TRIBUNBENGKULU.COM - Terungkap Syafiq Ali dan Himawan Haidar Bahran melanggar aturan di Gunung Slamet.
Pantas saja mereka berdua bisa tersesat di Gunung Slamet.
Mirisnya lagi Syafiq Ali justru dinyatakan hilang selama 15 hari dan ditemukan dalam keadaan tewas.
Anehnya jasad Syafiq Ali justru ditemukan di are bebatuan dekat Pos 9 Gunung Slamet.
Jasadnya ditemukan dalam kondisi telungkup dengan menggunakan celana pendek.
Relawan merasa janggal dengan jasad Syafiq Ali, sebab mereka sudah berkeliling di area tersebut.
Mustahil rasanya jika jasad Syafiq Ali tidak terlihat oleh relawan yang lalu-lalang di area tersebut.
Kendati demikian, berdasarkan pengakuan anak Indigo bernama Rival bahwa Syafiq Ali terjebak hal gaib.
“Kata anak indigonya sih almarhum (syafiq Ali) tertutup hal gaib yang tidak terlihat,” kata Amrul, salah seorang relawan.
Setelah kabar mistis ini viral, kini muncul kabar bahwa Syafiq Ali dan Himawan telah melanggar aturan.
Hal itu diceritakan oleh Abdul Azis dari Wanadri, Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung, organisasi pecinta alam tertua di Indonesia yang didirikan di Bandung tahun 1964.
Wanadri adalah penginisiasi pencarian tahap kedua dalam insiden hilang dan tewasnya Syafiq Ali di Gunung Slamet.
Abdul Azis mendapatkan cerita tersebut langsung dari Himawan, saat mengunjungi rumahnya di Magelang, Jawa Tengah pada Jumat (9/1/2026).
Awalnya, Himawan dan Syafiq Ali memutuskan mendaki Gunung Slamet pada Sabtu (27/12/2025), pukul 00.00 WIB.
Mereka memulai pendakian di tengah malam, di pukul 00.00 WIB, dengan rencana pendakian tektok melalui jalur Dipajaya.
Pukul 04.00 WIB, mereka tiba di Pos 2 dan sempat shalat Subuh.
Tepat pukul 09.00 WIB, mereka tiba di Pos 5.
Lalu pada pukul 12.00 WIB, mereka tiba di Pos 9, dan terus melanjutkan perjalanan ke puncak.
Pukul 14.00 WIB, baru mereka mencapai puncak Gunung Slamet.
"Secara aturan, kalau pukul 10 pagi belum sampai puncak, pendaki sebaiknya turun.
Tapi mereka berdua ini tetap melanjutkan naik, padahal sudah pukul 2 siang," papar Abdul Aziz dikutip dari KOMPAS.COM, Jumat (16/1/2026).
Aturan turun sebelum pukul 10 pagi dari puncak Gunung Slamet adalah standar keselamatan yang sangat ditekankan oleh pengelola pos, terutama dari pos Bambangan.
Aturan itu diberlakukan untuk memastikan pendaki selamat dan tidak mengalami kesulitan karena faktor cuaca dan waktu.
Cuaca di puncak Gunung Slamet diketahui bisa berubah sangat cepat, dari cerah menjadi hujan atau badai dalam hitungan menit atau detik.
Saat Himawan dan Syafiq Ali tiba di puncak, mereka hanya menemukan lima pendaki lainnya.
Mereka baru mulai turun pukul 15.00 WIB dengan mengikuti seorang bapak pendaki.
Namun, karena langkah bapak tersebut terlalu cepat, mereka tertinggal dan menjadi pendaki terakhir yang turun hingga akhirnya tersesat.
Ucapan Terakhir Syafiq Ali
Terungkap ucapan terakhir Syafiq Ali seorang pendaki yang dinyatakan hilang selama 17 hari di Gunung Slamet.
Menurut pengakuan Dani Rusman ayah Syafiq Ali, anaknya bukan pendaki berpengalaman.
Gunung Andong menjadi pendakian pertamanya, sebelum kemudian Gunung Slamet menjadi gunung kedua sekaligus terakhir yang ia daki.
Bahkan, kepergian Syafiq ke Slamet bukanlah rencana awal.
“Syafiq awalnya pamit ke Gunung Sumbing,” tutur Dani, mengenang cerita sang anak, Kamis (15/1/2026).
Namun, di tengah perjalanan, entah karena dorongan spontan atau perubahan rencana, langkah Syafiq justru berbelok menuju Gunung Slamet.
Kepada sang ibu, Syafiq sempat mengirimkan pesan singkat yang kini menjadi kenangan paling menyayat.
‘Duh Bun, aku kok kesasar ke Gunung Slamet,’ tulis Syafiq.
Pesan itu menjadi isyarat terakhir bahwa anaknya tengah berada di jalur yang tak pernah direncanakan sejak awal.
Meski demikian, bagi Dani, peristiwa ini menyimpan pesan penting, bukan hanya bagi keluarganya, tetapi juga bagi siapa pun yang hendak mendaki gunung.
“Ini jadi pembelajaran buat kita semua. Mendaki itu harus betul-betul dengan izin dan restu orang tua. Jangan sampai terulang,” ujarnya lirih.
Ia berharap, Syafiq menjadi anak terakhir yang harus pergi dengan cara seperti ini.