Kenapa guyonan atau humor masih tetap laku hingga sekarang? Jawaban diberikan oleh Prof. Dr. James Danandjaja, ahli folklor dan antropolog Universitas Indonesia, yang berpulang pada 21 Oktober 2013 lalu.
Artikel ini dikembangkan dari tulisan yang tayang di Majalah Intisari edisi Oktober 1987 dengan judul "Humor sebagai Obat Frustrasi" oleh Muljawan Karim
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Pelaporan terhadap komedian Pandji Pragiwaksono tempo hari terkait materi dalam pertunjukannya yang bertajuk “Mens Rea” membuktikan: humor masih ampuh sebagai alat untuk menggelitik sang penguasa. Tapi lebih dari itu, humor nyatanya masih tetap laku di tengah masyarakat, apa pun jenisnya.
Humor sekarang dengan humor dulu tentu sangat berbeda bentuknya – juga aturan-aturannya. Humor dulu, jika Anda masih ingat, biasanya berkutat pada otak-atik kata. Seperti, “obral, bahasa Jepangnya apa?”, “kalau ada nenek-nenek tenggelam di kali, timbulnya di mana?”, “kalau orang Sunda kawin dengan orang Rusia, siapa nama anaknya?”, dan lain sebagianya. Sementara humor sekarang, ada beberapa koridor yang tak boleh dilanggar.
Tapi apa pun jenisnya, humor nyatanya masih digemari masyarakat. Para pelajar, mahasiswa sampai kaum pegawai, negeri maupun swasta, tak habis-habisnya mengocehkan seribu satu macam lelucon atau teka-teki konyol untuk memancing tawa atau, paling tidak, sunggingan senyum.
Ini bisa terjadi kapan saja, saat makan bersama dengan keluarga, waktu mengobrol santai, atau bahkan di sela-sela keseriusan kerja.
Polanya tak berubah
"Berhumor-humor kini memang sedang jadi mode," kata Prof. Dr. James Danandjaja, sebagaimana ditulis dalam Majalah Intisari edisi Oktober 1987. Penyebabnya belum jelas benar. Kalau dulu, di antaranya karena banyak diterbitkannya buku-buku humor model Mati Ketawa Cara Rusia, dan lain sebagainya.
Tapi apa pun itu, masyarakat kita pada dasarnya memang tak pernah jauh dari hal-hal yang berbau humor dan banyolan. Sejak dulu, dalam cerita-cerita rakyat, kita sudah mengenal tokoh-tokoh jenaka macam Si Pandir atau Si Kabayan. Jadi, laku kerasnya buku-buku kumpulan cerita lucu – kalau kasus sekarang, banyaknya video-video stand-up comedy di berbagai platform yang ditonton – juga bisa disebabkan karena kita selalu akrab dan selalu membutuhkan humor dalam hidup.
Tak aneh kalau kita tak pernah kehabisan bahan untuk melucu. Setiap saat bisa lahir lelucon-lelucon atau teka-teki baru, yang dalam sekejap menyebar luas dari mulut ke mulut. Bahkan dari mulut seorang murid yang masih duduk di Sekolah Dasar kita bisa mengumpulkan puluhan lelucon dan teka-teki.
Walau cerita-cerita humor baru, baik itu berupa teka-teki, lelucon atau anekdot, atau yang paling baru, komedi tunggal, terus bermunculan, namun, menurut James Danandjaja, polanya tidak pernah berubah. Seperti cerita-cerita rakyat pada umumnya, banyolan-banyolan ini begitu saja lahir dan menyebar ke berbagai kalangan masyarakat secara oral, dari mulut ke mulut, seperti gosip.
Menurut pengarang buku Folklor Indonesia, Ilmu Gosip, Dongeng dan Lain-lain ini, sebuah lelucon pastilah ada penciptanya. Tapi, mengikuti hukum cerita rakyat atau folklor, siapa pengarangnya bukan hal yang penting. Tidak pernah ada orang yang ingin tahu siapa pengarang dari suatu teka-teki atau lelucon.
