6 Fakta Pesawat ATR 42-500 Yang Hilang Kontak Di Maros, Tim Gabungan Nonstop Lakukan Pencarian 
January 17, 2026 11:32 PM

 

SURYA.co.id - Pesawat ATR 42-500 PK-THT dari maskapai Indonesia Air Transport Rute Yogyakarta-Makassar, hilang kontak di sekitar Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026), pukul 13.17 WITA.

Pesawat ATR 42-500 tersebut hilang kontak setelah melakukan lepas landas dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta, menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.

Berikut 6 Fakta Pesawat ATR 42 – 500 Yang Hilang Kontak, Sabtu (17/1/2026)

  1. Penerbangan dari Yogyakarta ke Makassar: Pesawat ATR 42-500 buatan tahun 2000 dengan nomor seri 611 berangkat dari Bandara Adi Sucipto.
  2. Waktu kejadian: Hilang kontak sekitar pukul 04.23 UTC (11.23 WIB) saat melakukan pendekatan ke landasan pacu RWY 21 Bandara Sultan Hasanuddin.
  3. Posisi terakhir: Teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya oleh Air Traffic Control (ATC) Makassar.
  4. Lokasi dugaan jatuh: Kawasan pegunungan kapur Bantimurung, Desa Leang-Leang, Kabupaten Maros. Basarnas mendirikan posko pencarian di sekitar lokasi.
  5. Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono, mengonfirmasi  tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang menjadi penumpang pesawat ATR 42-500 
  6. Sementara itu, Direktur Utama PT Indonesia Air Transport, Tri Adi Wibowo, menegaskan jumlah kru yang berada di dalam pesawat saat kejadian adalah tujuh orang, sekaligus meluruskan informasi yang menyebutkan jumlah kru lebih dari itu.

Baca juga: Menteri Trenggono Sebut 3 Penumpang Pesawat ATR 42-500 Adalah Benar Pegawai KKP 

Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan, berdasarkan laporan terakhir pukul 19.20 WIB, status pesawat, kru, dan seluruh penumpang masih dalam tahap pencarian dan pertolongan.

“Saat ini pesawat, kru, dan penumpang masih dalam proses search and rescue oleh tim SAR gabungan. Kami mohon doa dari semua pihak agar segera ditemukan dan diketahui secara pasti apa yang terjadi,” ujar Trenggono dalam keterangan pers, Sabtu malam live YouTube Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Ia juga mengklarifikasi informasi yang beredar di masyarakat terkait logo Kementerian Kelautan dan Perikanan pada pesawat tersebut.

Menurut Trenggono, memang terdapat pegawai KKP di dalam pesawat yang tengah menjalankan tugas negara.

“Terdapat pegawai KKP yang melakukan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara atau air surveillance di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia,” jelasnya.

Baca juga: Daftar 11 Nama Penumpang dan Kru Pesawat ATR 42-500 Indonesia Air Yang Hilang Kontak di Maros

Adapun tiga pegawai KKP yang berada di dalam pesawat tersebut yakni:

  1. Feri Irawan, Penata Muda Tingkat I yang menjabat sebagai Analis Kapal
  2. Pengawas, Deden Mulyana, Penata Muda Tingkat I dengan jabatan Pengelola Barang Milik Negara.
  3. Yoga Noval yang bertugas sebagai Operator Foto Udara.

Pesawat yang digunakan dalam misi tersebut adalah ATR 42-500 yang dioperasikan oleh PT Indonesia Air Transport (IAT).

Trenggono menegaskan, KKP terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait untuk memantau perkembangan pencarian.

Namun, terkait proses pencarian dan penyelidikan penyebab kecelakaan, KKP sepenuhnya menyerahkan kepada otoritas berwenang.

“Untuk pencarian dan penyebab insiden, kami serahkan sepenuhnya kepada Basarnas, KNKT, dan Kementerian Perhubungan,” papar Trenggono.

Jumlah Kru Pesawat

Sementara itu, Direktur Utama PT Indonesia Air Transport, Tri Adi Wibowo, menegaskan jumlah kru yang berada di dalam pesawat saat kejadian adalah tujuh orang, sekaligus meluruskan informasi yang menyebutkan jumlah kru lebih dari itu.

“Kami informasikan dari PT IAT, kru yang on board berjumlah tujuh orang. Informasi yang beredar menyebutkan delapan orang, kami sampaikan yang benar adalah tujuh,” kata Tri Adi Wibowo dalam konferensi pers yang sama.

Ia merinci, tujuh kru tersebut terdiri dari 

  1. Kapten Andi Dhananto, 
  2. Muhammad Farhan Gunawan, 
  3. Risto Adi, 
  4. Dimurdiono, 
  5. Florend Ea Lolita, dan 
  6. Ester, 
  7. satu kru lainnya sesuai manifes penerbangan.

Tri Adi Wibowo menyatakan pihaknya turut prihatin atas insiden tersebut dan saat ini masih menunggu proses pencarian yang dilakukan oleh Basarnas dan investigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

“Kami menunggu proses pencarian dari Basarnas dan KNKT. Tim kami juga sudah meluncur ke Makassar dan saat ini berada di lokasi untuk mengikuti perkembangan proses tersebut,” pungkasnya

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.