TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan pembangunan sumber daya manusia.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie mengatakan, program MBG tidak hanya menyasar pemenuhan gizi anak, tetapi juga membuka peluang besar bagi dunia usaha dari hulu hingga hilir.
“Kalau kita bicara kepentingan bangsa, terutama anak-anak sebagai generasi masa depan, dampaknya sangat jelas. Dari target 82 juta penerima, saat ini sudah menjangkau sekitar 55 juta anak,” ujarnya, dalam Kadin Global and Domestic Economic Outlook 2026, di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Kamis (15/1).
Menurut dia, pemerintah menargetkan pembangunan 30.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di seluruh Indonesia. Hingga kini, sudah terdapat lebih dari 20.000 dapur SPPG MBG telah dibangun dan beroperasi.
Dalam pelaksanaannya, Kadin turut berpartisipasi dengan membangun sekitar 1.000 dapur MBG. Total investasi yang dihimpun dari anggota Kadin untuk mendukung program tersebut diperkirakan mencapai Rp 1,5 triliun-Rp 2 triliun.
Anin menuturkan, program MBG menciptakan kepastian permintaan pangan dalam skala besar, di mana hal itu menjadi fondasi penting bagi penguatan ketahanan pangan dan hilirisasi sektor pertanian.
“Dari 52 juta penerima hari ini menuju 82 juta penerima, artinya dibutuhkan sekitar 52 juta butir telur per hari, juga ayam, sayur-mayur, ikan, dan bahan pangan lainnya. Ini kebutuhan riil yang sangat besar,” bebernya.
Meski demikian, dia menambahkan, setiap daerah memiliki potensi protein unggulan yang berbeda. Karena itu, program MBG mendorong keterlibatan aktif pemerintah daerah dan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok pangan.
Anin juga menyoroti dampak ekonomi dari pembangunan dapur MBG. Dengan asumsi satu dapur menyerap sekitar 50 tenaga kerja, maka 30.000 dapur berpotensi membuka lapangan kerja bagi sekitar 1,5 juta orang.
“Secara ekonomi, ini berpotensi menambah pertumbuhan PDB hingga 3,5 persen. Angka ini bukan kecil dan bisa menjadi salah satu motor pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional,” jelasnya.
Sementara, Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional (BGN) Tigor Pangaribuan menekankan pentingnya menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan seiring perluasan program MBG.
“Target paling menantang bagi BGN adalah mencegah inflasi dan kelangkaan bahan pangan. Kebutuhan beras saja bisa mencapai 3 juta ton per tahun,” ucapnya.
Ia berharap pelaku usaha, khususnya di sektor pertanian dan peternakan, dapat meningkatkan kapasitas produksi agar program MBG berjalan berkelanjutan tanpa menimbulkan tekanan pada harga pangan. (Kompas.com/Debrinata Rizky)