Pantas Himawan Bisa Selamat di Gunung Slamet, Makan Buah cantigi dan Dedaunan 
January 16, 2026 05:54 PM

TRIBUNBENGKULU.COM - Nasib mujur dialami oleh Himawan Haidar Bahran, sahabat Syafiq Ali yang tewas di Gunung Slamet. 

Berbeda dari sahabatnya yang hilang selama 17 hari lalu ditemukan tewas, Himawan justru berhasil bertahan hidup. 

Meski sempat tersesat Himawan ditemukan dalam keadaan selamat. 

Muncul pertanyaan, bagaimana bisa dirinya bisa bertahan hidup di tengah kabut tebal Gunung Slamet. 

Apalagi amunisi makanan sudah tidak tersedia lagi. 

Rupanya Himawan bisa tetap bertahan hidup di Gunung Slamet lantaran dirinya memakan buah cantigi dan dedaunan. 

Buah cantigi adalah buah beri kecil berwarna ungu kehitaman yang tumbuh di pegunungan tinggi Indonesia (di atas 1000 mdpl).

Rasa buah ini manis asam saat matang, dan sangat disukai pendaki karena menyegarkan serta menjadi sumber nutrisi darurat.

Cantigi sering disamakan dengan blueberry, dan kaya antioksidan.

Tumbuhan cantigi ini terkenal tangguh, akarnya kuat mencengkeram tanah, dan bagian daun mudanya juga bisa dimakan sebagai lalapan atau obat.

"Kemampuan survive Himawan ini cukup baik.

Dia makan dedaunan sebelum beristirahat di lerengan," papar Abdul Azis dikutip dari KOMPAS.COM, Jumat (16/1/2026).

Awalnya, Himawan dan Syafiq Ali memutuskan mendaki Gunung Slamet pada Sabtu (27/12/2025), pukul 00.00 WIB.

Mereka memulai pendakian di tengah malam, di pukul 00.00 WIB, dengan rencana pendakian tektok melalui jalur Dipajaya.

Pada Minggu, 28 Desember 2025, pukul 14.00 WIB, mereka baru mencapai puncak Gunung Slamet.

Tepat pukul 15.00 WIB, mereka baru mulai turun dan menjadi pendaki terakhir yang turun dari puncak.

Di titik inilah, Himawan dan Syafiq Ali mulai disorientasi soal arah akibat cuaca buruk yang mengadang.

Saat tersesat pada, Senin, 29 Desember 2025, Syafiq Ali terlihat buru-buru ingin turun, namun kondisi kaki Himawan sakit.

"Menurut Himawan, kakinya ditekuk terasa sakit, dan sudah terasa sejak pukul 02.00 pagi," papar Abdul Azis.

Syafiq Ali bergerak ke atas pukul 08.00 dengan berbelok ke kanan untuk mencari bantuan, dan di situlah mereka berpisah.

Himawan sempat tertidur sekitar 1,5 jam, lalu terbangun dengan kondisi kaki yang sudah lebih baik dan berinisiatif menyusul Syafiq Ali.

Namun, Himawan justru berbelok ke kiri menyusuri lerengan, melihat jalur pendakian Baturraden, dan setelah berjalan sekitar 30 menit mendengar Syafiq Ali memanggil namanya dari arah hutan di bawah jurang dekat tempat bermalam.

Himawan mencoba memanggil balik tanpa mendapat respons, lalu kembali ke tempat bermalam dan mengurungkan niat untuk turun ke jurang.

"Diketahui, malam itu Ali sempat bermimpi, dan paginya cerita ke Himawan, bahwa jalan keluarnya bisa turun lewat jurang itu kemudian ke kiri ada permukiman warga," tutur Abdul Azis. 

Himawan memutuskan kembali naik dan sudah tidak mendengar teriakan Ali.

Dia melangkah ke arah kiri hingga menemukan semacam bukit saat hari sudah sore dan berkabut.

"Dia bingung karena sepi tidak ada tanda-tanda pos, akhirnya dia naik lagi mencari tempat bermalam lagi (berbeda dengan tempat sebelumnya).

Saat malam hari Himawan sempat melihat senter pendaki yang sedang summit di kejauhan, namun tidak melewati tempat dia istirahat, karena memang di luar jalur," kata Abdul Azis.

Sebelum hari menjelang malam, sore harinya Himawan sempat makan buah cantigi dan dedaunan untuk mengisi perutnya.

