Grid.ID – Kepergian Rylan Henry Pribadi, cucu dari pengusaha senior Henry Pribadi, meninggalkan duka yang mendalam. Di balik sosoknya yang dikenal santun, terungkap sebuah impian besar yang menjadi "wasiat" sekaligus keinginan terakhir remaja berusia 17 tahun tersebut sebelum berpulang akibat kecelakaan ski di Jepang.
Dalam upacara peringatan yang berlangsung khidmat, sang ayah, Reza Pribadi, membagikan kenangan tentang betapa besarnya kecintaan Rylan terhadap olahraga salju. Kecintaan ini bahkan membuat Rylan memiliki rencana besar untuk masa depan pendidikannya.
Impian Kuliah di Jenewa Demi Mengejar Salju
Rylan bukan sekadar pemain ski amatir. Ia telah menekuni olahraga ini sejak usia 3 tahun dan sudah mencapai level advanced. Gairahnya terhadap ski tercermin dalam kesehariannya; mulai dari tontonan di YouTube hingga konten yang ia unggah di media sosial.
Hasrat ini begitu kuat hingga Rylan sempat membujuk orang tuanya agar diizinkan menempuh studi di Swiss.
"Dia bahkan mencoba membujuk kami untuk mengirimnya kuliah ke Jenewa agar dia bisa dengan mudah mengakses beberapa lereng ski terbaik di dunia," kenang Reza Pribadi seperti dikutip Grid.ID dari Youtube Atoe mtvm, Sabtu (17/1/2026).
Bagi Rylan, ski adalah satu-satunya hal yang bisa membuatnya bangun paling awal tanpa perlu dibangunkan. Jika biasanya ia sulit beranjak dari tempat tidur, saat liburan ski, ia menjadi orang pertama yang sudah berpakaian lengkap dan siap meluncur ke lereng salju.
Klarifikasi Kematian Rylan
Menanggapi simpang siur informasi mengenai penyebab kecelakaan di Niseko, Jepang, pihak keluarga memberikan klarifikasi tegas. Reza menekankan bahwa putranya adalah remaja yang patuh dan tidak sedang melakukan tindakan berbahaya saat insiden terjadi.
"Kami ingin mengklarifikasi bahwa Rylan melakukan hal yang benar. Kami sudah melarangnya untuk bermain di luar jalur (off-piste), dan dia mematuhi itu," tegas Reza.
Meski penyebab pasti kecelakaan tersebut masih meninggalkan tanda tanya besar bagi keluarga, mereka mengaku merasa terhibur karena Rylan pergi saat sedang melakukan hal yang paling ia cintai di dunia.
Perjalanan Terakhir Menuntaskan Keinginan Terakhir
Seolah menjadi firasat, sesaat sebelum kepergiannya, Rylan sempat menjalani perjalanan berdua saja dengan sang ayah yang disebut sebagai 'Father-Son Trip'. Dalam waktu 12 hari yang sangat berharga tersebut, mereka menghabiskan waktu berkualitas di Eropa.
Bukan sekadar jalan-jalan, perjalanan itu menjadi momen Rylan menuntaskan daftar keinginannya (bucket list). Mereka mengunjungi stadion-stadion impian Rylan dan menonton klub favoritnya berlaga, mulai dari Chelsea vs Arsenal di London hingga Real Madrid vs Manchester City di Madrid.
"Seluruh perjalanan itu merangkum 17 tahun hidupnya bersama saya. Saya merasa kami memperbarui hubungan dekat yang selalu kami miliki tanpa gangguan," ungkap sang ayah.
Keikhlasan Keluarga Melepas Kepergian Rylan
Meski Rylan meninggal dunia secara mendadak, keluarga telah mengikhlaskan kepergian remaja 17 tahun tersebut. Sang ayah juga merasa lega putranya berpulang saat melakukan hobi yang dicintainya.
"Kecelakaan Rylan bukanlah hal yang biasa terjadi dalam kecelakaan ski, dan kami akan selalu bertanya-tanya tentang bagaimana dan mengapa hal itu bisa terjadi. Namun, kami merasa terhibur karena dia pergi saat sedang melakukan apa yang paling dia cintai," tutur ayah Rylan.
"Saya akan merindukan rekan petualangan dan rekan ski saya. Tapi saya tahu, dia akan baik-baik saja di sana," tutup Reza.