Petuah Zidane untuk Pelatih Real Madrid: Para Pemain Harus Menyukai Anda
January 16, 2026 08:39 PM

TRIBUNGORONTALO.COM – Zinedine Zidane pernah menegaskan bahwa kunci sukses seorang pelatih di Real Madrid bukan hanya strategi atau fisik, melainkan hubungan emosional dengan para pemain. 

“Agar ruang ganti menerima apa yang ingin Anda terapkan, mereka harus menyukai Anda,” ucapnya seperti dilansir TribunGorontalo.com dari Football Espana, Jumat (16/1/2026).

Petuah itu kini menjadi relevan bagi Alvaro Arbeloa, pelatih baru Madrid, yang menghadapi tantangan besar setelah era Xabi Alonso berakhir.

Zidane berbicara dari pengalaman. Ia tahu betul bagaimana ruang ganti Madrid bisa menjadi tempat yang penuh tekanan, tetapi juga sumber kekuatan jika dikelola dengan bijak.

Baginya, pelatih bukan sekadar pemberi instruksi, melainkan sosok yang hadir untuk mendukung para pemain.

Ketika Zidane mengambil alih Madrid pada Januari 2016, ia langsung menyadari kondisi fisik tim tidak ideal. 

Bersama Antonio Pintus, pelatih fisik yang kini kembali dibawa Arbeloa, Zidane menyiapkan program khusus untuk mengembalikan kebugaran skuad.

Ia mengingat betul bagaimana tiga pekan pertama menjadi masa krusial. Tanpa jadwal Liga Champions, Zidane memanfaatkan waktu itu untuk fokus pada latihan kardio singkat namun intensif. 

Tujuannya sederhana: mengisi ulang energi para pemain agar siap menghadapi sisa musim.

Pendekatan itu berhasil. Madrid kembali bugar, dan enam bulan kemudian mereka meraih trofi Liga Champions. Namun bagi Zidane, keberhasilan itu bukan hanya soal fisik. Ia menekankan pentingnya kepercayaan dan kebersamaan di ruang ganti.

“Jika para pemain tidak senang dengan semua yang diberikan kepada mereka, sesi latihan akan selalu terasa kurang,” kata Zidane. 

Legenda sepak bola Prancis ini menekankan bahwa pelatih harus membuat pemain menikmati setiap proses, bukan sekadar menuntut hasil.

Petuah itu kini menjadi tantangan bagi Arbeloa. Sebagai mantan bek Madrid, ia memahami kultur klub. Namun berbeda dengan Zidane, ia belum memiliki ruang ganti yang dipenuhi pemimpin berpengaruh seperti Sergio Ramos, Luka Modric, Toni Kroos, atau Cristiano Ronaldo.

Tugas Berat Arbeloa

COPA DEL REY -- Ekspresi Alvaro Arbeloa melihat timnya bermain. Real Madrid tersingkir dari Copa del Rey usai kalah 3-2 dari Albacete. (Sumber Foto: Tangkapan layar X@realmadriden)
COPA DEL REY -- Ekspresi Alvaro Arbeloa melihat timnya bermain. Real Madrid tersingkir dari Copa del Rey usai kalah 3-2 dari Albacete. (Sumber Foto: Tangkapan layar X@realmadriden) (Istimewa)

Situasi ini membuat tugas Arbeloa semakin berat. Ia harus membangun kepercayaan dari skuad yang disebut-sebut kurang seimbang dan tidak sepenuhnya mendukung pelatih sebelumnya, Xabi Alonso.

Alonso sendiri akhirnya mengundurkan diri setelah tujuh bulan lebih memimpin tim.

Keputusan itu diumumkan klub pada 13 Januari 2026, hanya beberapa jam setelah Madrid kalah dari Barcelona di final Piala Super Spanyol.

Dalam pernyataan resmi, Madrid menegaskan bahwa pemutusan kontrak dilakukan atas kesepakatan bersama.

Klub juga menekankan rasa hormat terhadap Alonso, yang dianggap sebagai legenda dan bagian dari sejarah Madrid.

“Xabi Alonso akan selalu memiliki kasih sayang dan kekaguman dari semua penggemar Madrid,” tulis klub. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa hubungan Alonso dengan para pemain tidak pernah benar-benar hangat.

Kondisi itu kontras dengan masa Zidane. Saat ia memimpin, para pemain merasa didukung dan dihargai. Hubungan personal yang ia bangun membuat ruang ganti menjadi lebih solid, bahkan ketika menghadapi tekanan besar.

Arbeloa kini dituntut untuk meniru pendekatan itu. Ia harus memastikan para pemain merasa nyaman, bukan hanya dengan metode latihan, tetapi juga dengan kehadirannya sebagai pelatih. 

Zidane sudah memberi contoh: pelatih harus ada untuk pemain, bukan sebaliknya.

Kebugaran fisik memang penting, dan Arbeloa sudah mengambil langkah dengan membawa kembali Antonio Pintus. Namun kebugaran mental dan emosional tidak kalah krusial. Tanpa itu, ruang ganti akan tetap rapuh.

