Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Ahmad Imam Baehaqi
TRIBUNCIREBON.COM, INDRAMAYU - Suasana Pusat Pelelangan Ikan (PPI) Dadap di Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, tampak sepi, Jumat (16/1/2026).
Bakul-bakul yang biasanya terisi ikan kini hanya terlihat bertumpuk di salah satu sudut PPI Dadap, dan tingginya kira-kira hampir mencapai 1,5 meter.
Di sudut lainnya tampak tumpukan boks hingga tong besar yang kerap digunakan para nelayan untuk menyimpan hasil tangkapan laut kemudian menjajakannya di PPI Dadap.
Beberapa gerobak yang biasa digunakan untuk mengangkut ikan dari kapal dan menjadi meja display dadakan juga terlihat hanya berjejer serta kosong tak ada apapun di atasnya.
Selain itu, mesin sepeda motor roda tiga yang biasanya menderu tak henti untuk mengangkut ikan dari kapal ke tempat pelelangan maupun mobil pengangkut kini senyap akibat tak ada aktivitas.
Desiran angin pesisir menjadi satu-satunya suara yang terdengar memecah kesunyian PPI Dadap, karena tidak ada percakapan nelayan menawarkan harga hasil tangkapannya.
"Dari beberapa waktu lalu tidak ada aktivitas di PPI Dadap, karena nelayan juga enggak melaut akibat cuaca buruk," kata Kudori (51), salah seorang nelayan saat ditemui di sekitar PPI Dadap, Jumat (16/1/2026).
Nelayan asal Desa Dadap, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, itu, mengaku sudah hampir satu bulan tidak melaut, karena kondisi cuaca yang tidak bersahabat.
Ia mengatakan, hujan deras dan angin kencang yang terjadi sejak beberapa waktu lalu turut memicu gelombang tinggi di wilayah perairan Kabupaten Indramayu.
Karenanya, menurut dia, para nelayan yang biasa beraktivitas di PPI Dadap yang rata-rata menggunakan kapal kecil terpaksa memilih untuk tidak melaut demi keselamatan.
"Kalau di tengah laut tinggi gelombangnya bisa mencapai 2,5 meter - 3 meter, sehingga nelayan di sini yang hampir semuanya menggunakan kapal kecil tidak berani melaut, karena kondisinya tidak memungkinkan," ujar Kudori.
Namun, pihaknya mengakui, sesekali ada saja nelayan yang nekat melaut meski hanya mencari ikan di sekitar bibir pantai dan hasil tangkapannya pun kurang memuaskan.
Ia mengatakan, hal itu dipicu keseharian para nelayan yang tidak memiliki pekerjaan lain, sehingga mereka hanya menganggur apabila tidak bisa melaut untuk mencari ikan.
"Kalau (cari ikan) di bibir pantai hasilnya sedikit, paling kira-kira hanya mendapat Rp 200 ribu, dan untuk membeli solar juga sudah habis. Enggak bisa dibawa pulang uangnya," kata Kudori.
Sementara nelayan lainnya, Nasirun (56), menyampaikan, selama tidak melaut aktivitasnya hanya diisi untuk memperbaiki peralatan tangkap maupun kapal.
Pasalnya, ia tak memiliki pekerjaan lain kecuali menjadi nelayan yang telah digelutinya sejak puluhan tahun lalu, sehingga ketika cuaca buruk sehari-hari hanya menganggur.
"Sudah satu bulan ini terpaksa harus utang untuk kebutuhan sehari-hari selama tidak melaut, karena saya enggak memiliki pekerjaan lain," ujar Nasirun.
Baca juga: Nelayan Indramayu dan Cirebon Diimbau Waspada, BMKG : Ada Potensi Gelombang Tinggi di Pantai Utara