Pengakuan Siswa SMK yang Ditampar Guru Bahasa Inggris Picu Pengeroyokan, Berawal Ucapan 'Woi Diam'
January 17, 2026 03:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Insiden siswa SMK yang mengeroyok guru Bahasa Inggris masih menjadi sorotan.

Kini, seorang siswa kelas 2 ATP berinisial MUF membeberkan versi kejadian terkait keributan antara siswa dan guru di SMK Negeri Tanjung Jabung Timur, Jambi.

Diketahui, video pengeroyokan itu viral di media sosial.

Siswa bersinial MUF itu mengaku awalnya menjadi korban dugaan kekerasan oleh guru Bahasa Inggris bernama Agus Saputra.

Menurut MUF, kejadian bermula saat proses belajar mengajar di dalam kelas menjelang pelajaran berakhir. Saat itu suasana kelas disebut sedikit ribut.

“Saya bilang ke teman-teman, ‘Woi, diam’. Tidak tahu kalau beliau lewat depan kelas,” ujar MUF.

Baca juga: Minta Guru Bahasa Inggris yang Dikeroyok Siswa SMK Dipindahkan, Ketua OSIS: Dia Sering Menindas Kami

Tak lama kemudian, kata MUF, guru tersebut masuk ke dalam kelas tanpa meminta izin kepada guru yang sedang mengajar dan langsung menanyakan siapa yang mengucapkan kata tersebut.

“Saya jawab, ‘Saya, Prince’. Terus saya disuruh ke depan dan langsung ditampar,” katanya.

MUF menjelaskan, guru tersebut memang tidak ingin dipanggil dengan sebutan “Bapak” dan meminta dipanggil “Prince” oleh para siswa.

Ia juga mengungkapkan, guru tersebut kerap bersikap keras terhadap murid.

Siswa yang dianggap nakal disebut bisa diberi skor pelajaran hingga tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran selama satu semester.

Selain itu, MUF menyebut guru tersebut sering melontarkan kata-kata kasar yang dinilai tidak pantas diucapkan kepada siswa.

“Sering ngomong kasar, menghina siswa dan orang tua, bilang bodoh dan miskin,” ujarnya.

Situasi kemudian kembali memanas di depan kantor sekolah. 

MUF mengatakan, saat kondisi sudah tenang, guru tersebut tiba-tiba keluar membawa alat sapit rumput dan mengejar para siswa.

“Kami sudah tenang di depan kantor, tapi dia keluar bawa sapit rumput dan ngejar kami,” katanya.

Keributan disebut berlanjut saat para siswa meminta guru tersebut untuk meminta maaf atas ucapannya yang dinilai menghina orang tua siswa. Namun permintaan tersebut tidak dipenuhi.

Saat berada di kantor sekolah, MUF mengaku kembali mendapat kekerasan fisik.

“Pas saya dekat ke muka dia, saya ditinju di hidung,” ujarnya.

Pemukulan tersebut, menurut MUF, disaksikan langsung oleh siswa lain sehingga memicu reaksi spontan berupa pengeroyokan.

“Kalau tidak ditinju dulu, tidak akan ada pengeroyokan,” tegas MUF.

MUF berharap ke depan tidak ada lagi tindakan kekerasan di lingkungan sekolah dan proses belajar mengajar bisa berjalan dengan aman dan kondusif.

Ia juga menyebut pihak keluarga tengah mempertimbangkan untuk menempuh jalur hukum terkait kejadian tersebut.

Ketua OSIS bongkar Perilaku Pak Guru

Sementara itu, dari pihak siswa mengatakan bahwa hal sebaliknya justru dilakukan oleh sang guru.

Siswa mengaku merasa sering ditindas oleh guru tersebut.

Kondisi tersebut membuat mereka tidak merasa nyaman.

Kini, para siswa meminta agar guru Agus Saputra dipindahkan dari sekolah tersebut.

Pasca insiden pengeroyokan guru, Ketua OSIS menyampaikan permintaan maaf.

Selain permintaan maaf, Ketua OSIS wanita dalam video yang diunggah akun Instagram @cicitvjambi menyebutkan jika para siswa meminta guru yang ada dalam video viral dipindahkan.

Ketua OSIS tersebut memberikan pernyataan menohok pasca video pengeroyokan tersebut viral.

Alih-alih menyesal, ia sebagai perwakilan siswa meminta oknum tersebut dipindahkan ke tempat lain.

