LARIS BYD Tampil Dominan, Penjualan Mobil Listrik 141 Persen di 2025, Gaikindo: Tembus 103.931 Unit!
January 17, 2026 12:03 AM

TRIBUN-BALI.COM - Penjualan mobil listrik di Indonesia meningkat pesat pada tahun 2025. Mobil listrik BYD, VinFast dan Wuling menduduki peringkat 10 besar penjualan mobil listrik terlaris tahun 2025. Mobil listrik BYD menjadi kendaraan berbasis baterai paling laris di Indonesia sepanjang 2025.

Pasar mobil listrik di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang semakin agresif sepanjang 2025. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat, penjualan mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) dari pabrik ke diler (wholesales) mencapai 103.931 unit.

Angka tersebut melonjak 141 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 43.188 unit. Dengan capaian ini, kontribusi mobil listrik terhadap total penjualan mobil nasional menembus lebih dari 12 % , menandakan adopsi kendaraan listrik murni kian meluas di Tanah Air.

Lonjakan penjualan tersebut sekaligus menegaskan pergeseran preferensi konsumen, seiring bertambahnya pilihan produk, harga yang semakin kompetitif, serta dukungan infrastruktur dan kebijakan pemerintah dalam mendorong elektrifikasi kendaraan.

Baca juga: TEWAS Tergilas Truk, Rico Alami Pendarahan dari Hidung dan Mulut, Kecelakaan Maut di Jalur Tengkorak

Baca juga: PENTING Disiplin Bentuk Karakter Siswa, Ketua PGRI Klungkung Soroti Konflik Guru dan Murid di Jambi!

Dari sisi merek, BYD tampil dominan dan menguasai posisi puncak daftar mobil listrik terlaris di Indonesia sepanjang 2025. BYD Atto 1 menjadi model terlaris dengan penjualan 22.582 unit. Posisi berikutnya ditempati BYD M6 sebanyak 10.862 unit dan BYD Sealion 7 yang mencatatkan penjualan 8.402 unit.

Tak hanya di segmen mass market, lini premium BYD melalui Denza D9 juga mencatat performa solid dengan penjualan 7.474 unit. Hal ini menunjukkan bahwa segmen MPV listrik kelas atas mulai diterima pasar domestik.

Persaingan di papan atas kian ketat dengan kehadiran merek baru. VinFast VF e34 menempati posisi kelima dengan 5.974 unit, disusul Chery J6 yang membukukan penjualan 5.810 unit.

Di sisi lain, Wuling masih mempertahankan eksistensinya melalui BinguoEV dan Air EV, meski harus turun takhta. Keduanya masing-masing mencatat penjualan 4.213 unit dan 3.894 unit. Sementara itu, merek lain seperti GAC Aion, Geely, dan Jaecoo mulai menunjukkan pertumbuhan yang konsisten.

Menariknya, beberapa model yang lebih dulu dikenal publik justru mencatatkan penjualan relatif lebih rendah. Hyundai Kona EV hanya terjual 836 unit, sedangkan Hyundai Ioniq 5 membukukan 779 unit sepanjang 2025.

Meski permintaan meningkat pesat, produksi BEV di Indonesia sepanjang Januari–Desember 2025 hanya mencapai 24.727 unit, turun sekitar 4 % dibandingkan 2024. Kondisi ini mengindikasikan bahwa mayoritas mobil listrik yang beredar di pasar domestik masih berasal dari impor.

Sementara itu, memasuki tahun 2026, kepastian kelanjutan insentif mobil listrik dari pemerintah masih belum jelas. Ketidakpastian ini memicu kebingungan di kalangan pelaku industri kendaraan listrik sekaligus menekan penjualan karena konsumen memilih menunda pembelian.

Sekretaris Jenderal Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) Tenggono Chuandra Phoa menilai, absennya aturan resmi terkait insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) kendaraan listrik membuat kondisi industri menjadi tidak sehat.

“Ini sudah masuk 2026, tapi aturan PPN mobil listrik belum ada. Acuannya yang mana? 2025 atau 2026? Kita juga bingung. Harusnya ini dijelaskan oleh Kemenperin dan Kemenkeu,” ujar Tenggono, Jumat (9/1).

Ia menjelaskan, anggaran insentif 2025 telah berakhir sehingga secara regulasi seharusnya insentif tidak lagi berlaku jika tidak ada kebijakan baru. Namun hingga kini pemerintah belum memberikan pernyataan tegas terkait kelanjutan atau penghentian insentif.

“Kalau anggarannya sudah selesai, ya mestinya kembali tanpa insentif. Tapi apakah masih ada kelanjutan? Kita tidak tahu. Ini seperti di roda dua, sempat dijanjikan subsidi tapi tidak terealisasi. Kondisi seperti ini tidak sehat,” tegasnya.

