Ini Dampak Negatif dari Modifikasi Cuaca Demi Kurangi Intensitas Hujan
January 17, 2026 01:54 PM

 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan langkah mitigasi bencana dengan melaksanakan modifikasi cuaca di wilayah Muria Raya.

Operasi ini dijadwalkan berlangsung selama enam hari, mulai 15 hingga 20 Januari 2026, sebagai respons atas cuaca ekstrem yang memicu banjir dan longsor di sejumlah daerah.

Kebijakan tersebut difokuskan untuk menekan intensitas hujan di Kabupaten Kudus, Pati, dan Jepara yang dalam beberapa waktu terakhir terdampak bencana hidrometeorologi. Modifikasi cuaca diharapkan mampu mengurangi curah hujan yang terpusat di kawasan tersebut.

"Betul, modifikasi cuaca di Muria Raya berlangsung dari 15 sampai 20 Januari agar mengurangi intensitas hujan yang terjadi di kawasan tersebut" ucap Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin dalam keterangan tertulis, Jumat (16/1/2026).

Dalam pelaksanaannya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggandeng Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Operasi modifikasi cuaca dipusatkan dari lapangan udara di kawasan Bandara Ahmad Yani Semarang sebagai titik keberangkatan armada udara.

Taj Yasin menyampaikan bahwa program ini membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Meski demikian, ia tidak memaparkan secara rinci besaran biaya yang dialokasikan untuk kegiatan tersebut.

Ia menjelaskan, modifikasi cuaca dilakukan dengan mengoperasikan sejumlah pesawat yang berpatroli di wilayah udara Muria Raya. Pesawat-pesawat tersebut membawa bahan kimia khusus yang digunakan untuk menyemai awan guna mengendalikan pola hujan.

"Ya ini ikhtiar kami agar intensitas hujan tidak hanya terpusat di satu wilayah itu saja sehingga risiko banjir dapat ditekan," bebernya.

Baca juga: Buruh Dibayar Tak Sesuai UMK Oleh Perusahaan? Langsung Laporkan ke Kanal Ini

Baca juga: Prediksi Starting Line Up PSIS Semarang Saat Menjamu Deltras FC Malam Nanti

Setelah operasi modifikasi cuaca rampung, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan melakukan pemantauan dan evaluasi untuk menilai efektivitas langkah tersebut.

"Ya akan kami pantau selepas operasi ini," terangnya.

Selain upaya berbasis teknologi, Taj Yasin juga mengajak masyarakat untuk turut berperan secara spiritual. Ia berharap doa dapat dipanjatkan dalam berbagai kegiatan keagamaan, termasuk istigosah, agar Jawa Tengah terhindar dari bencana alam.

"Saya mohon Jawa Tengah untuk didoakan," pintanya.

Selain menekan intensitas hujan, ternyata modifikasi cuaca juga tak lepas dari risiko negatif.

Dihimpun dari berbagai sumber, dampak modifikasi cuaca (TMC) sangat beragam, dengan manfaat seperti mitigasi banjir, pencegahan karhutla, penambahan suplai air saat kemarau, dan pengurangan kabut di bandara, namun juga membawa risiko seperti dampak tak terduga pada ekosistem, potensi konflik sosial jika akses tidak merata, serta masalah etika dan dampak lintas batas yang memerlukan regulasi ketat, dan efektivitasnya tidak selalu konsisten.   

Dampak Negatif (Risiko)

Ekosistem: 

Perubahan suhu signifikan dapat merusak ekosistem, mengganggu rantai makanan, dan penggunaan garam perak iodida (AgI) berlebih dapat mempengaruhi tanah dan air.  

Efektivitas & Konsistensi: 

Tidak selalu efektif dan sulit diprediksi; terkadang bisa berbahaya jika terjadi kondisi seperti cold pool (kantong udara dingin).  

Sosial & Ekonomi: 

Biaya tinggi dan akses yang tidak merata dapat memperparah kesenjangan ekonomi, serta memicu perselisihan antarnegara.  

Etika & Regulasi: 

Muncul isu manipulasi lingkungan dan kebutuhan regulasi ketat untuk mencegah penyalahgunaan dan dampak lintas batas yang tidak diinginkan.  

Perubahan Pola Cuaca: 

Modifikasi lokal dapat mengganggu pola cuaca regional, mendorong awan ke wilayah lain yang berpotensi memperburuk dampak di sana.  

Modifikasi cuaca adalah alat yang kuat untuk mengatasi masalah cuaca ekstrem dan bencana, namun perlu dilakukan dengan sangat hati-hati, penelitian mendalam, kolaborasi internasional, dan regulasi yang ketat karena potensi risiko lingkungan, sosial, dan etika yang signifikan. 

Sebelumnya, BNPB melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah Muria Raya.

Operasi modifikasi cuaca untuk menangani darurat bencana banjir dan longsor yang beberapa hari ini melanda wilayah Muria Raya meliputi Kudus, Pati dan Jepara.

Operasi ini dipusatkan dari Lapangan Udara Ahmad Yani, Kota Semarang, pada Kamis (15/1).

Operasi modifikasi cuaca dilakukan dengan menggunakan satu unit pesawat Carravan dengan registrasi PK-SNP.

Pesawat ini menyasar target awan yang berada di perairan utara Semarang lalu memulai penyemaian pertama pada pukul 06.00 WIB.

"Operasi modifikasi cuaca ini dilakukan untuk mereduksi curah hujan yang terpantau tinggi di wilayah terdampak bencana yaitu Kabupaten Pati, Kudus, dan Jepara," ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam keterangan tertulis yang diterima Tribunjateng.com

Selain dukungan modifikasi cuaca, BNPB menurunkan tim reaksi cepat (TRC) ke tiga kabupaten terdampak banjir dan longsor di wilayah Muria Raya.

"Tim ini melakukan asesmen lapangan untuk ditindaklanjuti menjadi rencana penanganan darurat selanjutnya," sambung Muhari. (Iwn/Lyz) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.