Zidane menekankan bahwa pelatih harus mampu menunjukkan empati. Ia harus hadir sebagai sosok yang bisa dipercaya, bukan hanya sebagai figur otoritatif. 

“Kami ada untuk mendukung mereka,” tegasnya.

Baca juga: Debut Alvaro Arbeloa, Real Madrid Tereliminasi dari Copa Del Rey usai Dikalahkan Albacete

Arbeloa harus belajar dari kegagalan Alonso. Hubungan dingin dengan pemain membuat strategi apa pun sulit berjalan. Tanpa dukungan penuh dari skuad, pelatih akan selalu berada di ujung tanduk.

Madrid adalah klub dengan ekspektasi tinggi. Setiap kekalahan bisa berujung pada krisis, dan setiap krisis bisa mengancam posisi pelatih. 

Arbeloa harus memahami bahwa kunci bertahan bukan hanya kemenangan, tetapi juga kepercayaan pemain.

Zidane membuktikan bahwa ketika pemain menyukai pelatih, mereka akan berjuang lebih keras. Mereka akan menerima instruksi dengan antusias, dan ruang ganti akan menjadi sumber energi positif.

Arbeloa kini berada di titik awal perjalanan. Ia harus membangun fondasi hubungan yang kuat dengan skuad. 

Tanpa itu, kebijakan fisik atau taktik tidak akan cukup.

Madrid sudah menunjukkan bahwa mereka tidak ragu mengambil keputusan cepat. Alonso hanya bertahan tujuh bulan lebih, meski sempat membawa tim pada sejumlah pencapaian. Arbeloa tentu tidak ingin mengalami nasib serupa.

Petuah Zidane menjadi relevan: “Para pemain harus menyukai Anda.” Itu bukan sekadar nasihat, melainkan syarat mutlak untuk bertahan di kursi panas Santiago Bernabeu.

Arbeloa harus membuktikan bahwa ia bisa menjadi sosok yang disukai pemain. Ia harus mampu menghadirkan suasana ruang ganti yang hangat, penuh dukungan, dan siap menghadapi tekanan bersama.

Jika ia berhasil, Madrid bisa kembali menemukan stabilitas. Jika tidak, sejarah mungkin akan kembali berulang, dengan pergantian pelatih yang cepat dan penuh drama.

Zidane sudah menunjukkan jalannya. Kini giliran Arbeloa untuk membuktikan bahwa ia mampu berjalan di jalur itu. Tantangan besar menanti, tetapi fondasi sudah jelas: kebersamaan, kepercayaan, dan rasa suka dari para pemain.

Madrid bukan sekadar klub besar. Ia adalah institusi dengan sejarah panjang dan ekspektasi luar biasa. 

Pelatih yang tidak mampu mengelola ruang ganti akan segera tersingkir seperti yang dialami Rafa Benitez atau Julen Lopetegui.

Arbeloa harus memahami bahwa setiap pemain memiliki ego, ambisi, dan kebutuhan. Menyatukan semua itu bukan pekerjaan mudah, tetapi itulah inti dari kepemimpinan di Madrid.

Zidane berhasil karena ia mampu merangkul semua pemain, dari bintang besar hingga pemain pelapis. Ia membuat semua merasa penting, dan itulah yang menciptakan harmoni.

Arbeloa harus meniru pendekatan itu. Ia tidak bisa hanya bergantung pada kebijakan fisik atau strategi taktik. Hubungan personal adalah kunci.

Arbeloa harus mampu menumbuhkan rasa percaya diri di antara pemain. Ia harus membuat mereka merasa bahwa setiap latihan adalah kesempatan untuk berkembang, bukan sekadar kewajiban.

Zidane menekankan bahwa latihan harus menyenangkan. Jika pemain menikmatinya, hasil akan mengikuti. Jika tidak, ruang ganti akan penuh ketegangan.

Arbeloa harus belajar menciptakan atmosfer itu. Ia harus menghadirkan energi positif, bahkan ketika tim menghadapi masa sulit.

Madrid selalu menjadi sorotan. Setiap langkah pelatih akan diperhatikan media, penggemar, dan manajemen.

Arbeloa harus siap menghadapi tekanan itu dengan ketenangan.

Petuah Zidane bisa menjadi pegangan. “Anda harus menunjukkan kepada mereka bahwa Anda ada untuk mereka.” Kalimat itu sederhana, tetapi maknanya dalam.

Arbeloa harus hadir bukan hanya sebagai pelatih, tetapi juga sebagai pendukung. Ia harus menjadi sosok yang bisa diandalkan, baik di lapangan maupun di luar lapangan.

Jika ia berhasil, Madrid bisa kembali menemukan kejayaan. Jika tidak, kursi panas Bernabeu akan kembali berganti penghuni.

Zidane sudah membuktikan bahwa hubungan dengan pemain adalah kunci. Arbeloa kini harus membuktikan bahwa ia bisa mengikuti jejak itu.

Madrid menunggu. Para penggemar menunggu. Dan ruang ganti menunggu sosok yang bisa membuat mereka merasa dihargai. Arbeloa punya kesempatan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.