PENTING Disiplin Bentuk Karakter Siswa, Ketua PGRI Klungkung Soroti Konflik Guru dan Murid di Jambi!
January 16, 2026 11:19 PM

TRIBUN-BALI.COM - Dunia pendidikan tanah air tercoreng dengan adanya video adanya oknum guru di Jambi, yang terlibat konflik dengan siswa-siswanya. Bahkan oknum guru tersebut sampai diserang oleh siswanya sendiri.

Peristiwa ini juga mendapatkan tanggapan dari Ketua PGRI Klungkung, Tjokorda Gde Surya Putra. Menurutnya kondisi dunia pendidikan saat ini, sangat berbeda dengan tahun 1980-an yang mengedepankan disiplin yang ketat.

"Inilah kondisi dunia pendidikan kita sekarang, sangat berbeda pada saat era tahun 80an disaat saya mengenyam pendidikan. Tidak ada istilah murid berani dengan guru," ungkap Tjok Surya yang juga Wabup Klungkung, Kamis (15/1).

Baca juga: CUACA BURUK! Aktivitas Wisata Bahari di Buleleng Tutup Sementara, Dibuka Saat Kondisi Cuaca Membaik

Baca juga: ALAMI Gangguan Jiwa Berat, SO Schizophrenia, Kasus Perusakan Penganiayaan Tidak Dilanjutkan Polisi!

Menurutnya hukuman disiplin ketat yang tersistem pada pendidikan terdahulu, justru sangat dibutuhkan untuk membentuk karakter siswa.

"Sebagai siswa bukanlah hanya pintar dalam hal akademis, tetapi sangat penting untuk menjadi pribadi yang mencerminkan kita sebagai manusia yang berbudaya yang tidak terlepas dari sopan santun," ungkapnya.

Menurutnya pemerintah Kabupaten Klungkung akan segera merancang pola pendidikan dasar berbasis budaya. Ini akan menyeimbangkan antara kemampuan akademis dan penanaman budi pekerti berlandaskan karakteristik budaya Bali. Terlebih selama ini budaya Bali menanamkan sikap yang santun, ramah dan memiliki semangat gotong-royong.

"Melalui PGRI saya akan mendorong program ini bisa berjalan dengan baik, dan tentunya perlu peningkatan kapasitas dari para pendidik kita agar apa yg menjadi sasaran dari program ini dapat tercapai," jelasnya.

Sementara seorang guru muda di Klungkung, Ayu Diah menanggapi video kekerasan terhadap guru di Jambi yang beredar luas di media sosial mengatakan, pihaknya tidak bisa memberi pendapat terlalu jauh, karena tidak tahu konteks di lapangan. Dalam situasi apa guru sampai mengatai siswanya miskin, hingga akhirnya memancing kemarahan siswa. 

"Pasti ada hal lain yang terjadi sampai bisa keroyokan seperti itu. Bisa jadi karena masalah pribadi, bisa juga karena karakter siswanya yang memang arogan," ungkapnya.

Namun ia sepakat, jika saat ini tidak mudah mendisiplinkan siswa.

"Kalau menjadi guru zaman sekarang dari segi pembelajaran sebenarnya lebih mudah, karena didukung oleh kemajuan teknologi dan informasi," ungkapnya.

Menurutnya di kelas, siswa sudah jarang sekali mencatat, cukup dengan meminta soft copy file materi pelajaran, beres. 

"Justru yang sulit dan berat itu mendisiplinkan siswa. Siswa generasi Z, cenderung tidak berjarak dengan guru, dan seolah tidak mengenal istilah 'takut' guru lagi. Jadi ketika melanggar aturan sekolah, mereka menganggap itu hal yang biasa (gampang) dan bisa dinegosiasikan. Begitu juga ketika mereka tidak mengerjakan tugas sekolah, mereka tetap santai tanpa rasa waswas akan mendapat hukuman," ungkapnya. (mit)

Terbiasa dengan “Menggampangkan” Kesalahan

Karena terbiasa dengan “menggampangkan” kesalahan, ujar guru Ayu Diah, sehingga ketika guru berupaya mendisiplinkan, siswa justru merasa itu kekerasan, itu pemaksaan, itu menyalahi aturan. 

Misalnya, saat guru BK (Bimbingan Konseling, -red) menegakkan aturan sekolah, dengan memotong rambut siswa laki-laki yang panjang. Itu bisa saja dianggap kekerasan, padahal siswanya yang membandel. 

"Sudah berulang kali diperingati, tapi karena dianggap hal yang 'gampang' jadi tidak diindahkan," ungkap dia. (mit)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.