Ketidakpastian kebijakan tersebut, lanjut Tenggono, menyulitkan produsen dalam menentukan harga jual dan strategi produksi. Periklindo pun meminta pemerintah segera memberikan kepastian. “Kami minta pemerintah secepatnya tegas. Mau ada atau tidak insentif, sampaikan saja. Kalau tidak ada, pengusaha bisa menyesuaikan langkah. Jangan dibiarkan menggantung,” katanya.

Ia menambahkan, saat ini mayoritas konsumen bersikap wait and see. Dampaknya, produksi berpotensi tertahan dan stok kendaraan menumpuk di dealer. “Pembeli menunggu semua. Kalau dibiarkan, produsen bisa menahan produksi, stok menumpuk, penjualan turun terus. Ini merugikan industri dan pemerintah karena penerimaan juga ikut turun,” ujarnya.

Senada, Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) Fransiscus Soerjopranoto mengatakan, pihaknya masih mengacu pada regulasi yang berlaku sambil menunggu kejelasan kebijakan dari pemerintah. 

“Saat ini Hyundai mengacu pada regulasi yang masih berlaku secara resmi, sembari memantau perkembangan kebijakan pemerintah. Penetapan harga dan strategi penjualan EV mempertimbangkan regulasi, struktur biaya, dan daya beli konsumen agar tetap kompetitif,” ujarnya.

Fransiscus mengakui hingga kini belum ada arahan resmi terkait insentif PPN kendaraan listrik 2026. Meski begitu, komunikasi dengan pemerintah tetap dilakukan. “Kami tetap berkomitmen pada pengembangan kendaraan listrik di Indonesia dan siap menyesuaikan strategi seiring kejelasan kebijakan ke depan,” katanya. (kontan)

Periklindo Sebut Penjualan Terancam Drop

Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) berharap pemerintah segera mengambil keputusan tegas terkait keberlanjutan insentif kendaraan listrik agar industri memiliki kepastian dan pasar tidak semakin tertekan.

Periklindo menilai belum adanya kejelasan acuan insentif mobil listrik di 2026 berpotensi menekan penjualan kendaraan listrik dalam beberapa bulan ke depan. Hingga kini, aturan terkait Pajak Pertambahan Nilai (PPN) maupun skema insentif pengganti belum diterbitkan pemerintah.

Sekretaris Jenderal Periklindo, Tenggono Chuandra Phoa mengatakan, pelaku industri masih kebingungan menentukan kebijakan karena belum ada patokan resmi yang bisa dijadikan acuan. “Ini kan sudah masuk 2026, tapi aturan PPN mobil listrik tahun ini belum ada. Jadi sekarang ikut acuannya yang mana? Masih 2025 atau gimana? Kita semua ini bingung yang mana yang mesti dipakai,” ujar Tenggono, Kamis (8/1).

Menurutnya, kebingungan tersebut seharusnya segera dijawab oleh kementerian terkait. Namun sampai saat ini, belum ada satu keputusan tegas yang dikeluarkan pemerintah. “Harusnya tanyanya ke Kemenperin dan Kemenkeu. Bukan seperti kita, kita semua ini bingung. Harusnya yang sudah selesai ya pasti kembali lagi, tidak ada insentif,” katanya.

Tenggono menambahkan, anggaran insentif kendaraan listrik untuk 2025 telah berakhir. Namun belum ada kepastian apakah akan ada kelanjutan kebijakan atau skema baru di tahun ini. “Karena kan sudah selesai untuk yang budget 2025. Cuma apakah masih ada lagi? Kita juga tidak tahu,” ujarnya.

Ia juga menyinggung pengalaman sebelumnya terkait insentif kendaraan listrik roda dua yang sempat dijanjikan namun tidak berlanjut. “Seperti kemarin, roda dua dijanjikan ada subsidi. Akhirnya kan tidak berlanjut. Ini tidak sehat,” tegas Tenggono.

Ketidakpastian kebijakan ini, lanjutnya, berdampak langsung pada industri, terutama dalam menentukan harga jual dan rencana produksi. “Sebagai industriawan, mereka harus menentukan harga jual, Makanya kita dari Periklindo minta supaya pemerintah memberikan satu ketegasan secepatnya supaya kita bisa ambil arah,” katanya.

Ia memproyeksikan penjualan kendaraan listrik berpotensi terus melemah apabila kepastian insentif belum segera ditetapkan. “Penjualan kendaraan ini drop terus. Kita tidak tahu bulan ini, bulan depan, atau sampai akhir tahun gimana. Ini tidak sehat, bukan cuma buat industri, tapi pemerintah juga income-nya nggak ada,” pungkas Tenggono. (kontan)

Mobil listrik terlaris di Indonesia 

Periode 2025

1.    BYD Atto 1 – 22.582 unit
2.    BYD M6 – 10.862 unit
3.    BYD Sealion 07 – 8.402 unit
4.    Denza D9 – 7.474 unit
5.    VinFast VF e34 – 5.974 unit
6.    Chery J6 – 5.810 unit
7.    Wuling BinguoEV – 4.213 unit
8.    Wuling Air EV – 3.894 unit
9.    VinFast VF5 – 3.106 unit
10.    GAC Aion V – 3.087 unit

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.