TRIBUNBENGKULU.COM - Sebuah pesawat tipe ATR 42-500 dilaporkan hilang kontak saat melintas di wilayah Maros, Sulawesi Selatan.
Pesawat yang membawa 11 penumpang tersebut diketahui disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sehingga insiden ini langsung mendapat perhatian serius dari otoritas penerbangan dan instansi terkait.
Pesawat ATR 42-500 tersebut dilaporkan kehilangan komunikasi dengan petugas pengatur lalu lintas udara saat dalam penerbangan di wilayah Kabupaten Maros.
ATR 42-500 dikenal sebagai pesawat bermesin turboprop yang kerap digunakan untuk penerbangan jarak pendek hingga menengah, termasuk di wilayah kepulauan dan daerah dengan bandara terbatas.
Pesawat jenis ini juga sering dimanfaatkan untuk penerbangan perintis maupun penerbangan khusus instansi pemerintah.
Pesawat ATR 42-500 atau Avions de Transport Regional merupakan pesawat yang banyak digunakan untuk penerbangan regional, termasuk di Indonesia. Pesawat turboprop ini dirancang untuk melayani rute jarak pendek hingga menengah, terutama di wilayah dengan kondisi bandara terbatas.
Baca juga: Tabiat Rylan Henry Pribadi, Sikapnya Merakyat Meski Cucu Konglomerat, Kini Tewas Tragis di Jepang
ATR 42-500 mampu mengangkut hingga 42 penumpang dan diproduksi melalui kerja sama dua perusahaan dirgantara Eropa, yakni Aerospatiale dari Prancis dan Alenia dari Italia. Desainnya dikenal andal dan efisien untuk operasional penerbangan regional.
Dari sisi performa, ATR 42-500 dibekali mesin Pratt & Whitney Canada PW127E yang lebih bertenaga, dengan daya mencapai 2.400 horsepower atau sekitar 1.790 kW per mesin. Selain itu, pesawat ini menggunakan baling-baling enam bilah berukuran lebih besar yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar dan performa lepas landas.
Dibandingkan seri sebelumnya, ATR 42-500 memiliki jarak tempuh yang lebih jauh, mencapai sekitar 1.500 kilometer atau 810 nautical mile (nm). Keunggulan inilah yang membuat pesawat ini banyak dipilih oleh maskapai maupun instansi pemerintah untuk mendukung mobilitas antardaerah.
Dilansir dari Kompas.com, Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan hilang kontak saat berada di wilayah pegunungan Leang-Leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada Sabtu (17/1/2026).
Pesawat tersebut dikabarkan membawa total 11 orang yang terdiri dari delapan kru dan tiga penumpang.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Makassar, Muh Arif Anwar menyebut pesawat tersebut sedang dalam status disewa oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP).
Pesawat terbang dari Yogyakarta menuju Makassar dan dijadwalkan mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin pada Sabtu siang.
"Kami menerima info dari Airnav Makassar bahwa telah terjadi satu pesawat jenis ATR 400 milik IAT (Indonesia Air Transport) yang dioperasikan oleh atau disewa oleh KKP seperti itu. Jumlah penumpang 11 orang, di mana 8 kru dan 3 penumpang yang ikut di atas on board," ujar Arif kepada wartawan, Sabtu (17/1/2026).
Berdasarkan data manifes yang dihimpun, terdapat delapan orang kru pesawat yang bertugas dalam penerbangan tersebut, yakni:
1. Pilot: Capt. Andy Dahananto
2. Kopilot: Farhan.
3. FOO: Hariadi
4. Engineer 1: Restu Adi
5. Engineer 2: Dwi Murdiono
6. Pramugari 1: Florencia Lolita
7. Pramugari 2: Esther Aprilita
Sementara itu, identitas tiga orang penumpang yang turut berada di dalam pesawat adalah Deden, Ferry, dan Yoga.
Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan upaya maksimal untuk melacak keberadaan seluruh awak dan penumpang pesawat tersebut.
Arif mengaku sudah mengerahkan personel ke titik kontak terakhir pesawat IAT tersebut berdasarkan data koordinat yang dikirim oleh Airnav Makassar.
Lokasi terakhir pesawat terdeteksi berada di daerah Taman Nasional Bantimurung.
"Di mana titik duga setelah kami plot koordinat terakhir yang diberikan oleh pihak ATC itu mengarah di daerah Bantimurung dan sekitarnya. Nah tim kami tadi sudah sampai di sana dan sudah membuat satu posko SAR gabungan di daerah Bantimurung," tuturnya.
Selain pengerahan tim darat, Basarnas juga telah meminta bantuan kepada TNI AU untuk mengerahkan Helikopter Caracal.
Helikopter ini diharapkan bisa membantu proses observasi dari udara guna mempercepat penemuan lokasi pesawat di medan pegunungan.
"Selain itu Caracal juga bisa digunakan untuk evakuasi melalui udara," ucap Arif.
Hingga saat ini, tim SAR gabungan belum menemukan tanda-tanda keberadaan badan pesawat maupun kondisi para korban. Proses pencarian masih terus dilakukan dengan menyisir area koordinat terakhir.
"Kami berdoa secepatnya bisa kita temukan pesawatnya dan korbannya masih bisa kita selamatkan," ujar Arif.