"Malah, sebuah lelucon akan langsung kehilangan bobot kelucuannya jika tiba-tiba ada yang mengaku sebagai penciptanya. Lelucon macam ini juga akan langsung mati, karena orang menjadi enggan menceritakannya kembali," Pak James berteori.
Pada hakikatnya, tak beda dengan banyolan-banyolan lama, lelucon masa kini juga banyak yang berupa permainan kata-kata.
Penyalur ketegangan
Selain sebagai penghibur hati dan pelipur lara, cerita humor juga mempunyai fungsi sebagai media penyalur ketegangan yang ada dalam masyarakat. Jika sulit menyatakan pendapat secara langsung, warga masyarakat biasanya menyalurkan opininya melalui berbagai lelucon dan anekdot mengenai ketimpangan sosial yang ada atau tentang tokoh atau pejabat tertentu yang tak berkenan di hati orang banyak.
Banyolan-banyolan ini meredam ketegangan sosial, "yang jika tidak tersalurkan bisa meledak menjadi tindakan agresi yang destruktif, seperti yang terjadi dalam Peristiwa Malari, tahun 1974," kata James.
Lelucon, tambahnya pula, tak ubahnya seperti katup pengaman. Orang bisa menyatakan rasa tak puas, kebencian maupun rasa iri, tanpa risiko ditangkap atau dipukuli orang yang jadi bahan guyonan atau sindiran. "'Kan lucu kalau ada pejabat yang marah hanya karena ada anekdot tentang dirinya, meski isinya mungkin mengandung kebenaran,” katanya.
Dulu, persoalan-persoalan yang dianggap peka karena dianggap menyinggung SARA (suku, ras dan agama), terkesan tidak berlaku jika diungkapkan dalam bentuk lelucon. Tapi untuk sekarang, kasusnya bisa sangat berbeda terutama karena masyarakat yang sudah semakin peduli dengan isu-isu tersebut.
Sebuah lelucon, meski terkadang cerita fiktif, namun selalu memiliki kaitan dan relevansi dengan kehidupan nyata. Isi lelucon biasanya akan selalu disesuaikan dengan konteks zaman dan masyarakat.
Humor mensejahterakan jiwa
Bersantai sambil menceritakan banyolan kelihatannya hanya merupakan kegiatan yang sia-sia dan membuang waktu dengan percuma. Padahal, menurut pengalaman, kegiatan macam ini sama sekali tak punya dampak negatif. Asal saja tidak dilakukan secara berlebihan.
James Danandjaja yang juga ahli dalam ilmu kesejahteraan jiwa ini bahkan mengatakan bahwa humor sangat penting artinya bagi keseimbangan jiwa kita. Melalui banyolan dan teka-teki konyol kita bisa melampiaskan segala persoalan yang mungkin menekan jiwa kita.
Kita bisa menertawakan, bahkan mengejek, orang-orang yang dalam kehidupan sehari-hari tak mungkin bisa dipermainkan, seperti mertua atau atasan. Dengan lelucon pula kita bisa menertawakan diri sendiri, kaum kita atau bahkan bangsa kita sendiri, dan sejenak melupakan kesialan dan kemalangan yang dialami.
"Sebagian lelucon etnik, entah itu tentang keturunan Cina, Arab, Jawa, Batak atau Bali, boleh jadi tidak diciptakan oleh orang luar, tapi oleh warga golongan-golongan masyarakat tersebut sendiri," Pak James menjelaskan, terkait model humor yang pernah berkembang di tengah masyarakat kita.
Kalau benar humor adalah faktor penting untuk mensejahterakan jiwa kita, maka mode berhumor-humor yang kini sedang hangat tak ada salahnya untuk dilestarikan. Para pelawak, pengarang cerita humor, dan kartunis diberi kesempatan lebih besar untuk menunjukkan kebolehan mereka berlucu-lucu, dan penerbitan buku-buku humor lebih digalakkan.
Malah, kalau perlu, pemerintah memberikan dukungan dan bantuan penuh bagi pendirian lembaga-lembaga humor dan perkumpulan-perkumpulan pecinta humor, agar tercipta pemerataan humor ke segenap lapisan masyarakat.