TRIBUNJOGJA.COM- Cuaca ekstrem yang melanda Kota Yogyakarta pada Sabtu (17/1/2026) menyebabkan luapan air masuk ke rumah warga serta ambrolnya talud sungai yang berdampak pada fasilitas umum. Hingga Sabtu sore, proses penanganan dan pendataan dampak masih berlangsung.
Manajer Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD DIY, Julianto Wibowo, dalam Situation Report (Sitrep) Laporan Situasi Kejadian Cuaca Ekstrem yang disampaikan pukul 16.20 WIB menyebutkan, dampak cuaca ekstrem tercatat di dua wilayah berbeda di Kota Yogyakarta.
“Dampak cuaca ekstrem berupa satu kejadian luapan air masuk rumah di wilayah Jlagran, Gedong Tengen, serta satu kejadian talud Sungai Buntung ambrol yang berdampak pada balai pertemuan dan Jembatan Merah sebagai penghubung kampung di Bangunrejo, Tegalrejo,” ujar Julianto.
Menurut laporan Pusdalops BPBD DIY, hingga laporan disusun, penanganan dan asesmen di lokasi terdampak masih terus dilakukan. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kota Yogyakarta, dengan pendataan yang masih berlangsung.
“Upaya penanganan dan assessment dilakukan oleh TRC, dengan pendataan yang masih berlangsung,” tambahnya.
Dalam penanganan kejadian tersebut, sejumlah unsur terlibat, antara lain TRC BPBD Kota Yogyakarta, Kelurahan Kricak, KTB Bangunrejo, KTB Notoyudan, KTB Jlagran, Relawan Jalan Jambon, Ketua RT 57, serta warga masyarakat setempat. Informasi awal mengenai kejadian ini diperoleh dari relawan penanggulangan bencana dan warga masyarakat.
Pusdalops BPBD DIY juga mencatat bahwa proses penanganan dan pendataan masih berlangsung, sehingga data yang disampaikan bersifat sementara dan dapat mengalami perubahan seiring pembaruan informasi di lapangan.
“Masih berlangsung proses penanganan dan pendataan. Data bersifat sementara dan dapat berubah sesuai update terbaru,” kata Julianto Wibowo.
BPBD mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi dampak lanjutan cuaca ekstrem, sembari menunggu hasil pendataan lengkap dari petugas di lapangan.