Mengenal Indonesia Air Transport Maskapai Pesawat ATR42-500 yang Hilang Kontak di Maros
January 17, 2026 11:33 PM

 

TRIBUNBENGKULU.COM - Nama Indonesia Air Transport menjadi sorotan setelah salah satu pesawatnya berjenis ATR 42-500 dilaporkan hilang kontak saat mengudara di wilayah Maros, Sulawesi Selatan. 

Diketahui, pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan hilang kontak saat berada di wilayah pegunungan Leang-Leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada Sabtu (17/1/2026). 

Pesawat tersebut dikabarkan membawa total 11 orang yang terdiri dari delapan kru dan tiga penumpang.

Pesawat itu dijadwalkan mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan pada pukul 12.20 WIB, namun hingga saat ini keberadaannya masih belum diketahui.

Profil Indonesia Air Transport

PT Indonesia Air Transport (IAT) adalah perusahaan penerbangan swasta yang mengkhususkan diri dalam layanan charter (sewa) untuk berbagai industri. 

Terutama sektor minyak, gas, dan pertambangan, maupun layanan jet pribadi atau private jet.

Baca juga: Spesifikasi Pesawat ATR 42-500 yang Hilang Kontak di Maros Bawa 11 Penumpang dan Disewa KKP

Maskapai yang didirikan pada 1968 ini merupakan bagian dari MNC Energy Investments Tbk.

 IAT menjadi maskapai charter pertama di Indonesia yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2006. 

PT IAT berkantor pusat di MNC Tower Lt. 24, Jl Kebon Sirih No. 17–19, Jakarta Pusat dan memiliki pangkalan utama di Bandar Udara Halim Perdanakusuma.

Maskapai ini mengoperasikan kombinasi pesawat sayap tetap atau fixed-wing dan helikopter untuk menjangkau lokasi-lokasi terpencil di Indonesia

Spesifikasi pesawat tipe ATR 42-500

Sebuah pesawat tipe ATR 42-500 dilaporkan hilang kontak saat melintas di wilayah Maros, Sulawesi Selatan.

Pesawat yang membawa 11 penumpang tersebut diketahui disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sehingga insiden ini langsung mendapat perhatian serius dari otoritas penerbangan dan instansi terkait.

Pesawat ATR 42-500 tersebut dilaporkan kehilangan komunikasi dengan petugas pengatur lalu lintas udara saat dalam penerbangan di wilayah Kabupaten Maros.

Lantas seperti apa spesifikasi Pesawat ATR 42-500?

ATR 42-500 dikenal sebagai pesawat bermesin turboprop yang kerap digunakan untuk penerbangan jarak pendek hingga menengah, termasuk di wilayah kepulauan dan daerah dengan bandara terbatas. 

Pesawat jenis ini juga sering dimanfaatkan untuk penerbangan perintis maupun penerbangan khusus instansi pemerintah.

Pesawat ATR 42-500 atau Avions de Transport Regional merupakan pesawat yang banyak digunakan untuk penerbangan regional, termasuk di Indonesia.

Pesawat turboprop ini dirancang untuk melayani rute jarak pendek hingga menengah, terutama di wilayah dengan kondisi bandara terbatas. 

ATR 42-500 mampu mengangkut hingga 42 penumpang dan diproduksi melalui kerja sama dua perusahaan dirgantara Eropa, yakni Aerospatiale dari Prancis dan Alenia dari Italia.

Desainnya dikenal andal dan efisien untuk operasional penerbangan regional.

Dari sisi performa, ATR 42-500 dibekali mesin Pratt & Whitney Canada PW127E yang lebih bertenaga, dengan daya mencapai 2.400 horsepower atau sekitar 1.790 kW per mesin.

Selain itu, pesawat ini menggunakan baling-baling enam bilah berukuran lebih besar yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar dan performa lepas landas.

Dibandingkan seri sebelumnya, ATR 42-500 memiliki jarak tempuh yang lebih jauh, mencapai sekitar 1.500 kilometer atau 810 nautical mile (nm).

Keunggulan inilah yang membuat pesawat ini banyak dipilih oleh maskapai maupun instansi pemerintah untuk mendukung mobilitas antardaerah.

Hilang Kontak

Dilansir dari Kompas.com, Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan hilang kontak saat berada di wilayah pegunungan Leang-Leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada Sabtu (17/1/2026). 

Pesawat tersebut dikabarkan membawa total 11 orang yang terdiri dari delapan kru dan tiga penumpang.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Makassar, Muh Arif Anwar menyebut pesawat tersebut sedang dalam status disewa oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). 

Pesawat terbang dari Yogyakarta menuju Makassar dan dijadwalkan mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin pada Sabtu siang.

"Kami menerima info dari Airnav Makassar bahwa telah terjadi satu pesawat jenis ATR 400 milik IAT (Indonesia Air Transport) yang dioperasikan oleh atau disewa oleh KKP seperti itu. Jumlah penumpang 11 orang, di mana 8 kru dan 3 penumpang yang ikut di atas on board," ujar Arif kepada wartawan, Sabtu (17/1/2026).

Daftar Kru dan Penumpang

Berdasarkan data manifes yang dihimpun, terdapat delapan orang kru pesawat yang bertugas dalam penerbangan tersebut, yakni:

1. Pilot: Capt. Andy Dahananto

2. Kopilot: Farhan.

3. FOO: Hariadi

4. Engineer 1: Restu Adi

5. Engineer 2: Dwi Murdiono

6. Pramugari 1: Florencia Lolita

7. Pramugari 2: Esther Aprilita

Sementara itu, identitas tiga orang penumpang yang turut berada di dalam pesawat adalah Deden, Ferry, dan Yoga.

Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan upaya maksimal untuk melacak keberadaan seluruh awak dan penumpang pesawat tersebut.

Titik Koordinat Terakhir di Bantimurung

Arif mengaku sudah mengerahkan personel ke titik kontak terakhir pesawat IAT tersebut berdasarkan data koordinat yang dikirim oleh Airnav Makassar.

Lokasi terakhir pesawat terdeteksi berada di daerah Taman Nasional Bantimurung. 

"Di mana titik duga setelah kami plot koordinat terakhir yang diberikan oleh pihak ATC itu mengarah di daerah Bantimurung dan sekitarnya. Nah tim kami tadi sudah sampai di sana dan sudah membuat satu posko SAR gabungan di daerah Bantimurung," tuturnya.

Selain pengerahan tim darat, Basarnas juga telah meminta bantuan kepada TNI AU untuk mengerahkan Helikopter Caracal.

Helikopter ini diharapkan bisa membantu proses observasi dari udara guna mempercepat penemuan lokasi pesawat di medan pegunungan.

"Selain itu Caracal juga bisa digunakan untuk evakuasi melalui udara," ucap Arif.

Hingga saat ini, tim SAR gabungan belum menemukan tanda-tanda keberadaan badan pesawat maupun kondisi para korban. Proses pencarian masih terus dilakukan dengan menyisir area koordinat terakhir.

"Kami berdoa secepatnya bisa kita temukan pesawatnya dan korbannya masih bisa kita selamatkan," ujar Arif.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.