Habisi Atasannya Gara-gara Bonus Akhir Tahun, Ternyata Teman Semasa SMA, Ibu Pelaku Minta Maaf
January 16, 2026 09:34 PM

 

 

SERAMBINEWS.COM - Kasus pembunuhan yang dilakukan pekerja terhadap atasanya sungguh di luar nalar.

Karena antara korban dan pelaku merupakan sahabat lama sesama SMA.

Tapi gara-gara bonus akhir tahun membuat persahabatan keduanya justru menjadi malapetaka.

Seorang pria Jepang berusia 45 tahun ditangkap polisi atas dugaan pembunuhan terhadap atasannya di Tokyo.

Penyidik menyebut, pelaku mengaku sakit hati setelah bonus akhir tahunnya dipotong tanpa penjelasan.

Rasa kesal itu diduga memicu aksi kekerasan di apartemen korban yang berujung fatal.

Departemen Kepolisian Metropolitan Tokyo menangkap Masahiro Yamanaka, manajer penjualan di sebuah perusahaan terkait peralatan audio, pada Jumat (9/1/2026).

Ia diduga membunuh Presiden Direktur perusahaan tersebut, Akihiro Kawashima (44), di apartemen korban di Distrik Ota, Tokyo, seperti dilaporkan The Japan Times.

Polisi meyakini Yamanaka menyerang Kawashima di apartemen lantai tiga antara pukul 18.40 pada Rabu (7/1/2026) hingga pukul 11.30 keesokan harinya.

Baca juga: Ngaku Anggota Sat Reserse Narkoba, Polisi Gadungan Stop Pelajar dan Ambil HP di Tempat Sepi

Dalam pemeriksaan sukarela, Yamanaka mengatakan kepada polisi bahwa ia menyemprotkan insektisida ke wajah Kawashima, lalu menikamnya menggunakan pisau buah yang dibawa dari rumah. Ia juga disebut mengejar korban dan menikamnya dari belakang.

Dalam pemeriksaan lanjutan, Yamanaka mengeklaim tidak berniat membunuh atasannya.

“Saya memang menikamnya, tetapi saya tidak berniat membunuh,” ujarnya, seperti dikutip The Yomiuri Shimbun.

Hasil penyelidikan menunjukkan Kawashima ditusuk lebih dari 10 kali di bagian leher, perut, dan paha.

Polisi juga menemukan luka-luka di jari korban yang mengindikasikan ia sempat berusaha melawan.

Ini motif pembunuhan

Penyidik menyebut bahwa Yamanaka mengaku bonus akhir tahunnya dipotong tanpa alasan jelas.

Bonus tersebut turun dari setara 1,5 bulan gaji menjadi hanya satu bulan gaji. 

Polisi menemukan slip gaji di rumah Yamanaka yang menunjukkan pemotongan bonus tersebut, dibayarkan pada Desember lalu.

Ia juga mengatakan kepada polisi bahwa dirinya kerap mengungkapkan ketidakpuasan terkait kondisi kerja dan tidak senang dengan sikap atasannya.

Kepada Yahoo News Japan, Yamanaka berkata, “Saya mulai percaya bahwa jika kata-kata tidak mempan, saya harus membuatnya berubah pikiran, meski itu berarti membuatnya menderita.”

Rekaman kamera pengawas memperlihatkan Yamanaka meninggalkan rumahnya sekitar pukul 17.00, masuk ke gedung apartemen Kawashima sekitar pukul 17.40, dan keluar sekitar pukul 19.30, sekitar 50 menit setelah korban pulang ke rumah.

Baca juga: Tampang Pelaku Pembunuhan Anak Politikus PKS, Ditangkap Saat Mencuri di Rumah Mantan DPRD Cilegon

Polisi menemukan jejak kaki berlumuran darah di dalam apartemen dan di tangga darurat.

Berdasarkan rekaman CCTV, penyidik juga menduga Yamanaka mengganti pakaian sebelum dan sesudah pembunuhan karena terlihat mengenakan pakaian berbeda di beberapa lokasi.

Polisi mengatakan, Yamanaka mengunci pintu apartemen menggunakan kunci yang ditemukan di dekat pintu masuk, lalu mendorong kunci tersebut melalui slot surat, diduga untuk menunda penemuan jasad korban.

Setelah meninggalkan apartemen, Yamanaka diyakini bertemu seorang teman di sebuah restoran di Distrik Ota sekitar 30 menit kemudian. 

Ia kemudian berpindah-pindah bar di tiga lokasi hingga dini hari, menurut Yahoo News Japan.

Pada Jumat (9/1/2026), sehari setelah jasad Kawashima ditemukan, polisi menghentikan Yamanaka saat ia menuju peron Shinkansen di Stasiun Tokyo.

Ternyata teman semasa SMA 

Menurut The Japan Times, Yamanaka dan Kawashima merupakan teman sekelas semasa SMA dan tetap dekat selama bertahun-tahun, berdasarkan keterangan ibu Yamanaka.

Kawashima kemudian mengajak Yamanaka bergabung dengan perusahaannya sekitar empat tahun lalu, dengan harapan ia bisa menjadi jembatan antara manajemen dan karyawan.

Sebelum bekerja di perusahaan tersebut, Yamanaka berkarier di bidang periklanan. Ia disebut pernah mengatakan bahwa pekerjaan barunya menawarkan kondisi yang lebih baik.

Baca juga: Jonatan Christie Melaju Semifinal India Open 2026, Jojo Tantang Wakil Singapura Loh Kean Yew

Keduanya juga sering bepergian bersama untuk urusan pekerjaan. Bahkan, Kawashima dilaporkan menangis haru saat menghadiri pernikahan Yamanaka delapan tahun lalu.

Sang ibu minta maaf

Ibu Yamanaka yang berusia 72 tahun menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Ia mengatakan putranya telah melakukan “sesuatu yang tidak dapat diperbaiki lagi.”

Ia menggambarkan Yamanaka sebagai anak yang ceria dan lembut serta tidak menyukai kekerasan.

“Jika dia punya masalah di tempat kerja, seharusnya dia pergi saja,” ujarnya.

Ia menyesali ketidakmampuannya mencegah tindakan sang anak dan menambahkan bahwa meskipun putranya harus menebus perbuatannya, nyawa Kawashima tidak akan pernah kembali.

Polisi masih menyelidiki apakah pembunuhan ini direncanakan sebelumnya, sekaligus memastikan apakah pemotongan bonus benar-benar menjadi pemicu utama di balik serangan tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.