Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 12 Halaman 190–191 Kurikulum Merdeka: Kearifan Lokal Suku Baduy
January 16, 2026 06:03 PM

BANGKAPOS.COM - Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 12 Halaman 190–191 Kurikulum Merdeka: Kearifan Lokal Suku Baduy

Materi menceritakan kearifan lokal secara runut dan runtut menjadi salah satu pembahasan penting dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 12 Kurikulum Merdeka.

Melalui Bab 5 buku Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia, siswa diminta menyimak kisah suku Baduy serta mengungkapkannya kembali secara lisan dan tertulis.

Baca juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kurikulum Merdeka Kelas 12 Halaman 187

Materi tersebut terdapat dalam buku Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/SMK/MA kelas XII yang ditulis Bambang Trimansyah halaman 189-191.

Saat menuliskan cerita kearifan lokal, siswa dapat merujuk pada materi sebelumnya yakni cerita disusun dengan alur maju dan sorot balik (dari masa kini mundur ke masa lalu).

Kemudian informasi yang didapat dapat disusun dengan suatu tata urutan, seperti urutan tahapan (hierarkis) dan urutan proses (prosedural).

Urutan tahapan contohnya dari umum ke khusus, dari mudah ke sulit, dari awal ke akhir, dan dari depan ke belakang. 

Urutan proses contohnya ialah langkah-langkah membuat esai dari awal hingga akhir.

Siswa kelas 12 selanjutnya diminta menyimak kisah orang Baduy di dalam video dengan link tertaut pada materi Bab 5 Mengungkapkan Kekaguman dalam Narasi Kearifan Lokal ini.

Berikutnya pada buku Bahasa Indonesia kelas 12 halaman 190 191 Kurikulum Merdeka soal Ayo Berlatih, siswa diminta mengungkapkan kembali secara lisan isi aliran video yang telah disimak dan tonton secara runut dan runtut tentang kearifan lokal suku Baduy.

Selain itu siswa kelas 12 juga diminta mencari kisah atau contoh tentang kearifan lokal di masyarakat sekitarnya.

Baca juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 12 Halaman 187 Kurikulum Merdeka Ayo Berlatih

Kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 12 halaman 190 191 Kurikulum Merdeka berikut juga dapat menjadi bahan koreksi dan pendampingan belajar bagi orang tua/wali.

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 12 Halaman 190 191 Kurikulum Merdeka
Ayo Berlatih
 
1. Ungkapkan kembali secara lisan isi aliran video yang telah kalian simak dan tonton secara runut dan runtut tentang kearifan lokal suku Baduy

Kunci Jawaban

Masyarakat suku Baduy yang mendiami Desa Kanekes, Banten, terbagi menjadi dua kelompok utama, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Suku Baduy Dalam dikenal sangat memegang teguh adat istiadat dengan menutup diri dari budaya modern serta identik dengan pakaian dan ikat kepala berwarna putih. Sebaliknya, masyarakat Baduy Luar, seperti yang terlihat di Kampung Gajeboh, cenderung lebih terbuka terhadap perkembangan zaman dan interaksi dengan dunia luar. Meski terdapat perbedaan dalam keterbukaan informasi, keduanya tetap dipersatukan oleh prinsip hidup yang selaras dengan alam sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur atau Karuhun.

Salah satu bentuk kearifan lokal yang paling menonjol adalah tata ruang dan arsitektur bangunan yang sangat fungsional. Rumah-rumah di Baduy selalu dibangun berbentuk panggung untuk menghangatkan suhu ruangan di tengah hutan yang dingin, dengan posisi yang wajib menghadap ke arah selatan sebagai kiblat kepercayaan Sunda Wiwitan. Dalam urusan rumah tangga, mereka memiliki aturan unik di mana tungku masak di dalam rumah tidak boleh menyentuh tanah secara langsung agar tidak menyakiti alam. Selain itu, masyarakat Baduy sangat disiplin dalam menjaga kebersihan Sungai Ciujung dengan melarang aktivitas mandi di area tertentu demi kelestarian sumber air hingga ke hilir.

Dalam aspek ekonomi dan ketahanan pangan, masyarakat Baduy mengandalkan kekayaan hutan melalui pembuatan gula kaung atau gula aren yang diproses secara tradisional di saung khusus untuk menjaga keamanan desa. Mereka juga memiliki sistem lumbung padi yang disebut leuit, di mana hasil panen disimpan dan dijaga hingga puluhan tahun. Padi dari leuit ini bersifat sakral dan hanya digunakan untuk keperluan mendesak atau acara adat tertentu seperti pernikahan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Baduy memiliki perencanaan jangka panjang yang sangat matang dalam menjaga ketersediaan pangan mereka.

