Guru Agus Saputra Alami Trauma Usai Dikeroyok Siswa SMK 3 Tanjab Timur Jambi,Ada Beberapa Luka Lebam
January 16, 2026 06:32 PM

 





TRIBUNSUMSEL.COM --
Agus Saputra guru SMKN 3 Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) Jambi mengalami trauma imbas aksi pengeroyokan dilakukan para siswanya.

Adapun Agus Saputra memilih untuk melaporkan tindakan tersebut ke pihak Polda Jambi pada kamis malam kemarin (15/1/2026).

Alat bukti yang dibawa yakni hasil visum dokter berupa memar di badan sebagai tanda kekerasan dilakukan siswanya.

Melansir dari Tribunjambi.com, Jumat (16/1/2026) Kakak kandung Agus, Nasir mengatakan bahwa langkah hukum ini diambil karena adiknya merasa dirugikan terlebih secara mental setelah kasus ini viral di sosial media.

"Kondisi adik saya sedikit pusing, kita bikin laporan dari jam  empat sore. Adik saya dirugikan secara mental dan sikis terlebih di medsos. Karena kita warga negara kita berhak melapor," kata Nasir.

Ia mangatakan bahwa pasca kejadian Aus telah melakukan visum.

Di mana ada beberapa luka lebam di tubuhnya yang juga akan menjadi bukti untuk  pihak kepolisian.

"Sudah ada visum dan ada bekas lebam," ujarnya.

Sementara itu, Agus yang juga ahdir ke Polda Jambi enggan memberikan banyak komentar atas kejadian ini.

Diketahui laporan tersebut ditujukan ke beberapa siswa dalam video yang viral di sosial media. Nasir mengatakan ada lebih dari satu orang yang dilaporkan.

Sebelumnya, Ketua Osis SMKN 3 Berbak menyebutkan mewakili seluruh siswa, dia meminta maaf.

Sebut guru Agus Saputra kerap menindas, Ketua OSIS SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi minta dipindahkan.

Pasca insiden pengeroyokan guru SMK di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi, Ketua OSIS sampaikan permintaan maaf.

Selain permintaan maaf, Ketua OSIS wanita dalam video yang diunggah akun Instagram @cicitvjambi menyebutkan jika para siswa meminta guru yang ada dalam video viral dipindahkan.

"Di sini saya sebagai Ketua OSIS di SMK 3 Tanjung Jabung Timur ingin menyampaikan permintaan maaf terhadap instansi yang terlibat, dengan tersebarnya video pengeroyokan terhadap guru," kata dia, dikutip dari video yang diunggah akun Instagram @cicitvjambi, Rabu (14/1/2026) malam, dikutip Tribunjambi.com

Kata perwakilan siswa itu, pengeroyokan itu terjadi karena guru sering menindas siswanya.

"Hal tersebut terjadi karena oknum tersebut sering  menindas kami di SMK Negeri 3 Tajung Jabung Timur," lanjutnya.

"Kami hanya ingin beliau dipindahkan ke tempat yang lain, karena kami tidak nyaman beliau ada di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur ini," tutup perwakilan siswa yang juga ketua OSIS SMKN 3 Tanjab Timur tersebut.

 

GURU DIKEROYOK - Agus Saputra, seorang guru diduga menjadi korban pengeroyokan siswanya di SMK Pertanian di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) Jambi.
GURU DIKEROYOK - Agus Saputra, seorang guru diduga menjadi korban pengeroyokan siswanya di SMK Pertanian di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) Jambi. (Instagram/Jambisharing)

 

Kronologi Penganiayaan

Seorang guru menjadi korban dugaan pengeroyokan siswa SMK di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi pada Selasa (13/01/2026).

Guru SMK di Tanjab Timur yang bernama Agus Saputra itu mengatakan, kejadian bermula saat dirinya ditegur oleh seorang siswa.

Dia ditegur siswa tersebut dari kelas, saat proses belajar mengajar berlangsung, sekira pukul 09.00 hingga 10.00 WIB.

Menurutnya, teguran itu bernada tidak sopan dan sempat direkamnya

Saat itu, siswa yang menegur sedang mengikuti mata pelajaran olahraga (Penjas).

"Guru olahraganya juga ada pada saat itu. Pada saat itu juga saya datang ke kelasnya. Saya tanya siapa yang meneriakkan saya dengan kata-kata yang tidak pantas itu,” katanya, dikutip Tribunjambi.com

Dia menuturkan, secara refleks satu diantara siswa itu mengaku.

“Refleks dia bilang saya kemudian saya tampar satu kali,” tuturnya.

Agus menjelaskan, pada jam istirahat dirinya ditantang kembali oleh siswa tersebut.

Kejadian tersebut berlarut hingga pukul 13.00 sampai 16.00 WIB.

“Terjadi mediasi sebelum ada pengeroyokan terhadap saya. Saya sudah berusaha tenang. Pada saat itu saya masih berada di dalam kantor dengan ada CCTV sebagai pembuktian,” jelasnya.

