TRIBUNTRENDS.COM - Himawan Haidar Bahran mengaku sempat cekcok dengan Syafiq Ridhan Ali Razani saat tersesat di Gunung Slamet.
Hal itu diceritakan oleh Abdul Azis dari Wanadri, Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung, organisasi pecinta alam tertua di Indonesia yang didirikan di Bandung tahun 1964.
Wanadri adalah penginisiasi pencarian tahap kedua dalam insiden hilang dan tewasnya Syafiq Ali di Gunung Slamet.
Abdul Azis mendapatkan cerita tersebut langsung dari Himawan, saat mengunjungi rumahnya di Magelang, Jawa Tengah pada Jumat (9/1/2026).
Percekcokan itu terjadi karena kesalahan memilih jalur turun.
Mereka mengalami disorientasi soal arah akibat cuaca buruk yang mengadang.
Awalnya, Himawan dan Syafiq Ali memutuskan mendaki Gunung Slamet pada Sabtu (27/12/2025), pukul 00.00 WIB.
Mereka memulai pendakian di tengah malam, di pukul 00.00 WIB, dengan rencana pendakian tektok melalui jalur Dipajaya.
Pada Minggu, 28 Desember 2025, pukul 14.00 WIB, mereka baru mencapai puncak Gunung Slamet.
Tepat pukul 15.00 WIB, mereka baru mulai turun dan menjadi pendaki terakhir yang turun dari puncak.
Di titik inilah, Himawan dan Syafiq Ali mulai disorientasi soal arah akibat cuaca buruk yang mengadang.
"Yang harusnya mereka ke kiri ke arah jalur Dipajaya, mereka malah ke kanan yang mengarah ke Gunung Malang," ujar Abdul Aziz dikutip dari KOMPAS.COM, Jumat (16/1/2026).
Di fase ini, sempat terjadi saling menyalahkan antara Syafiq Ali dan Himawan soal pemilihan jalur, namun mereka tetap melanjutkan turun dengan bergantian menjadi leader.
Mereka mencapai lembahan dan area bebatuan saat hari menjelang gelap, lalu menuruni jalur yang riskan karena licin.
Perjalanan mentok di dekat jurang, sehingga mereka kembali ke atas mencari perlindungan di sebuah batu besar di lembahan.
Mereka memutuskan bermalam dengan pakaian seadanya, saat cuaca cerah, namun kondisi fisik mulai menurun.
Baca juga: Misteri Gaib Gunung Slamet, Anak Indigo Ungkap Alasan Syafiq Ali Baru Ditemukan Setelah 17 Hari
Syafiq Ridhan Ali Razan memulai pendakian bersama rekannya, Himawan Haidar Bahran, pada Sabtu, 27 Desember 2025 melalui Basecamp Dipajaya, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.
Keduanya berencana melakukan pendakian tektok atau tidak bermalam.
Di tengah perjalanan, Himawan mengalami cedera kaki sehingga kesulitan melanjutkan pendakian.
Melihat kondisi rekannya, Syafiq Ali memutuskan turun sendirian untuk mencari bantuan.
Namun, Syafiq Ali tidak kunjung kembali ke lokasi Himawan berada.
Pada Minggu malam, 28 Desember 2025, tim relawan gabungan mulai melakukan pencarian terhadap kedua pendaki tersebut.
Himawan akhirnya ditemukan lebih dulu dalam kondisi selamat meski lemas di sekitar Pos 9 pada Selasa, 30 Desember 2025.
Ia kemudian dievakuasi ke basecamp oleh tim SAR gabungan.
Sementara itu, Syafiq Ali masih dinyatakan hilang.
Operasi pencarian melibatkan ratusan personel dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri, relawan, serta komunitas pendaki.
Penyisiran dilakukan di jalur resmi pendakian, sumber air, lereng curam, hingga jurang di kawasan Gunung Slamet.
Medan ekstrem dan cuaca buruk menjadi kendala utama selama proses pencarian.
Setelah 13 hari, operasi SAR sempat dihentikan dan dialihkan ke tahap pemantauan.
Namun, upaya pencarian terus dilakukan oleh relawan.
Pada Rabu, 14 Januari 2026, pencarian akhirnya membuahkan hasil.
Syafiq Ali ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Jenazah Syafiq Ali ditemukan di Gunung Malang, area Watu Langgar, pada hari ke-17 pencarian.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pemalang, Agus Ikmaludin, mengonfirmasi penemuan tersebut.
“Syafiq Razan Ali ditemukan di Gunung Malang area Watu Langgar Hari ke-17.
Meninggal dunia,” ujar Agus Ikmaludin kepada wartawan, Rabu (14/1/2026).
Syafiq Ali ditemukan sekitar 5 km dari Pos 9 jalur pendakian Gunung Slamet.
Jenazahnya dievakuasi dari titik penemuan menuju basecamp Dipajaya di Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.
Hal itu disampaikan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Magelang, Catur Budi Fajar Sumarmo.
“Informasi terakhir jam 14 tadi untuk menaikkan jenazah (dari titik penemuan) sampai basecamp Dipajaya membutuhkan waktu kurang lebih 15 jam,” ujarnya di Kantor Pemerintah Kota Magelang, Rabu (14/1/2026).
Setelah tiba di basecamp, jenazah Syafiq Ali akan dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah dr M Ashari Pemalang untuk dimandikan.
Jenazah Syafiq Ali kemudian dibawa pulang dan tiba di Perumahan Depkes, Kota Magelang, Jawa Tengah, pada Kamis, (15/1/2026).
Dhani Rusman, ayah Syafiq Ali bersama rombongan tiba pada pukul 20.27 WIB.
Tangis para sanak saudara pecah begitu melihat kotak putih panjang berisi remaja 18 tahun yang kabarnya dinanti-nanti.
Jenazah lantas disholatkan di masjid setempat dan dikebumikan di tempat pemakaman di Sidotopo.
Sebelum tiba di kompleks Perumahan Depkes, jenazah Syafiq Ali dibawa ke RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga untuk menjalani visum.
(TribunTrends/ Amr)