Kisah Wisnu Melawan "Ombak" Kendaraan Pakai Sapu Lidi yang Mengusik Warung Sotonya di Semarang
January 16, 2026 07:54 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Jumat (16/1/2026) sore itu, Wisnu (33), pemilik warung Soto Ayam & Soto Sapi “Pak Setu”, bukan sibuk meracik kuah panas atau melayani pelanggan, melainkan berdiri di depan gerobaknya dengan sapu lidi di tangan. 

Dia menyapu air, mendorong genangan keluar ke parit di tepi Jalan Sidomukti Raya, Tlogosari Kulon, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang.

Air masih menggenang di sepanjang ruas Jalan Sidomukti Raya hingga Jalan Tlogosari Raya.

Baca juga: Nur Yanto Dihantui Tanggul Jebol Akibat Luapan Sungai Plumbon Semarang

Padahal, sejak pagi hingga sore hari cuaca terpantau cerah dan panas.

Hujan lebat turun sejak Kamis (15/1/2026) malam, namun genangan tak kunjung surut hingga lebih dari 24 jam berselang.

Di bagian depan, air setinggi di atas mata kaki merendam area gerobak soto Wisnu. 

Sementara di dalam warung, tempat meja dan kursi makan berada di kontur sedikit lebih tinggi, genangan datang dan pergi. 

Setiap kali kendaraan melintas, ombak kecil dari jalan selalu masuk kembali, membasahi lantai yang sudah disapunya berulang kali.

“Setiap mobil melintas airnya masuk lagi,” kata Wisnu saat ditemui Tribunjateng.com.

16012026_Banjir di Semarang_1
MELINTASI BANJIR - Pengguna jalan melintas di kawasan tergenang air di kawasan Tlogosari,, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Jumat (16/1/2026) sore. Hujan lebat yang turun sejak Kamis (15/1/2026) malam membuat air bertahan hingga keesokan harinya dan mengganggu aktivitas serta arus lalu lintas.

Menurut dia, kondisi itu bukan hal baru. 

Dalam sepekan terakhir, banjir datang dan pergi silih berganti. 

Dampaknya langsung terasa pada usahanya. Jika hari normal dia bisa melayani sekitar 10 pelanggan makan di tempat, kini jumlah itu terpangkas setengahnya.

“Orang jadi enggan lewat sini, apalagi mampir,” imbuh dia.

Biasanya, Wisnu membuka warung dari pagi hingga siang, lalu kembali buka sore hingga malam. 

Namun hari itu berbeda. 

Karena pembeli sepi, dia memilih tetap membuka warung tanpa jeda. 

Hingga sore hari, baru empat orang yang datang.

“Ini saja belum banjir besar. 

Kalau hujan deras lagi, sungainya naik, pasti lebih parah,” imbuhnya.

Pantauan di lapangan menunjukkan banjir tidak hanya terjadi di satu titik. 

Genangan air terlihat di Jalan Truntum Raya, Jalan Sidomukti Raya, Jalan Tlogosari Raya, hingga Jalan Gajah Birowo. 

Sungai Kali Tenggang dan parit-parit di sana menunjukkan aliran air yang tinggi namun belum sampai meluap.

Di beberapa lokasi, air tampak “parkir”, bertahan lama meski hujan telah reda.

Wisnu hanya bisa berharap kondisi itu tak terus berulang. 

Dia mencontohkan kawasan Tanah Mas yang kini relatif terbebas dari banjir setelah sistem pompa diperkuat.

“Harapannya saluran diperbesar, dan kalau bisa area Tlogosari dikasih pompa juga agar airnya bisa dibuang,” pungkas dia.

Kondisi serupa dialami Yuwono (50), pemilik warung makan Gudeg Matra Keraton yang berada di pulau median jalan. 

Warungnya seperti terkepung air, dengan genangan di dua jalur sekaligus.

“Banjirnya dari semalam, sempat agak surut, tapi naik lagi. 

Masa sampai sore belum surut juga,” kata Yuwono.

Dia menduga air sungai terus meluap, terlebih jika hujan turun di wilayah hulu. 

Menurutnya, meski saluran sudah diperbaiki, kapasitasnya belum memadai.

“Paritnya sudah diganti, tapi kurang dalam, kurang lebar. 

Sungai di Jembatan Sukarela itu pasti penuh,” ujarnya.

Banjir di kawasan Tlogosari dan sekitarnya dinilai bukan persoalan sederhana. 

Secara geografis, wilayah itu berada di dataran rendah dengan elevasi hampir sejajar, bahkan di beberapa titik lebih rendah dari permukaan laut. 

Kondisi itu diperparah oleh penurunan muka tanah yang terus terjadi di wilayah Semarang Timur dan Utara.

Baca juga: KSR PMI dan FOKMI USM Terjun Langsung Bantu Evakuasi Warga Terdampak Banjir di Kudus

Selain hujan lokal, banjir rob akibat pasang air laut juga berperan besar. 

Saat air laut pasang, aliran sungai seperti Kali Tenggang terdorong balik, membuat air tertahan di kawasan permukiman. 

Kapasitas sungai dan drainase yang terbatas, ditambah sedimentasi lumpur dan sampah, membuat air sulit limpas dengan cepat. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.