WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Di tengah padatnya lalu lintas dan bising kendaraan Jakarta, ada suara yang tetap bertahan dan mudah dikenali.
Suaranya melengking lembut seperti peluit, menggema dari kejauhan.
Suara itu bukan dari alat musik atau peluit petugas, melainkan dari uap panas dapur bambu penjual kue tradisional putu.
Baca juga: 10 Kuliner di Pasar Baru Jakarta Pusat, Legendaris dan Wajib Dicoba
Bagi warga Jakarta, suara tersebut sudah menjadi penanda kehadiran jajanan legendaris yang tidak hanya menggugah selera, tetapi juga menyimpan cerita panjang tentang kenangan masa lalu.
Meski harus bersaing dengan hiruk-pikuk kota, suara peluit dari kue putu tidak pernah benar-benar hilang.
Salah satu penjaga tradisi itu adalah Azul, penjual putu yang telah berjualan selama 10 tahun.
Baca juga: Wisata Air Kalimalang Bekasi Ditargetkan Rampung Maret 2026, PTMP Siapkan 87 Kontainer Kuliner
Dengan gerobak sederhana, Azul berkeliling di antara lalu lalang mobil mewah, menyusuri jalan besar hingga gang-gang padat di Jakarta Pusat.
Setiap langkah selalu diiringi suara khas peluit uap dari dapur bambu yang dibawanya.
Di malam hari saat udara mulai dingin, uap panas dari cetakan bambu kue putu ayu justru menghadirkan kehangatan tersendiri bagi para pembeli.
Baca juga: Mencicipi Kuliner Legendaris, Sop Buntut Cut Meutia, Langganan Keluarga Cendana hingga Purbaya
"Suara ini diingat warga yang sudah pernah membeli, begitu dengar, orang langsung tahu ini putu," kata Azul saat ditemui Wartakotalive.com, Sabtu (17/1/2026).
"Hanya kue putu yang mengeluarkan suara seperti peluit dari uap saat dimasak dalam bambu," lanjutnya.
Dengan harga terjangkau, hanya Rp 2.500 per kue, putu hangat saat disajikan, aroma pandan dan kelapa parutnya langsung menggoda.
Baca juga: Kolesterol Mengintai Anak Muda, Gaya Hidup Kuliner Jadi Sorotan
Rasa manisnya sederhana, namun cukup untuk membawa ingatan pada masa kecil saat jajanan tradisional masih menjadi teman setia sepulang bermain.
Azul juga menjajakan klepon yang gembul-gembul dan mengilap.
Saat digigit, gula merah di dalamnya lumer, berpadu dengan tekstur kenyal dan balutan kelapa parut yang gurih.
Baca juga: Restoran Pandawa Hadir untuk Warga Dunia, Nikmati Surga Kuliner Halal Indonesia di Sydney Australia
Sajian klasik ini selalu berhasil menarik perhatian pembeli dari berbagai usia, dari anak-anak hingga orang tua.
Devi, salah satu pembeli, selalu tergoda setiap kali mendengar suara khas tersebut.
Selain rasanya yang enak, harga yang ramah di kantong membuatnya kerap membeli putu ayu untuk menemani waktu sore.
Baca juga: Punya Potensi Besar di Asia Tenggara, K-Food Incar Indonesia Sebagai Pasar Utama Kuliner
Setiap hari, Azul berkeliling dari kawasan Tugu Tani hingga Salemba, Jakarta Pusat.
Ia mulai menjajakan putu ayu sejak pukul 17.00 WIB hingga sekitar pukul 22.00 WIB.
Di tengah Jakarta yang terus bergerak cepat, suara peluit dari dapur bambu itu tetap setia menjadi pengingat akan kehangatan jajanan tradisional yang tak lekang oleh waktu. (m27)