Mortalitas Kanker Paru Tinggi, Pemerintah Diminta Hadir Lewat Skrining dan Program Berhenti Merokok
January 17, 2026 03:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kanker paru masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi akibat kanker di Indonesia. 

Tingginya angka mortalitas ini sebaian besarnya karena keterlambatan diagnosis. Banyak pasien baru terdeteksi pada stadium lanjut, sehingga pilihan terapi menjadi terbatas dan angka kesintasan rendah.

Skrining kanker paru, khususnya pada kelompok beresiko tinggi, mampu mendeteksi penyakit pada tahap awal ketika pengobatan masih lebih efektif dan peluang hidup pasien meningkat. Namun, sampai saat ini skrining kanker paru belum terintegrasi optimal dalam program kesehatan nasional.

Kemudian, merokok merupakan faktor resiko utama kanker paru dengan sebagian besar kasus berkaitan langsung dengan paparan rokok, baik perokok aktif maupun pasif. Upaya menurunkan angka kematian akibat kanker paru harus berjalan seiring dengan penguatan program berhenti merokok dan kebijakan pengendalian tembakau yang tegas dan berkelanjutan.

Perkumpulan Onkologi Toraks Indonesia atau POTI menggelar kegiatan POTI 2026 2nd Lung Cancer Forum bertemakan The Art & Science of Thoracic Oncology: Practical Implementation for Daily Practice dari 16-18 Januari 2026 di Hotel Aryaduta, Bandung.

Forum tersebut menjadi wadah strategis bagi para tenaga kesehatan, akademisi, dan pemangku kebijakan untuk membahas perkembangan terkini dalam skrining, diagnosis, dan tatalaksana kanker paru, sekaligus memperkuat advokasi pencegahan lewat pengendalian rokok.

Ketua POTI, dr Andika Chandra mengatakan keterlibatan pemerintah sangat penting dalam menekan angka kematian kanker paru.

"Mortalitas kanker paru di tanah air masih tinggi karena sebagian besar pasien datang dalam kondisi stadium lanjut. Perlu kebijakan nasional yang kuat untuk skrining kanker paru pada kelompok beresiko tinggi dan program berhenti merokok yang terintegrasi dan berkelanjutan," katanya, Jumat (16/1/2026).

Ketua Panitia POTI 2026, dr Yun Amril menambahkan terkait pentingnya implementasi hasil ilmiah ke praktek sehari-hari. Dia berharap, lewat forum tersebut bisa menjembatani ilmu dan praktek klinis, sehingga deteksi dini dan tatalaksana kanker paru bisa diterapkan secara nyata dalam pelayanan kesehatan sehari-hari.

"Lewat kolaborasi lintas sektor antarapemerintah, organisasi profesi, dan masyarakat, semoga upaya skrining dini dan pengendalian rokok bisa diperkuat, sehingga angka mortalitas kanker paru di Indonesia bisa ditekan signifikan," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.