Bina Remaja GMIM, Renungan 25-31 Januari 2026, Mengasihi Saudara Adalah Wujud Hidup di dalam Terang
January 17, 2026 07:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Bina Remaja GMIM, renungan dalam sepekan mulai 25 - 31 Januari 2026.

Pembacaan alkitab terdapat pada 1 Yohanes 2:7-17.

Tema perenungan adalah Mengasihi Saudara Adalah Wujud Hidup di dalam Terang.

Khotbah:

Kakak-kakak pembina dan adik-adik remaja yang dikasihi Tuhan Yesus, dari manakah kita dikenal adalah pengikut pengikut Kristus?

Sebuah lagu dengan baik memberi jawabannya kepada kita. They will know we are Christians by our love.

Orang akan mengenal kita adalah pengikut Kristus dari kasih kita. Kasih apakah yang dimaksud?

Lalu, dimulai dari siapakah kasih itu diberlakukan? Kita perlu memikirkan hal ini, sebab entahkah kita menjadi berkat atau menjadi batu sandungan dimulai dari memahami kasih yang benar itu dan bagaimana menerapkan kasih 
itu dalam hidup sehari-hari. 

Berada di dalam Kristus adalah satu-satunya alasan orang percaya mengerti dan mengalami kasih Allah itu.

1 Yohanes 4:9-10 berkata, "Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. 

Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita."

Kasih itu, yang tak dapat dipahami oleh dunia, ialah kasih Kristus yang berkorban demi keselamatan orang berdosa.

Orang percaya, oleh karena Kristus dan kasih-Nya yang besar, dimasukkan ke dalam persekutuan dengan Allah dan dengan sesama orang percaya.

Maka, orang percaya yang mengalami kasih Kristus itu memahami bahwa ia dipanggil untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesamanya. 

Dalam dua hal inilah kasih diberlakukan. Penulis Surat 1 Yohanes menyapa komunitas orang percaya penerima surat sebagai saudara-saudara yang kekasih."

Sapaan ini datang dari kata agapetoi, yang mengungkapkan kasih dan belas kasihan dari Yohanes kepada jemaat.

Kasih dan belas kasihan inilah yang harus nyata juga dalam hidup orang percaya satu sama lain, melampaui sekadar sapaan belaka.

Panggilan untuk hidup dalam kasih tersebut sesungguhnya bukanlah sesuatu yang baru pertama kali didengar oleh mereka yang percaya, namun perlu ada pembaharuan dalam pemahaman dan penerapannya.

Yohanes menyebutnya sebagai perintah lama, namun baru juga.

Lama, sebab orang Israel telah mendengar perintah saling mengasihi sebagai bagian integral dari hukum Taurat yang telah diterima orang Israel ribuan tahun yang lalu (band. Imamat 19:18 dan Matius 22:36-40). 

Baru, sebab perintah saling mengasihi bagi orang percaya telah ada dalam penggenapannya yang sempurna dalam Kristus.

Dalam terang yang baru, perintah saling mengasihi bagi orang percaya bukanlah sekadar untuk saling mengasihi, melainkan untuk mengasihi sebagaimana Kasih dalam pengertian paling sempurna ini menandai pekerjaan Allah di dalam Kristus yang melenyapkan kegelapan dan membawa terang yang benar bercahaya. 

Kristus mengasihi (band. Yohanes 13:34-35, 15:13).

Kasih yang benar di dalam Kristus membuat seseorang tidak dapat hidup dalam kebencian terhadap saudara, sebab bila demikian maka seseorang sesungguhnya berada dalam kegelapan, bukan di dalam terang.

Penting untuk mengingat hal ini, yakni bahwa seseorang dapat seakan-akan mengikuti Yesus sambil tetap hidup dalam kebencian.

Mereka yang mengasihi saudaranya adalah mereka yang sungguh-sungguh tinggal di dalam terang. 

Saudara yang dimaksud di sini pertama-tama menunjuk pada mereka yang berada dalam komunitas orang percaya itu sendiri, lalu menunjuk pada orang lain di sekitarnya.

