TRIBUNNEWS.COM – Arsenal kembali menunjukkan keseriusannya dalam menyempurnakan detail permainan. Klub asal London Utara itu resmi menambah satu anggota baru dalam staf kepelatihan, yakni pelatih spesialis lemparan ke dalam, Thomas Gronnemark.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya Mikel Arteta untuk memaksimalkan setiap situasi bola mati, termasuk throw-in yang kerap dianggap sepele, tetapi sebenarnya memiliki potensi besar dalam menciptakan peluang.
Musim ini, The Gunners telah mencetak 14 gol dari situasi bola mati di liga utama, terbanyak dibandingkan tim lain. Namun, mereka belum sekali pun mencetak gol dari peluang yang berasal dari lemparan ke dalam.
Diketahui, Gronnemark akan bekerja bersama Arsenal dengan status paruh waktu.
“Ya, benar bahwa saya ditunjuk sebagai pelatih lemparan ke dalam di Arsenal. Saya belum bisa menceritakan lebih banyak tentang hal ini sekarang di klub tersebut,” tulis Thomas Gronnemark melalui akun Instagram pribadinya.
Pria asal Denmark itu sebelumnya pernah bekerja di bawah arahan Jurgen Klopp di Liverpool pada periode 2018 hingga 2023, serta sempat menjadi konsultan di Brentford.
Sejak awal musim lalu, tidak ada tim Liga Inggris yang mencetak lebih banyak gol dari lemparan ke dalam selain Brentford dengan total sembilan gol.
Sementara itu, Arsenal justru menjadi salah satu dari lima tim yang belum mencetak satu gol pun dari situasi serupa dalam periode yang sama.
Musim ini, Declan Rice menjadi andalan Arsenal sebagai eksekutor lemparan jauh, seiring semakin banyak klub memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengirim bola langsung ke kotak penalti lawan.
Baca juga: Bedah Sisa Laga Arsenal & Manchester City di Liga Inggris: Arteta Melawan Bayang-bayang Masa Lalu
Pada musim Liga Inggris lalu, tercatat total 20 gol tercipta dari lemparan ke dalam oleh seluruh tim. Jumlah itu meningkat menjadi 25 gol pada musim ini.
Melihat potensi tersebut, Arsenal pun tak ingin kehilangan momentum dengan merekrut pelatih spesialis lemparan ke dalam, Thomas Gronnemark.
“Lemparan ke dalam sering diremehkan oleh pelatih, pemain, komentator, dan penggemar sebagai sesuatu yang dilakukan begitu saja tanpa strategi,” ujar Gronnemark, dikutip dari BBC.
Gronnemark didatangkan ke Merseyside oleh Jurgen Klopp pada saat lemparan ke dalam masih dianggap sebagai aspek permainan yang kurang mendapat perhatian.
Namun, mantan pelatih Borussia Dortmund itu langsung menaruh kepercayaan penuh kepada sang spesialis dan hasilnya pun terbukti signifikan.
Selama masa kerja Gronnemark di Liverpool, tingkat penguasaan bola The Reds dari situasi lemparan ke dalam melonjak dari 45,4 persen menjadi 68,4 persen.
Pencapaian tersebut mengangkat Liverpool dari peringkat ke-18 menjadi yang terbaik di liga dalam metrik tersebut.
Peningkatan itu bukan semata soal melempar bola ke kotak penalti setiap kesempatan, melainkan hasil dari pengaturan pergerakan pemain, penempatan posisi, serta kecepatan dalam memulai kembali permainan.
Gronnemark sebelumnya juga menjelaskan bagaimana perubahan teknis kecil mampu memberi dampak instan.
Salah satu contohnya adalah Joel Matip, yang jarak lemparan ke dalamnya meningkat lebih dari delapan meter hanya dalam satu sesi latihan.
Keuntungan-keuntungan kecil tersebut turut menopang keberhasilan Liverpool menjuarai Liga Champions, sebelum akhirnya disusul gelar Liga Premier yang telah lama dinantikan.
“Jika Anda berharap pemain sepak bola profesional menjadi pelempar kelas dunia tanpa pelatihan, maka Anda terlalu optimistis. Secara umum, standarnya masih cukup buruk,” ujar Gronnemark.
Ia menambahkan, “Fokus pada lemparan ke dalam dapat menyelamatkan klub-klub kecil sebagai salah satu cara bertahan hidup. Namun di level tertinggi liga, hal itu justru membantu menciptakan gaya permainan yang lebih lancar. Terlepas dari posisi di klasemen, lemparan ke dalam selalu menjadi sebuah keuntungan.”
(Tribunnews.com/Ali)