Saat hari mulai terang pada Selasa, 30 Desember 2025, Himawan memutuskan terus naik hingga bertemu pendaki menjelang puncak dan mendapat makanan berupa bakso setelah menceritakan kondisinya.

Himawan kemudian turun didampingi beberapa pendaki, salah satunya menghubungi pihak basecamp untuk menyampaikan informasi bahwa ada pendaki hilang dan satu orang telah ditemukan.

Mereka turun perlahan sambil menunggu bantuan hingga bertemu empat ranger di Pos 9.

Setelah berbincang, Himawan turun ke basecamp didampingi satu ranger, sementara tiga ranger lainnya melanjutkan pencarian Syafiq Ali, dan Himawan tiba di basecamp saat Maghrib.

Kronologi penemuan Syafiq Ali di Gunung Slamet

Syafiq Ridhan Ali Razan memulai pendakian bersama rekannya, Himawan Haidar Bahran, pada Sabtu, 27 Desember 2025 melalui Basecamp Dipajaya, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.

Keduanya berencana melakukan pendakian tektok atau tidak bermalam.

Di tengah perjalanan, Himawan mengalami cedera kaki sehingga kesulitan melanjutkan pendakian.

Melihat kondisi rekannya, Syafiq Ali memutuskan turun sendirian untuk mencari bantuan.

Namun, Syafiq Ali tidak kunjung kembali ke lokasi Himawan berada.

Pada Minggu malam, 28 Desember 2025, tim relawan gabungan mulai melakukan pencarian terhadap kedua pendaki tersebut.

Himawan akhirnya ditemukan lebih dulu dalam kondisi selamat meski lemas di sekitar Pos 9 pada Selasa, 30 Desember 2025.

Ia kemudian dievakuasi ke basecamp oleh tim SAR gabungan.

Sementara itu, Syafiq Ali masih dinyatakan hilang.

Operasi pencarian melibatkan ratusan personel dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri, relawan, serta komunitas pendaki.

Penyisiran dilakukan di jalur resmi pendakian, sumber air, lereng curam, hingga jurang di kawasan Gunung Slamet.

Medan ekstrem dan cuaca buruk menjadi kendala utama selama proses pencarian.

Setelah 13 hari, operasi SAR sempat dihentikan dan dialihkan ke tahap pemantauan.

Namun, upaya pencarian terus dilakukan oleh relawan.

Pada Rabu, 14 Januari 2026, pencarian akhirnya membuahkan hasil.

Syafiq Ali ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Jenazah Syafiq Ali ditemukan di Gunung Malang, area Watu Langgar, pada hari ke-17 pencarian.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pemalang, Agus Ikmaludin, mengonfirmasi penemuan tersebut.

“Syafiq Razan Ali ditemukan di Gunung Malang area Watu Langgar Hari ke-17.

Meninggal dunia,” ujar Agus Ikmaludin kepada wartawan, Rabu (14/1/2026).

Syafiq Ali ditemukan sekitar 5 km dari Pos 9 jalur pendakian Gunung Slamet.

Jenazahnya dievakuasi dari titik penemuan menuju basecamp Dipajaya di Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.

Hal itu disampaikan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Magelang, Catur Budi Fajar Sumarmo.

“Informasi terakhir jam 14 tadi untuk menaikkan jenazah (dari titik penemuan) sampai basecamp Dipajaya membutuhkan waktu kurang lebih 15 jam,” ujarnya di Kantor Pemerintah Kota Magelang, Rabu (14/1/2026).

Setelah tiba di basecamp, jenazah Syafiq Ali akan dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah dr M Ashari Pemalang untuk dimandikan.

Jenazah Syafiq Ali kemudian dibawa pulang dan tiba di Perumahan Depkes, Kota Magelang, Jawa Tengah, pada Kamis, (15/1/2026).

Dhani Rusman, ayah Syafiq Ali bersama rombongan tiba pada pukul 20.27 WIB.

Tangis para sanak saudara pecah begitu melihat kotak putih panjang berisi remaja 18 tahun yang kabarnya dinanti-nanti.

Jenazah lantas disholatkan di masjid setempat dan dikebumikan di tempat pemakaman di Sidotopo.

Sebelum tiba di kompleks Perumahan Depkes, jenazah Syafiq Ali dibawa ke RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga untuk menjalani visum.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.