Agus menerangkan, saat mediasi, dirinya menanyakan apa keinginan siswa tersebut.

“Mereka meminta saya meminta maaf untuk hal yang tidak saya lakukan. Kemudian saya membeli alternatif kepada mereka,” terangnya.

Jalan alternatif itu berupa pembuatan petisi. 

“Membuat petisi, kalau seandainya mereka tidak menginginkan saya lagi untuk mengajar di sana. Atau, mereka mengubah perangai (perilaku) mereka menjadi lebih baik lagi dari sekarang,” ujarnya.

Agus menambahkan, dirinya sempat diajak komite sekolah seusai mediasi.

“Saya diajak komite masuk ke ruang kantor, di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, kelas 2, kelas 3,” ucapnya.

Dia mengatakan, kejadian itu segera diamankan aparat keamanan.

“Ada aparat datang ke tempat saya, alhamdulillah kooperatif dengan segala macam tentunya guru-guru juga ada yang membantu,” katanya.

Akibat kejadian tersebut, Agus mengaku mengalami cidera dibeberapa bagian tubuhnya.

“Bengkak tangan saya, masih sakit. Bagian belakang (punggung) memar-memar,” ungkapnya.

Dia menegaskan, dirinya tidak menganiaya siswa tersebut. 

“Saya tegaskan saya tidak menganiaya anak tersebut. Satu kali tamparan sebut merupakan pendidikan dasar moral yang saya tanamkan untuk anak tersebut,” tegasnya.

“Jadi, mungkin nanti bisa dilihat saya dikeroyok saja. saya tidak melawan dan tidak membalas mereka boleh cek di videonya saya hanya membela," terangnya.

Sebelumnya, Beredar video seorang guru SMK di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi terlibat cekcok dengan sejumlah siswa.

Cekcok ini berubah jadi kericuhan dan pengeroyokan guru sebuah SMK di Kecamatan Berbak.

Dari video beredar yang berdurasu 3 menit 28 detik, terlihat seorang guru pria beradu argumen dengan siswa,

Dari informasi beredar, insiden dalam video ini dipicu ucapan guru yang menyinggung muridnya.

Disebut-sebut guru ini melontarkan kalimat terkait kondisi ekonimi orangtua siswa.

Dalam video juga terlihat adu argumen berujung gaduh dan aksi pengeroyokan.

 

Klarifikasi Video Kejar Siswa Pakai Sajam

Sementara, Agus juga menanggapi soal potongan video yang merekam sang guru guru membawa senjata tajan jenis celurit mengejar beberapa siswanya.

Agus mengatakan, SMK tersebut merupakan SMK Pertanian.

“Kebetulan SMK kami itu SMK Pertanian, jadi peralatan pertanian. Kayak cangkul dan sebagainya itu memang sudah tersedia di dalam kantor, memang tersimpan rapi,” katanya, Rabu (14/01/2026).

Dia beralasan menggunakan celurit dan mengejar pelaku pengeroyok hanya untuk menggertak saja.

“Kenapa saya pakai itu? Hanya untuk mengeretak mereka agar bubar seperti itu. Tidak ada niat lain untuk selain itu,” ujarnya.

Agus menegaskan, dirinya melakukan hal itu hanya untuk membela diri.

“Saya tidak berniat untuk melakukan kejahatan terbukti videonya saya hanya mengejar mereka agar bubar. Pada kenyataannya mereka tidak bubar juga,” ucapnya.

“Kemudian kalau tidak seperti itu mungkin ada kejadian buruk lagi yang menimpa saya seandainya saya tidak melakukan hal tersebut,” lanjutnya.

Agus mengatakan, dirinya dilemari batu saat peristiwa tersebut.

“Mereka malah melempari saya dengan banyak-banyak hal yang anarkis seperti batuan, batu bata dan sebagainya,” katanya.

Terkait hal tersebut, dia masih menimbang untuk melaporkan kasus tersebut ke pihak kepolisian.

Sebab, siswa tersebut masih sekolah dan sudah lama dia didik.

Agus berpendapat, keadaan siswa tersebut memerlukan bimbingan secara psikologis.

“Karena saya merinding kalau tanya itu karena mereka sudah lama saya didik. Walaupun bukan anak kandung tapi anak didik,” ungkapnya.

Dia juga menanggapi kabar viral terkait kejadian tersebut.

Agus membenarkan dirinya melontarkan kata-kata yang diduga menyinggung perasaan siswa.

“Saya menceritakan secara umum, saya mengatakan kalau kita orangnya kurang mampu itu kalau bisa jangan bertingkah macam-macam itu secara motivasi,” ungkapnya.

Sebab itu, dia berharap kasus tersebut ada yang memediasi.

“Kalau seandainya ini tambah viral dimanapun, saya berharap ini ada yang menengahkan khususnya dinas pendidikan atau juga pihak yang berwenang untuk menyelesaikan persoalan ini agar tidak berlarut-larut,” harapnya.

 (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.