Mengasihi saudara membuat seseorang tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain dan membuatnya menjadi contoh yang benar bagi sesama orang percaya.

Mereka yang membenci saudaranya hidup dalam kegelapan, dan laksana orang yang dibutakan oleh kegelapan, 
mereka menyesatkan orang lain dalam kegelapan. 

Yohanes berbicara kepada komunitas orang percaya penerima suratnya dalam komitmen mengingatkan siapa mereka 
di dalam Kristus. 

Orang percaya adalah mereka yang telah diampuni oleh karena nama Yesus dan dalam kesadaran dan identitas itulah orang percaya harus bertindak.

Yohanes menyapa mereka sebagai anak-anak, bapa-bapa, dan orang-orang muda.

Hal ini dapat menunjuk pada beragamnya kelompok usia dalam jemaat, juga dapat menunjuk pada tingkat kedewasaan rohani jemaat yang berbeda-beda pula. 

Karya Kristus di kayu salib telah membawa orang percaya masuk dalam hubungan dan persekutuan dengan Allah, di mana mereka telah mengalahkan yang jahat oleh kemenangan Kristus, lalu dipanggil untuk mengenal Dia hari demi 
hari.

Pengenalan itu datang dari firman Allah yang diam di dalam orang percaya. 

Kakak-kakak pembina dan adik-adik remaja yang dikasihi Tuhan Yesus, penting untuk mengingat identitas kita sebagai 
gereja, yakni kita sebagai orang-orang yang telah dipanggil keluar dari gelap masuk ke dalam terang-Nya yang ajaib (band. 1 Petrus 2:9).

Ini sesuai dengan identitas yang berulang kali ditekankan di sepanjang Surat 1 Yohanes, bahwa kita adalah orang-orang di dalam terang.

Namun demikian, kita tidak boleh lupa bahwa kita yang telah dipanggil keluar dari gelap lalu masuk ke dalam terang 
 Tuhan, kita diutus untuk menerangi kegelapan dunia.

Bukankah kita adalah terang dunia dan bahwa terang hanya dapat bersinar di dalam gelap?

Maka, kita semua sebagai orang percaya diutus ke tengah dunia yang gelap untuk membawa terang Tuhan, sambil mengingat sifat yang harus selalu ada dalam diri kita, yakni kontra budaya yang jahat dan berdosa.

Rasul Paulus membahasakannya dalam Roma 12:2 agar orang percaya tidak menjadi serupa dengan dunia ini.

Sifat kontra budaya yang jahat dan berdosa dibahasakan Yohanes sebagai panggilan untuk tidak mengasihi dunia dengan segala kenikmatannya yang menjerumuskan: keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup.

Hidup dalam terang membuat kita mengejar kehendak Allah dan bukannya mengikuti keinginan dunia. Di sanalah hidup sejati itu.

Ya, dunia ini sedang mengalami krisis terbesar, yakni hilangnya kasih yang benar. 

Maukah kita sebagai pembina dan remaja bagi Kristus menunjukkan hidup dalam kasih yang benar itu? Mari memulainya dari komunitas orang percaya di mana kita ditempatkan Tuhan.

Dunia membutuhkan contoh nyata dari kasih Kristus yang kita yakini. Kasih itu biarlah semakin bertambah dan meluas dalam kehadiran kita bagi orang lain.

Ayo mulai dari rumah, sekolah, pelayanan, dan pergaulan kita. Di tengah dunia yang penuh dengan bullying, mari membawa kasih yang menerima orang lain sebagaimana kita telah diterima oleh Kristus.

Di tengah budaya cacian dan kata-kata kasar dan makian, mari membawa kata-kata yang benar dan yang membawa damai sejahtera.

Di tengah dunia yang penuh dendam dan akar pahit, mari membawa kasih dan pengampunan Kristus.

Biarlah orang mengenal kita adalah pengikut Kristus dari kasih kita. Tuhan menolong kita. Amin.

Sumber: KPRS GMIM edisi Desember 2025 - Januari 2026

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.