"Di sini saya sebagai Ketua OSIS di SMK 3 Tanjung Jabung Timur ingin menyampaikan permintaan maaf terhadap instansi yang terlibat, dengan tersebarnya video pengeroyokan terhadap guru," kata dia, dikutip dari video yang diunggah akun Instagram @cicitvjambi, Rabu (14/1/2026) malam, dikutip Tribunjambi.com

Kata perwakilan siswa itu, pengeroyokan itu terjadi karena guru sering menindas siswanya.

"Hal tersebut terjadi karena oknum tersebut sering  menindas kami di SMK Negeri 3 Tajung Jabung Timur," lanjutnya.

"Kami hanya ingin beliau dipindahkan ke tempat yang lain, karena kami tidak nyaman beliau ada di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur ini," tutup perwakilan siswa yang juga ketua OSIS SMKN 3 Tanjab Timur tersebut.

Saran tersebut tidak mampu meredam emosi siswa. Puncaknya aksi pengeroyokan terjadi sebagaimana dalam video viral.

Agus Saputra dikeroyok oleh siswa kelas X hingga XII.

“(Akibatnya) bengkak tangan saya, masih sakit. Bagian belakang (punggung) memar-memar,” ungkapnya.

Usai kejadian, Agus Saputra melaporkan aksi pengeroyokan ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi.

Ia berharap baik guru maupun murid harus bisa saling menghargai utamanya di lingkungan sekolah

"Saling hormat menghormati, harga menghargai,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Ranto M memastikan kegiatan belajar mengajar berjalan normal usai kejadian.

Permasalahan sudah dimediasi oleh sekolah maupun petugas kepolisian.

“Kami minta masyarakat tidak terpancing informasi yang belum tentu benar. Mari bersama menjaga keamanan dan ketertiban. Percayakan penanganannya kepada sekolah, TNI, dan Polri,” pintanya, dikutip dari TribunJambi.com.

Guru Ungkap Kronologi Kejadian

Agus Saputra secara resmi melaporkan peristiwa pengeroyokan tersebut ke Disdik Provinsi Jambi pada Rabu (14/1/2026).

Ia mengungkapkan kejadian bermula saat dirinya ditegur seorang siswa dari kelas, saat proses belajar mengajar berlangsung, sekira pukul 09.00 hingga 10.00 WIB.

Menurutnya, teguran itu bernada tidak sopan dan sempat direkamnya

“Dia menegur dengan tidak sopan dan tidak hormat kepada saya dengan meneriakan kata yang tidak pantas saat dia belajar,” katanya, pada Rabu (14/01/2026).

Agus menuturkan, dirinya masuk ke kelas siswa tersebut dan menanyakan terkait hal itu.

“Kemudian, saya masuk ke kelas saya tanyakan siapa yang memanggil saya seperti itu,” tuturnya.

 “Dia langsung menantang saya, katanya seperti itu. Akhirnya saya refleks satu kali menampar muka dia itulah kejadiannya awal,” lanjutnya.

Agus menjelaskan, pada jam istirahat dirinya ditantang kembali oleh siswa tersebut.

Kejadian tersebut berlarut hingga pukul 13.00 WIB sampai 16.00 WIB.

“Terjadi mediasi sebelum ada pengeroyokan terhadap saya. Saya sudah berusaha tenang. Pada saat itu saya masih berada di dalam kantor dengan ada CCTV sebagai pembuktian,” jelasnya.

Agus menerangkan, saat mediasi, dirinya menanyakan apa keinginan siswa tersebut.

“Mereka meminta saya meminta maaf untuk hal yang tidak saya lakukan. Kemudian saya membeli alternatif kepada mereka, terangnya.

Jalan alternatif itu berupa pembuatan petisi. 

“Membuat petisi, kalau seandainya mereka tidak menginginkan saya lagi untuk mengajar di sana. Atau, mereka mengubah perangai (perilaku) mereka menjadi lebih baik lagi dari sekarang,” ujarnya.

Agus menambahkan, dirinya sempat diajak komite sekolah seusai mediasi.

“Saya diajak komite masuk ke ruang kantor, di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, kelas 2, kelas 3,” ucapnya.

“Ada videonya, ini sudah viral mungkin. Kemudian juga setelah itu, ini kan banyak nih yang viral di video itu, ada juga yang bawa senjata kita jadinya,” pungkasnya.

(Banjarmasinpost.co.id/TribunJambi.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.