Meskipun aturan adat melarang mereka untuk mengenyam pendidikan formal di sekolah, masyarakat Baduy Luar mulai memanfaatkan teknologi seperti ponsel secara autodidak untuk belajar membaca dan berkomunikasi. Di malam hari, suasana kekeluargaan tetap kental melalui tradisi ngawangkong atau berkumpul bersama tetangga meskipun tanpa aliran listrik. Pada akhirnya, pilihan hidup untuk tetap "kuno" di mata dunia luar bukanlah sebuah ketertinggalan, melainkan sebuah keputusan sadar untuk tetap menjadi penjaga hutan dan sungai yang setia, sebuah kekayaan batin yang mereka banggakan sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia.

2. Carilah sebuah kisah atau contoh tentang kearifan lokal di masyarakat sekitar kalian. Lakukanlah kegiatan berikut ini.

a. Jelaskan kepada teman-teman kalian atau adik-adik kalian di SMP contoh kearifan lokal yang kalian temukan.

b. Tunjukkan contoh-contoh bahwa kearifan lokal tersebut masih dilaksanakan dan diyakini masyarakat sampai sekarang.

c. Buatlah laporan dari kegiatan ini dari hasil mencatat tanggapan, pertanyaan, dan pendapat dari audiensi.

Kunci jawaban:

a. Contoh tentang kearifan lokal di masyarakat sekitar: 

Sasi merupakan sebuah hukum adat yang melarang masyarakat di Kepulauan Raja Ampat dan Maluku untuk mengambil hasil sumber daya alam tertentu, baik di darat maupun di laut, dalam jangka waktu yang telah disepakati. Kearifan lokal ini didasarkan pada kesadaran bahwa alam membutuhkan waktu untuk memulihkan diri, bereproduksi, dan tumbuh agar ekosistem tetap seimbang serta tidak mengalami kepunahan. Secara teknis, ritual ini dipimpin oleh pemuka adat yang memasang tanda khusus (seperti janur kuning) di wilayah yang "ditutup", dan selama periode tersebut, tidak ada seorang pun yang boleh memanen komoditas tersebut hingga tiba masa "Buka Sasi". Melalui tradisi ini, masyarakat tidak hanya belajar tentang konservasi lingkungan, tetapi juga tentang nilai kejujuran, disiplin, dan keadilan dalam pembagian hasil alam.

b. Bukti bahwa kearifan lokal tersebut masih dilaksanakan dan diyakini masyarakat sampai sekarang:

Meskipun zaman telah modern, tradisi Sasi tetap dijalankan dengan kuat oleh masyarakat setempat karena alasan-alasan berikut:

1. Sasi Laut di Kepulauan Raja Ampat dan Maluku: 

Hingga saat ini, banyak desa di Raja Ampat (seperti di Kofiau atau Misool) masih menerapkan Sasi untuk melindungi populasi teripang, lola, dan lobster. Masyarakat meyakini bahwa jika mereka melanggar Sasi, mereka akan mendapatkan kesialan atau sanksi sosial dari leluhur. Hasilnya, saat masa "Buka Sasi" tiba, jumlah panen terbukti melimpah dan memberikan keuntungan ekonomi yang jauh lebih besar bagi warga.

2. Upacara Adat yang Masih Sakral: 

Prosesi "Tutup Sasi" dan "Buka Sasi" tetap dilakukan melalui upacara adat yang melibatkan seluruh warga desa dan tokoh agama. Keterlibatan lembaga adat dalam mengawasi wilayah hutan atau laut menunjukkan bahwa hukum adat ini masih dianggap lebih efektif dan disegani dibandingkan aturan hukum formal dari pemerintah.

3. Integrasi dengan Konservasi Modern: 

Saat ini, organisasi lingkungan internasional sering kali bekerja sama dengan masyarakat adat setempat untuk menggabungkan ilmu pengetahuan modern dengan tradisi Sasi. Hal ini membuktikan bahwa nilai-nilai lama tersebut diakui secara ilmiah mampu menjaga keberlanjutan hayati, sehingga kearifan ini terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda sebagai identitas kebanggaan mereka.

c. Laporan hasil kegiatan dapat disesuaikan dengan hasil audiensi masing-masing.

(Tribunnews.com/Muhammad Alvian Fakka/Bangkapos.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.