SURYAMALANG.COM, BATU - Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 14 Kota Batu yang ada di Panti Perlindungan dan Pelayanan Sosial Petirahan Anak (PPSPA) Bhima Sakti Songgokerto, Kecamatan Batu, Kota Batu kini telah terisi sebanyak 149 siswa dari kapasitas 150 siswa yang terbagi dalam enam kelas.
Sekolah yang diresmikan pada Senin (14/7/2025) lalu, bersamaan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) siswa baru serentak di Indonesia itu awalnya hanya memiliki 100 peserta didik.
Namun dalam perjalanannya, Sekolah Rakyat ini mendapat tambahan siswa dari luar Kota Batu.
Siswa-siswa itu datang dari Kabupaten Malang, Kediri, Jombang, serta daerah sekitar Malang Raya.
Kepala Sekolah SRMP 14 Kota Batu, Yulianah mengatakan, selama enam bulan terakhir para siswa telah mengikuti kegiatan belajar mengajar serta kehidupan di asrama.
Bahkan siswa juga telah menerima rapor yang berisi nilai mata pelajaran serta penilaian selama tinggal di asrama.
Sebab selain penilaian akademik, siswa juga dinilai dalam perilaku sehari-hari oleh wali asuh dan wali asrama.
Baca juga: Dewan Kesenian dan Pemkot Sepakati 7 Langkah Strategis Demi Kemajuan Kebudayaan di Kota Batu
“Alhamdulillah progresnya signifikan. Kami sudah menyelenggarakan ujian tengah semester (UTS) dan ada ujian akhir semester (UAS)."
"Sehingga anak-anak sudah bisa kami terimakan rapor."
"Untuk rapor ini di Sekolah Rakyat para siswa menerima dua rapor."
"Pertama hasil pembelajaran dan rapot keasramaan,” kata Yulianah kepada SURYAMALANG.COM, Sabtu (17/1/2026).
Yulianah menjelaskan, rapor pembelajaran berisi tentang capaian, target, nilai-nilai semua mata pelajaran.
Sementara rapor keasramaan berisi tentang capaian karakter selama di asrama. Mulai dari kebersihan, spiritual, kedisiplinan, ketertiban, dan lain-lain.
“Jadi intinya penyelenggaraan pendidikan di sini senormalnya sekolah reguler."
"Berjalan normal tanpa suatu masalah maupun kendala yang berarti,” ujarnya.
Terkait rapor para siswa yang masuk dalam angkatan IA, Yulianah mengatakan hasil yang diperoleh siswa terbilang beragam.
Menurutnya itu tak lepas dari beberapa faktor, termasuk kondisi siswa ketika masuk.
“Ada yang sangat smart, ada yang karakternya imbang dengan akademisnya. Ada yang secara karakter sangat bagus tapi akademisnya agak low."
"Ada yang akademisnya bagus tapi spiritualnya kurang, ada yang dua-duanya low."
"Ada juga yang belum lancar membaca. Jadi keragaman-keragaman kemampuan itu ada semua. Saya yakin itu pun juga ada di sekolah reguler."
"Cuma tantangannya kalau di sekolah rakyat bagaimana cara kami membersamainya,” terangnya.
“Saya pesankan pada guru-guru, mengajar harus memang membersamai anak itu apa adanya."
"Jika anak memang anak belum mampu, jangan dipaksa untuk dimampukan, dampingi."
"Ketika anak itu capaiannya belum memenuhi kriteria, maka harus dibersamai. Itulah fungsi guru sekolah rakyat,” tambahnya.
Lanjutnya, bagi siswa-siswa yang dinilai perlu mendapatkan pendampingan ekstra, maka akan diberikan treatment khusus dengan tambahan belajar di luar proses belajar mengajar agar dapat mengejar ketertinggalan.
“Saat pagi hingga siang mereka bersama guru. Sedangkan setelah itu mereka bersama wali asrama dan wali asuhnya."
"Dari situ akan di update perkembangan masing-masing siswa. Jadi ini yang saya katakan, menjadi guru di sekolah rakyat itu tanggung jawabnya menuntaskan anak real adanya dan itu menjadi tantangan tersendiri bagi kami,” tuturnya.
Untuk menjadi siswa sekolah rakyat, syaratnya ialah nama anak tersebut terdaftar dalam keluarga miskin dan miskin ekstrem yang masuk data siswa prasejahtera Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) kategori desil 1 dan 2.
Selain itu siswa tersebut memiliki kemauan dan semangat untuk sekolah, serta sehat jasmani dan rohani.
Sementara itu fasilitas yang didapat siswa diantaranya laptop satu anak satu, smartboard masing-masing kelas, alat tulis untuk kebutuhan pembelajaran.
Selain itu juga kebutuhan harian berupa tinggal di asrama, seragam, makan tiga kali sehari, snack dua kali sehari, peralatan mandi, cek kesehatan rutin, pendampingan gizi, dan fasilitas pengembangan diri lainnya.
“Dalam sebulan ada satu kali waktu kunjungan bagi orang tua untuk bertemu dengan siswa,” ucapnya.
Terkait hal menarik selama menjadi kepala sekolah di SRMP 14 Kota Batu, Yulianah mengatakan banyak hal menarik yang ia dapatkan.
Khususnya harus menjadi orangtua bagi 149 siswa sekolah rakyat, karena memiliki tanggung jawab 24 jam, yang kondisi sangat jauh berbeda dengan guru di sekolah reguler.
“Paling menarik karena 24 jam mengawasi anak-anak. Saya betul-betul tertantang dan sebetulnya kalau berat ya berat, tapi menarik karena dari situlah saya merasa bahwa pendidikan yang sesungguhnya adalah seperti ini. Mengawasi mereka secara holistik."
"Tidak hanya transfer ilmu pengetahuan saja tapi juga membersamai siswa. Saya betul-betul harus menuntut diri saya, menuntut kru saya untuk ikhlas. Itu yang paling menarik."
"Termasuk saya harus bekerja dengan guru-guru dan staf yang dari Gen Z, mengobarkan semangat, mengobarkan ilmu, ikhlas ke anak-anak,” pungkasnya.