan lebih dulu dalam kondisi selamat meski lemas di sekitar Pos 9 pada Selasa, 30 Desember 2025.

Ia kemudian dievakuasi ke basecamp oleh tim SAR gabungan.

Sementara itu, Syafiq Ali masih dinyatakan hilang.

Operasi pencarian melibatkan ratusan personel dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri, relawan, serta komunitas pendaki.

Penyisiran dilakukan di jalur resmi pendakian, sumber air, lereng curam, hingga jurang di kawasan Gunung Slamet.

Medan ekstrem dan cuaca buruk menjadi kendala utama selama proses pencarian.

Setelah 13 hari, operasi SAR sempat dihentikan dan dialihkan ke tahap pemantauan.

Namun, upaya pencarian terus dilakukan oleh relawan.

Pada Rabu, 14 Januari 2026, pencarian akhirnya membuahkan hasil.

Syafiq Ali ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Jenazah Syafiq Ali ditemukan di Gunung Malang, area Watu Langgar, pada hari ke-17 pencarian.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pemalang, Agus Ikmaludin, mengonfirmasi penemuan tersebut.

“Syafiq Razan Ali ditemukan di Gunung Malang area Watu Langgar Hari ke-17.

Meninggal dunia,” ujar Agus Ikmaludin kepada wartawan, Rabu (14/1/2026).

Syafiq Ali ditemukan sekitar 5 km dari Pos 9 jalur pendakian Gunung Slamet.

Jenazahnya dievakuasi dari titik penemuan menuju basecamp Dipajaya di Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.

Hal itu disampaikan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Magelang, Catur Budi Fajar Sumarmo.

“Informasi terakhir jam 14 tadi untuk menaikkan jenazah (dari titik penemuan) sampai basecamp Dipajaya membutuhkan waktu kurang lebih 15 jam,” ujarnya di Kantor Pemerintah Kota Magelang, Rabu (14/1/2026).

Setelah tiba di basecamp, jenazah Syafiq Ali akan dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah dr M Ashari Pemalang untuk dimandikan.

Jenazah Syafiq Ali kemudian dibawa pulang dan tiba di Perumahan Depkes, Kota Magelang, Jawa Tengah, pada Kamis, (15/1/2026).

Dhani Rusman, ayah Syafiq Ali bersama rombongan tiba pada pukul 20.27 WIB.

Tangis para sanak saudara pecah begitu melihat kotak putih panjang berisi remaja 18 tahun yang kabarnya dinanti-nanti.

Jenazah lantas disholatkan di masjid setempat dan dikebumikan di tempat pemakaman di Sidotopo.

Sebelum tiba di kompleks Perumahan Depkes, jenazah Syafiq Ali dibawa ke RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga untuk menjalani visum.

(TribunTrends/ Amr)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.