Penyebab Pengeroyokan Guru Agus Saputra Versi Siswa, Tamparan dan Panggilan Prince
January 17, 2026 11:14 AM

TRIBUNJATENG.COM - Salah satu siswa yang terlibat dalam pengeroyokan guru Agus Saputra membeberkan kronologi versi mereka.

Sebelumnya, guru Agus juga sudah mengutarakan kronologi kejadian versi dirinya.

Kasus pengeroyokan yang viral tersebut terjadi SMKN 3 Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim).

Guru Agus secara resmi juga sudah melaporkan pengeroyokan kepada dirinya ke polisi dengan membawa hasil visum.

Adalah Muhammad Lupi Fadila, salah satu siswa yang terlibat, membeberkan kronologi versinya yang memicu kemarahan massa siswa.

Seorang guru bernama Agus Saputra mengalami pengeroyokan dari sejumlah siswa SMK di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim).
Seorang guru bernama Agus Saputra mengalami pengeroyokan dari sejumlah siswa SMK di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim). (TRIBUN JATENG/TRIBUN JAMBI)

Baca juga: Hasil Visum Agus Saputra Guru yang Dikeroyok Siswa, Akhirnya Resmi Lapor Polisi

• Kisah Rival Indigo Pergi ke Gunung Slamet Bantu Cari Syafiq Ali, Bawa Bekal Uang Rp 130 Ribu

Menurut Lupi, ketegangan bermula dari kesalahpahaman di ruang kelas saat jam pelajaran hampir usai. 

Situasi kelas yang bising membuat Lupi spontan berteriak meminta rekan-rekannya diam.

Namun hal itu justru memicu reaksi keras dari sang guru.

Tamparan dan Panggilan "Prince"

Lupi mengaku terkejut saat guru tersebut tiba-tiba masuk ke kelas tanpa permisi kepada guru yang sedang mengajar dan langsung mencari siapa yang berteriak.

"Tiba-tiba beliau langsung masuk ke dalam kelas tanpa permisi ke guru yang ada di dalam, langsung tanya 'siapa yang bilang woi?'. Terus saya jawab 'saya Prince' kayak gitu, terus spontan saya ke depan langsung ditampar," ungkap Lupi.

Menariknya, penggunaan panggilan "Prince" ternyata merupakan permintaan khusus dari sang guru sendiri. 

Lupi menjelaskan bahwa guru tersebut kerap marah jika disapa dengan sebutan "Bapak" dan lebih memilih dipanggil dengan sebutan tersebut.

Ejekan di Kantor Hingga Pukulan di Hidung

Situasi semakin memanas ketika para siswa menuntut permintaan maaf sang guru karena dianggap telah menghina orang tua salah satu siswa. 

Meski sudah dimediasi oleh guru lain dan komite sekolah untuk berpidato di depan siswa, sang guru justru membahas hal lain yang memicu kekecewaan.

Puncak pengeroyokan terjadi saat sang guru dibawa ke kantor oleh Bapak Komite. 

Lupi mengeklaim sang guru justru mengejek dan tersenyum sinis ke arah para siswa. 

Saat Lupi mendekat untuk meminta kejujuran, ia mengaku justru mendapat bogem mentah.

"Pas saya sampai depan muka dia, dia langsung meninju saya bagian hidung. Pas dia ninju itu, kebetulan kawan saya yang di dekat-dekat dia itu lihat semua. Spontan kawan saya langsung mengeroyok dia. Sebenarnya kalau enggak ada dia ninju duluan, enggak ada pengeroyokan itu," tegas Lupi.

Lupi menekankan bahwa aksi pengeroyokan tersebut merupakan reaksi spontan rekan-rekannya setelah melihat dirinya ditampar di kelas dan dipukul di bagian hidung saat berada di area kantor. 

Hingga kini, kasus tersebut menjadi perhatian serius pihak otoritas pendidikan dan keamanan setempat untuk dicarikan solusi terbaik.

Lapor Polisi Bawa Hasil Visum

Guru SMK yang dikeroyok siswanya di SMKN 3 Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi, akhirnya lapor polisi.

Guru mata pelajaran Bahasa Inggris itu melapor ke Polda Jambi dan menjalani pemeriksaan hingga Kamis (15/1/2026) malam.

Guru bernama Agus Saputra itu membawa hasil visum usai dikeroyok siswanya dan videonya viral di media sosial.

Lebih kurang 5 jam, Agus Saputra diperiksa sambil didampingi kakak kandungnya, nasir.

Agus melaporkan aksi kekerasan dan penganiayaan yang dialaminya.

Pengakuannya, Agus mengalami luka lebam di beberapa bagian tubuhnya seperti muka, tangan dan punggung.

Selain itu, Agus juga mengaku trauma.

Kakak kandung Agus, Nasir mengatakan bahwa langkah hukum ini diambil karena adiknya merasa dirugikan terlebih secara mental setelah kasus ini viral di sosial media.

"Kondisi adik saya sedikit pusing, kita bikin laporan dari jam  empat sore. Adik saya dirugikan secara mental dan sikis terlebih di medsos. Karena kita warga negara kita berhak melapor," kata Nasir pada Kamis (15/1/2026) malam.

Ia mangatakan bahwa pasca kejadian Aus telah melakukan visum. Di mana ada beberapa luka lebam di tubuhnya yang juga akan menjadi bukti untuk  pihak kepolisian.

"Sudah ada visum dan ada bekas lebam," ujarnya.

Sementara itu, Agus yang juga ahdir ke Polda Jambi enggan memberikan banyak komentar atas kejadian ini.

Diketahui laporan tersebut ditujukan ke beberapa siswa dalam video yang viral di sosial media. Nasir mengatakan ada lebih dari satu orang yang dilaporkan. (TribunJambi.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.