Aksi Pengeroyokan Guru di Jambi Dipicu Siswa Ditampar di Depan Kelas, Guru Minta Dipanggil Prince
January 17, 2026 02:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, menyoroti aksi pengeroyokan guru yang terjadi di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi.

JPPI merupakan organisasi masyarakat sipil yang bergerak sebagai pengawas kebijakan serta praktik pendidikan di Indonesia.

Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menyatakan tindakan kekerasan oleh guru dinormalisasi dengan dalih pendisiplinan.

"Sanksi itu selalu tidak diberikan kepada pelaku, sehingga pelaku merasa bahwa perbuatan kekerasan atas nama penertiban, atas nama pendisiplinan, itu terus dilakukan meskipun itu salah. Sanksinya paling administratif," ucapnya, dikutip dari YouTube KompasTV.

Menurutnya, pendekatan yang dilakukan guru sangat buruk sehingga tidak ada dialog ketika menghukum siswa.

"Jangan sampai kejadian siswa seakan-akan mengeroyok guru, lalu guru menjadi kebal hukum. Mari kita gelar perkara di pengadilan," tegasnya.

Sebelumnya, siswa berinisial MUF, mengaku menjadi korban penamparan guru bahasa Inggris bernama Agus Saputra.

Awalnya, siswa di kelasnya ribut lantaran pelajaran hendak berakhir.

Ia kemudian teriak saat Agus Saputra melintas di depan kelas.

“Saya bilang ke teman-teman, ‘woi, diam’. Tidak tahu kalau beliau lewat depan kelas,” terangnya.

Agus Saputra yang merasa diteriaki masuk ke kelas dan menampar MUF.

Baca juga: Guru di Jambi Dikeroyok Siswa, Komisi X DPR: Kekerasan Tak Bisa Dibenarkan

Selama ini, kata dia, Agus tidak ingin disebut bapak dan meminta dipanggil 'prince'.

Hukuman fisik berulang kali diduga dilakukan Agus ke siswa, bahkan ucapannya dianggap kasar.

“Sering ngomong kasar, menghina siswa dan orang tua, bilang bodoh dan miskin,” lanjutnya.

Pengeroyokan terjadi setelah Agus mengancam siswa menggunakan alat pemotong rumput.

Bahkan, MUF kembali dipukul sehingga puluhan siswa bereaksi.

“Pas saya dekat ke muka dia, saya ditinju di hidung.”

“Kalau tidak ditinju dulu, tidak akan ada pengeroyokan,” jelasnya.

Ia akan berdiskusi dengan keluarga untuk melaporkan Agus ke polisi.

Baca juga: Guru SMK di Jambi yang Dikeroyok Siswa Kini Lapor Polisi, Sudah Lakukan Visum, Akui Tak Ikut Mediasi

Korban Buat Laporan Polisi

Agus mendatangi Mapolda Jambi untuk melaporkan para siswa yang melakukan pengeroyokan.

Ia memberikan hasil visum sebagai barang bukti serta rekaman CCTV.

Kakak Agus, Nasir, menerangkan adiknya mengalami trauma setelah dikeroyok para siswa.

"Kondisi adik saya sedikit pusing, kita bikin laporan dari jam  empat sore. Adik saya dirugikan secara mental dan psikis terlebih di medsos. Karena kita warga negara kita berhak melapor," ungkapnya, dikutip dari TribunJambi.com.

Sebelum membuat laporan polisi, Agus telah melaporkan puluhan siswa ke Dinas Pendidikan Jambi.

Dalam keterangannya, para siswa mengaku ditindas oleh Agus.

Namun, Agus membantah melakukan penindasan karena selama 15 tahun mengajar tak pernah mengalami kejadian seperti ini.

Baca juga: Siswa Minta Guru yang Dikeroyok di Jambi Dipindah, Disebut Sering Menindas, Agus: Pikir Logika Saja

"Apakah saya melakukan hal-hal yang membuat mereka rusak? Kan itu perlu penyelidikan lagi,” bebernya

Dalam proses mediasi, para siswa meminta Agus dipindahkan ke sekolah lain.

Agus menerima hal tersebut dengan syarat para siswa membuat petisi.

“Saya meminta mereka, kalau tidak, menginginkan lagi guru bahasa Inggris bekerja di sini silakan buat petisi,” lanjutnya.

(Tribunnews.com/Mohay/Fersianus) (TribunJambi.com/Suci)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.